SULTRATOP.COM, KENDARI – Mahasiswa Papua di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi sasaran penyerangan oleh orang tidak dikenal (OTK) pada Selasa (25/8/2026) dini hari. Penyerangan terjadi sekitar pukul 02.30 Wita seusai mereka menggelar ibadah dan syukuran di salah satu rumah kontrakan di Jalan HEA Mokodompit/Lorong Pelindung Nomor 2, Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu.
Seorang mahasiswa Papua, Kom Yanto, mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti motif penyerangan tersebut. Ia memastikan komunitas mahasiswa Papua selama ini mematuhi ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtibmas) di lingkungan tempat mereka bermukim.
Menurut Yanto, tidak ada persoalan maupun perselisihan antara mahasiswa Papua dengan pihak luar yang diketahui sebelum kejadian tersebut.
Ia menuturkan, penyerangan awalnya terjadi ketika mahasiswa sedang beraktivitas di dalam kontrakan. Tiba-tiba sebuah batu dilempar dan mengenai atap seng rumah.
Lemparan pertama sempat diabaikan mahasiswa. Namun, tidak lama kemudian kembali terjadi lemparan kedua dan ketiga yang membuat mereka mulai waspada terhadap adanya ancaman.
“Dalam kesaksian para korban, awalnya mereka bangun untuk memasak makanan setelah menyelesaikan berbagai kegiatan. Beberapa waktu berselang, seng rumah kontrakan dilempari batu sebanyak tiga kali,” kata Yanto.
Situasi kemudian semakin tegang. Tidak berselang lama, tiga orang yang diduga sebagai pelaku datang tanpa menutupi wajah dan melepaskan lima mata busur ke arah mahasiswa yang berada di area parkiran.
Para mahasiswa berupaya menghindari serangan tersebut. Mereka kemudian mengejar ketiga OTK hingga para terduga pelaku masuk ke sebuah kontrakan milik orang lain.
Dalam pengejaran tersebut, salah satu terduga pelaku diketahui bersembunyi di kediaman saudarinya untuk meminta pertolongan. Mahasiswa kemudian mengamankan orang tersebut dan menemukan sejumlah barang bukti berupa mata busur.
Yanto juga menyebut terduga pelaku yang diamankan diduga berada dalam pengaruh minuman beralkohol saat kejadian.
Sementara dua terduga pelaku lainnya berhasil melarikan diri. Satu orang yang diamankan kemudian diserahkan kepada polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Dalam pengejaran ini kedua OTK berhasil lolos, satu orang berhasil kita amankan untuk dilaporkan ke polisi. Sembari menanyakan alasan motif penyerangan dan nama pelaku karena sempat membahayakan keselamatan orang lain,” ujar Yanto kepada Sultratop.com.
Adapun mahasiswa yang menjadi korban dalam kejadian tersebut di antaranya Merius Gwijangge (22), Nebunus Nimiangge (21), Yorim Lilbid (20), dan Tingganus Wembe (21).
Yanto berharap aparat penegak hukum menangani kasus tersebut secara serius guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya bagi mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kendari.
Ia juga menyinggung sejumlah kejadian yang menurutnya pernah dialami mahasiswa Papua di Kendari. Pada 2024, mahasiswa Papua juga pernah mengalami penyerangan yang berujung pada penganiayaan.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian agar mahasiswa Papua dapat menjalani aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari dengan aman di Kota Kendari.
Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Kendari, Kompol Welliwanto Malau, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti penyerangan tersebut.
Ia mengatakan motif penyerangan masih didalami. Polisi juga menerima dua laporan yang berkaitan dengan kejadian tersebut, baik dari pihak korban maupun pihak yang diamankan.
“Kami masih lidik ya pak. Belum bisa kami sampaikan detail, biarkan kami bekerja. Intinya, aduan ada dua kami terima baik yang aniaya, dan yang diamankan mereka juga buat laporan juga sudah divisum,” ujar Welliwanto Malau kepada Sultratop.com, Selasa (25/8/2026).
Polisi selanjutnya masih mendalami rangkaian kejadian, termasuk motif penyerangan serta peran masing-masing pihak yang terlibat. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma





















