SULTRATOP.COM – Kabupaten Bombana menjadi wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah di Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sultra, luas lahan yang terbakar di Bombana mencapai 1.913,64 hektare atau lebih dari separuh total lahan terbakar di Provinsi Sultra yang mencapai 2.376,94 hektare.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sultra, La Ode Saifuddin mengatakan, tingginya luasan lahan terbakar di Bombana menjadi perhatian pemerintah daerah. Karena itu, sejumlah peralatan pemadaman disiapkan dan didistribusikan ke wilayah tersebut, termasuk sarana untuk menyuplai air.
“Bombana menjadi wilayah dengan luasan terbakar paling besar, sehingga peralatan pemadaman kita berikan di sana, termasuk sarana untuk menyuplai air,” kata Saifuddin di Kantor Gubernur Sultra, Rabu (26/8/2026).
Setelah Bombana, wilayah yang mencatat luasan karhutla cukup besar yakni Kabupaten Kolaka dengan 224,74 hektare lahan terbakar. Selanjutnya Konawe Selatan 124,93 hektare, Muna Barat 84,15 hektare, Kolaka Timur 59,84 hektare, Konawe 53,09 hektare, Buton Selatan 27,65 hektare, Konawe Utara 26,04 hektare, Wakatobi 20,33 hektare, dan Buton Tengah 17,12 hektare.
Saifuddin menjelaskan, total luasan lahan terbakar di Sultra tersebut tercatat dari 224 titik hotspot atau titik panas yang terdeteksi sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Puncak kejadian karhutla terjadi pada Juli 2026. Pada bulan tersebut, terdeteksi 105 titik hotspot yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bombana.
“Sepanjang Juli, luas lahan terbakar mencapai 1.586,59 hektare atau sekitar 66,8 persen dari total luasan lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli,” ujarnya.
Menurut Saifuddin, tingginya jumlah titik hotspot dan luasan lahan terbakar tersebut menunjukkan potensi karhutla di Sultra perlu mendapat perhatian dan diantisipasi lebih serius, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Kondisi ini menunjukkan potensi Karhutla perlu diantisipasi lebih serius,” kata Saifuddin.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi Sultra menyiagakan mobil tangki air di sejumlah wilayah yang dinilai rawan terjadi karhutla.
Selain itu, Pemprov Sultra menyiapkan 22 unit alkon atau pompa air sentrifugal portabel untuk didistribusikan ke sejumlah daerah rawan kebakaran.
Sebanyak 22 unit alkon tersebut terdiri dari dua unit untuk Kolaka Timur, dua unit Kolaka, lima unit Konawe Selatan, lima unit Bombana, dan empat unit untuk Kendari.
Khusus Bombana, Pemprov Sultra juga menyiapkan alkon jinjing untuk mempercepat proses penanganan kebakaran di lapangan. Peralatan tersebut dinilai lebih praktis karena dapat dibawa mendekati lokasi kebakaran dan dioperasikan oleh masyarakat.
“Alkon jinjing lebih praktis karena bisa dibawa mendekati lokasi kebakaran dan dioperasikan dengan lebih mudah oleh masyarakat,” jelas Saifuddin.
Dukungan penanganan karhutla juga datang dari pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS). Sebanyak 27 unit alkon disiapkan untuk mendukung proses pemadaman di sejumlah wilayah di Sultra.
Bantuan tersebut ditempatkan di beberapa daerah, yakni lima unit di Muna Barat, dua unit di Baubau, tiga unit di Kolaka, 10 unit di Kolaka Timur, dua unit di Konawe, satu unit di Konawe Selatan, serta empat unit lainnya berada di Workshop Kendari.
Dengan tingginya luasan lahan terbakar, khususnya di Bombana, pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan dan dukungan peralatan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi karhutla. (B/ST)
Laporan: M11
Editor: Muhamad Taslim Dalma



















