27 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kisah Feni, Nenek 70 Tahun yang Bertahan dengan Kerajinan Bambu di Kendari Sejak Era 1980-an

  • Bagikan
Kisah Feni, Nenek 70 Tahun yang Bertahan dengan Kerajinan Bambu di Kendari Sejak Era 1980-an
Nenek Feni (70) yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih setia menekuni kerajinan bambu. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Di rumah sederhananya, Feni (70) menghabiskan masa tua dengan ditemani bilah-bilah bambu yang tersusun rapi di sudut ruangan. Meski usia tak lagi muda, jemarinya masih cekatan menganyam, merangkai setiap potongan bambu menjadi beragam kerajinan tradisional yang kokoh dan bernilai guna.

Kerajinan bambu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup perempuan asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu sejak merantau ke Kendari pada era 1980-an. Dari tangan terampilnya lahir berbagai perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan masyarakat, seperti sapu lidi, sapu laba-laba, kurungan ayam, tirai bambu, perangkap ikan (bubu), hingga keranjang ayam.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Di usia senjanya, ia terus bertahan menekuni usaha turun-temurun tersebut, bahkan mewariskan keterampilannya kepada anak dan menantu agar warisan budaya sekaligus mata pencaharian keluarga tidak hilang ditelan zaman.

Feni telah mengenal kerajinan bambu sejak remaja. Keahlian itu diwarisi dari sang ibu dan terus ia tekuni hingga dewasa. Setelah menikah, ia bersama suaminya memutuskan merantau ke Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mencari penghidupan yang lebih baik dengan mengandalkan keterampilan mengolah bambu.

“Pertama kali tinggal di Kota Kendari pada era 80-an bersama suami. Bisa dikatakan pengrajin pertama di daerah ini sudah kamilah orangnya,” katanya kepada awak media, Sabtu (27/6/2026).

Kini, Feni tak lagi mengerjakan seluruh proses pembuatan kerajinan seorang diri. Anak dan menantunya mengambil peran lebih besar dalam memenuhi pesanan pelanggan, sekaligus membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya pendidikan cucunya.

“Dulu almarhum suami yang banyak membantu mengerjakan berbagai kerajinan sesuai pesanan. Sekarang anak saya lebih banyak berperan. Kalau ada yang pesan kerajinan, dia dan istrinya yang mengerjakan bambu,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski harus bersaing dengan produk modern dan menghadapi kelangkaan bahan baku bambu dari Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan, Feni tetap optimistis kerajinan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Menurutnya, permintaan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk dijual kembali di pasar masih terus ada, meski tidak seramai dulu.

“Beberapa tahun terakhir pelanggan di beberapa kabupaten berhenti membeli kerajinan. Ya maklum, tidak setiap hari dicari. Selain itu, yang menjadi tantangan sebenarnya hujan, karena bambu basah tidak bisa dikerjakan,” ungkapnya.

Bagi Feni, setiap ruas bambu bukan sekadar bahan baku, melainkan harapan untuk mempertahankan hidup keluarga. Di tengah berbagai keterbatasan, ia terus menjaga warisan keterampilan yang telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

Adapun harga kerajinan yang dijual Feni di kediamannya di Jalan Wayong Bypass, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, antara lain sapu lidi seharga Rp10 ribu, sapu laba-laba Rp30 ribu, wala saji Rp300 ribu, kurungan ayam Rp60 ribu hingga Rp100 ribu, tirai bambu Rp160 ribu hingga Rp300 ribu, perangkap ikan (bubu) Rp150 ribu, serta tempat bertelur ayam Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. (A/ST)

 

Laporan: Bambang Sutrisno

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan