17 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kisah Risna, Guru Honorer yang Menjaga Asa Pendidikan Anak Suku Bajo di Konawe Selatan

  • Bagikan
Kisah Risna, Guru Honorer yang Menjaga Asa Pendidikan Anak Suku Bajo di Konawe Selatan
Risna (34), guru honorer Taman Kanak-Kanak (TK) Nur Aqila Torokeku Indah yang menjaga semangat pendidikan anak-anak pesisir meskipun gaji sangat minim. (Foto: Istimewa)

SULTRATOP.COM, KONAWE SELATAN – Di tengah hamparan laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir Desa Torokeku, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, seorang perempuan bernama Risna (34) memilih mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak suku Bajo.

Selama sembilan tahun, guru honorer di TK Nur Aqila Torokeku Indah itu tetap mengajar dengan penuh dedikasi meski hanya menerima honor sekitar Rp160 ribu per bulan. Baginya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk meninggalkan dunia pendidikan yang telah menjadi panggilan hidupnya.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Mayoritas warga Desa Torokeku berasal dari suku Bajo yang menggantungkan hidup sebagai nelayan. Tak jarang mereka berlayar jauh hingga ke perairan Laut Flores dan Laut Banda untuk mencari ikan. Kondisi tersebut membuat pendidikan sering kali menjadi prioritas kedua setelah kebutuhan ekonomi keluarga.

Risna menyaksikan sendiri bagaimana banyak anak di wilayah itu harus berhenti sekolah sejak usia dini. Sebagian hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah dasar, bahkan ada yang putus sekolah sebelum lulus demi mengikuti orang tua mencari nafkah di laut.

“Di sini, kalau sudah punya perahu dan mesin, banyak yang memilih tetap melaut karena hasilnya dianggap lebih menjanjikan dibanding bekerja di darat,” ungkap Risna ditemui awak sultratop.com pada 6 Juni 2026.

Menurutnya, masih banyak orang tua yang menganggap kemampuan membaca dan menulis sudah cukup bagi anak-anak mereka. Akibatnya, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sering kali tidak menjadi prioritas.

“Bisa dikatakan, yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi masih sangat sedikit. Alhamdulillah, beberapa ada yang menjadi tenaga pendidik dan bidan,” katanya.

Selain rendahnya angka partisipasi pendidikan, Risna juga menyoroti fenomena perkawinan usia anak yang masih kerap terjadi. Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari putus sekolah dan minimnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan.

Perjuangan Risna tidak berhenti di ruang kelas. Ia bahkan harus mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak anak-anak kembali bersekolah.

Pada awal tahun ajaran, jumlah murid yang terdaftar mencapai 34 orang. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah kehadiran terus menurun hingga hanya tersisa sekitar sembilan anak yang rutin datang belajar.

“Awalnya mereka sangat antusias karena mendapat seragam dan alat tulis dari pemerintah desa. Tetapi setelah beberapa hari, semangat belajar mulai berkurang. Kami sampai harus menjemput mereka ke rumah agar mau kembali ke sekolah,” tuturnya sambil tersenyum mengingat tingkah lucu para murid.

Berbagai cara dilakukan agar anak-anak tetap bersemangat belajar. Program makan bergizi gratis (MBG), misalnya, menjadi salah satu daya tarik yang membantu meningkatkan kehadiran siswa di sekolah.

Kisah Risna, Guru Honorer yang Menjaga Asa Pendidikan Anak Suku Bajo di Konawe Selatan
Setelah melaksanakan aktivitas mengajar di sekolah, Risma (34) menyusun tumpukan ikan untuk diberikan ke warga wilayah darat. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Di balik segala keterbatasan yang dihadapi, Risna tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk membuka peluang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak pesisir.

Usai mengajar, ia masih membantu aktivitas ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Namun kesibukan itu tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terus mendampingi generasi muda suku Bajo mengenal dunia pendidikan.

Bagi Risna, setiap anak berhak memiliki mimpi yang lebih besar daripada batas-batas yang selama ini mengurung mereka. Dan selama masih ada kesempatan untuk mengajar, ia akan terus menjaga nyala harapan itu tetap hidup di Desa Torokeku. (A/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan