SULTRATOP.COM, KONAWE SELATAN – Supriadi (45) menatap satu per satu bubu yang baru diangkat dari perairan mangrove Desa Torokeku, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Harapan menemukan kepiting bakau berukuran besar kembali pupus.
Di dalam perangkap itu hanya tersisa beberapa ekor kepiting kecil yang nilai jualnya jauh dari cukup untuk menutupi biaya melaut. Bagi nelayan keturunan Bajo tersebut, pemandangan seperti itu kini menjadi kenyataan yang semakin sering ditemui sejak kawasan pesisir desanya dikepung aktivitas pertambangan nikel.
Di tengah hasil tangkapan yang terus menurun, mereka juga harus menghadapi biaya bahan bakar yang kian mahal untuk mencari sumber penghidupan lebih jauh ke tengah laut.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat Torokeku beberapa tahun silam. Sebelum aktivitas pertambangan berkembang di wilayah tersebut, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari budi daya rumput laut.
Hasil rumput laut mereka tidak sedikit. Penghasilan puluhan juta hingga ratusan juta rupiah pernah dirasakan para pembudi daya, menjadikan Torokeku sebagai salah satu sentra rumput laut yang turut berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
Namun kejayaan itu perlahan memudar. Sejak eksplorasi dan aktivitas pertambangan nikel mulai berlangsung di sekitar wilayah pesisir desa mereka pada 2017, masyarakat mengaku perubahan mulai terlihat. Rumput laut yang dahulu tumbuh subur semakin sulit dibudidayakan, sementara sebagian nelayan beralih menjadi pencari kepiting bakau, udang, ikan, dan cumi-cumi untuk menyambung hidup.
Supriadi adalah salah satunya. Kini ia mengandalkan ratusan bubu yang dipasang di kawasan mangrove untuk menangkap kepiting bakau. Teknik tradisional itu dilakukan dengan memasang perangkap berbentuk lingkaran yang diberi umpan potongan ikan di area yang biasa menjadi habitat kepiting.
“Kalau ke sini biasanya dua hari sekali pasang bubu, itu pun hasilnya tidak bagus. Rata-rata yang didapat ukuran kecil, jarang sekali yang besar. Makanya saya hitung hari yang cocok baru melaut. Kalau nelayan lain hampir setiap hari pasang bubu, saya biasanya pindah-pindah spot,” ujar Supriadi saat ditemui Sultratop.com, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, nelayan masih diperbolehkan mencari hasil laut di sekitar jetty (dermaga) milik salah satu perusahaan tambang. Jetty yang hanya berjarak 2,5 kilometer dari Desa Torokeku. Namun di balik kebebasan itu, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Laut tak lagi jernih, ikan-ikan karang perlahan berkurang.
Ia mengenang masa ketika laut di sekitar Torokeku masih jernih. Dari atas perahu, gerombolan ikan dapat terlihat dengan jelas, sementara hamparan rumput laut tumbuh sehat di sepanjang perairan pesisir.
“Sekarang sudah tidak jernih lagi. Air laut berpasir sekali jadi kabur. Ada hubungannya kayaknya dengan kegiatan tambang,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Supriadi hanya fokus memburu komoditas yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti kepiting, udang, ikan, dan cumi. Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, ia sering kali harus melaut lebih jauh dari kawasan pesisir desa.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Selain membutuhkan tenaga lebih besar, biaya bahan bakar juga terus membebani penghasilannya yang tidak menentu.
“Kalau saya cuma punya 250 bubu untuk menjaring hasil laut. Tapi kondisi pesisir bakau yang dekat lokasi jetty sudah tidak bagus. Mau melaut jauh, BBM mahal, belum tentu juga dapat hasil banyak. Belakangan ini lebih sering rugi,” ungkapnya sambil melepaskan kepiting berukuran kecil dari perangkap.
Bagi nelayan Torokeku, perubahan yang terjadi bukan sekadar soal menurunnya hasil tangkapan. Mereka merasa ruang hidup yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan perlahan menyempit.
Di antara deretan kapal tongkang yang mengangkut material nikel dan aktivitas industri yang terus berkembang, para nelayan seperti Supriadi justru yang paling terdampak. Dari waktu ke waktu mereka terus terdesak dan suara mereka seolah tenggelam di balik gemuruh mesin, suara truk pengangkut ore, dan hiruk-pikuk industri yang terus bergerak tanpa henti. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma


















