7 October 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kades Lindo Bantah Dugaan Penganiayaan, Akui Bawa Parang untuk Lindungi Diri

  • Bagikan
Kades Lindo Bantah Dugaan Penganiayaan, Akui Bawa Parang untuk Lindungi Diri
Armaya

SULTRATOP.COM, MUNA BARAT — Kepala Desa Lindo, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat, Armaya, angkat bicara terkait laporan dugaan penganiayaan yang menyeret namanya. Kasus tersebut kini telah naik ke tahap penyidikan di Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Muna (Satreskrim Polres Muna).

Armaya membantah tudingan telah melakukan penganiayaan sebagaimana yang dilaporkan. Ia menyebut laporan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan menurut versinya.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Oktober 2026

“Tuduhan yang dilaporkan ke polisi itu tidak benar, 100 persen fitnah. Saya tidak melakukan penganiayaan. Saya memang membawa parang sebagai pelindung diri saja,” tegas Armaya saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (7/10/2026).

Armaya kemudian membeberkan kronologi kejadian yang berlangsung pada malam 24 Agustus 2026. Menurutnya, saat itu sekelompok orang datang dan melakukan penyerangan terhadap rumah warga Desa Lindo.

Ia menyebut, awalnya terdapat sekitar empat orang yang datang menyerang. Tak lama kemudian, datang kelompok lain yang diperkirakan berjumlah sekitar 50 orang.

Menurut Armaya, kelompok tersebut melempari rumah warga hingga menyebabkan sejumlah kaca pecah. Beberapa fasilitas umum juga disebut mengalami kerusakan, seperti lampu jalan dan pos ronda.

“Yang benar itu merekalah (warga Desa Lembo) sebagai tersangka. Karena mereka pelaku pengrusakan. Pada malam itu, mereka menyerang dan merusak rumah warga dan fasilitas desa. Kejadiannya di wilayah Desa Lindo,” jelasnya.

Armaya mengatakan, dirinya baru mengetahui pada keesokan paginya bahwa terdapat sejumlah warga yang diduga terlibat dalam penyerangan mengalami luka.

Ia mengaku tidak mengetahui siapa yang menyebabkan luka tersebut maupun secara pasti di mana warga tersebut mengalami luka. Namun, Armaya menduga luka itu terjadi di halaman rumah warga Desa Lindo karena kelompok yang datang disebut masuk melalui bagian belakang rumah, bukan melalui jalan raya.

“Saya benar-benar tidak tahu siapa yang lukai dan dia luka di mana. Saya menduga dia luka dalam kintal, karena di jalan raya tidak ada kejadian apa-apa. Tidak ada kontak fisik di jalan raya,” katanya.

Armaya menambahkan, situasi kembali memanas pada keesokan paginya. Saat itu, menurut dia, terjadi aksi saling lempar batu dari depan maupun belakang rumah warga.

“Kejadian tawuran baku lempar batu lewat depan, dan ada pula lewat belakang. Bukti-bukti rumah warga Desa Lindo rusak, seperti kaca pecah, atap rumah penyok, lampu jalan rusak, dan pos ronda rusak,” ujarnya.

Terkait tudingan membawa senjata tajam berupa parang, Armaya tidak membantah. Ia mengakui membawa parang saat situasi di desanya sedang mencekam.

Namun, menurutnya, parang tersebut dibawa semata-mata untuk melindungi diri dan tidak digunakan untuk menyerang siapa pun.

Armaya mengaku sempat menghubungi aparat kepolisian saat situasi mulai memanas. Namun, menurut dia, hampir dua jam setelah dihubungi, aparat belum tiba di lokasi.

“Saya telepon nomor handphone Pak Kapolsek tidak aktif. Kemudian, saya hubungi anggotanya aktif, namun pada saat itu anggota tersebut sedang tidak piket. Sehingga, saya membawa parang dan tidak mengganggu siapa-siapa sampai saya pulang ke rumah,” tuturnya.

Ia menegaskan, sebagai kepala desa, dirinya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayahnya.

Armaya juga mempertanyakan mengapa dirinya tidak langsung ditindak apabila membawa parang tersebut dianggap sebagai pelanggaran. Sebab, menurut pengakuannya, polisi akhirnya datang ke lokasi dan melihat dirinya membawa parang.

“Saat saya pegang parang, saat itu ada polisi. Kalau kemudian saya melanggar karena membawa sajam, mestinya polisi di lokasi yang datang setelah dua jam kejadian membiarkan saya pulang ke rumah. Harusnya mereka (polisi) tindaki saya di lokasi. Justru kami hanya cerita-cerita saja,” tuturnya.

Armaya kembali menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan penganiayaan maupun mengganggu warga pada malam kejadian. Ia justru mengklaim dirinya berada dalam posisi sebagai pihak yang desanya diserang. (B/ST)

Laporan: Adin
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan