SULTRATOP.COM, KENDARI – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) belum menghentikan operasional penerbangan di Bandara Haluoleo. Hingga Senin (12/10/2026) sore, jarak pandang di bandara tersebut tercatat mencapai 4 kilometer atau 4.000 meter.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Haluoleo, Denny Ariyanto, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kabut asap dan kondisi jarak pandang untuk memastikan operasional penerbangan tetap memperhatikan aspek keselamatan.
Berdasarkan informasi AirNav Indonesia Kantor Cabang Kendari, batas minimum jarak pandang untuk pendaratan menggunakan fasilitas Instrument Landing System (ILS) yang disampaikan berada pada angka 2.100 meter atau 2,1 kilometer. Dengan jarak pandang yang mencapai 4 kilometer, kondisi di Bandara Haluoleo masih berada di atas ambang tersebut.
“Kami terus memantau perkembangan kondisi jarak pandang dan berkoordinasi dengan AirNav Indonesia serta pihak terkait. Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, dan operasional penerbangan senantiasa mengacu pada kondisi aktual serta ketentuan keselamatan yang berlaku,” kata Denny.
Meski penerbangan tetap beroperasi, kondisi kabut asap masih menjadi perhatian karena jarak pandang dapat berubah sewaktu-waktu, terutama jika konsentrasi asap semakin meningkat.
Pihak bandara terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia dan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi tersebut. Sementara itu, masyarakat yang hendak bepergian melalui Bandara Haluoleo diimbau untuk memantau informasi jadwal dan status penerbangan melalui maskapai masing-masing.
Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9, kabut asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sultra sejak dini hari hingga pagi. Kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga sore dan malam hari, dengan jarak pandang di beberapa wilayah dilaporkan kurang dari 5 kilometer.
Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan sebaran asap masih berpotensi meluas dan semakin pekat sehingga dapat menyebabkan penurunan jarak pandang.
Dari sisi kualitas udara, konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah Sultra umumnya berada pada kategori sedang, dengan rentang konsentrasi 15,5–55,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Pola kondisi tersebut diperkirakan masih berpotensi berulang dalam beberapa hari ke depan.
Selain itu, pada Senin (12/10/2026), pukul 00.00–12.00 Wita, terpantau sebanyak 20 titik panas (hotspot) di wilayah Sultra dengan tingkat kepercayaan sedang.
Berdasarkan pola angin regional, angin bertiup dari arah tenggara hingga selatan. Kondisi ini memungkinkan asap yang menyelimuti Sultra tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah kabupaten dan kota setempat, tetapi juga terbawa dari luar provinsi, termasuk Papua Selatan dan Maluku.
Di tengah potensi meluasnya sebaran asap, pemantauan kondisi atmosfer dan jarak pandang menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk operasional penerbangan di Bandara Haluoleo. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati





















