SULTRATOP.COM, KENDARI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2026 semakin mendominasi beberapa wilayah. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering.
Berdasarkan pantauan pos hujan di Sultra, hari tanpa hujan (HTH) selama 40 hari terjadi di Kota Kendari dan sekitarnya. Lalu di beberapa wilayah HTH sepanjang 60 hari di Kabupaten Bombana, Buton Selatan, Muna, Muna Barat, sebagian Kolaka, sebagian Konawe Selatan hingga Kota Bau-Bau.
Koorinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie mengatakan, bahwa suhu udara minimum tercatat di kisaran 18°C dan 21°C, untuk suhu maksimum berkisar 31°C sampai 33°C, dan kelembaban berada antara 45 hingga 95 persen.
“Walaupun di beberapa pos sudah terjadi hujan dengan skala lokal dan intensitas ringan, kondisi tetap berdampak langsung serta pengurangan secara signifikan volume air baik di permukaan maupun di dalam tanah,” kata Faizal Habibie kepada Sultratop.com pada 9 September 2026.
Di sisi lain, vegetasi tanaman akan mengalami stres dedaunan, batang dan akar akan mengering, mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat sampai terhenti.
Ketika dampak kekeringan ini mempengaruhi vegetasi tanaman akan memudahkan terjadinya kebakaran. Namun, kebakaran bukan hanya faktor tanaman kering tetapi ada pemantik api, seperti halnya puntung rokok sengaja dibuang ataupun pembakaran yang disengaja dapat menyebabkan lonjakan api membesar dan mudah menyebar.
Dari hasil pantau satelit Himawari-9 pada tanggal 8 September 2026, BMKG mencatat penyebaran titik api nyaris merata di Bumi Anoa dengan jumlah 216 sebaran, antara lain wilayah paling mendominasi Kabupaten Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, pulau Muna, dan pulau Buton.
Sebagai informasi, pola perluasan tersebut akan terus bertambah seiring HTH yang semakin lama.
“BMKG Provinsi Sulawesi Tenggara mengimbau kepada masyarakat, bahwa bulan Agustus dan September 2026 ini adalah puncak dari musim kemarau dan awal musim hujan. Kemudian, kami juga memprediksi bulan November hingga Desember 2026 warga wajib meningkatkan kewaspadaan atau kehati-hatian akan dampak dari kekeringan terus ditingkatkan agar dampaknya bisa diminimalisir dengan baik,” jelas Faizal Habibie.
Informasi yang dihimpun Sultratop.com, Sabtu (12/9/2026), wilayah dengan curah hujan kurang dari 50 mm/dasarian dominan di Sumatra bagian selatan hingga Sulawesi Tenggara. Kondisi ini mengindikasikan masih terbatasnya ketersediaan uap air di atmosfer, yang berkaitan dengan pengaruh El-Nino kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
IOD merupakan fenomena perubahan suhu muka laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur yang dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Pada fase IOD positif, perairan Samudra Hindia bagian barat cenderung lebih hangat dibandingkan bagian timur di sekitar Indonesia.
Kondisi tersebut dapat mengurangi pembentukan awan dan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga berpotensi memperkuat kondisi kering.
Fenomena El-Nino dan IOD positif tersebut, secara umum mendukung pengurangan suplai kelembapan menuju wilayah Indonesia sehingga kondisi kering masih berpotensi berlanjut. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma




















