SULTRATOP.COM, KENDARI – Kematian Randi dan Yusuf masih meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan civitas academica Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Elemen Fakultas Teknik bersama keluarga korban terus berharap proses penegakan keadilan dapat berjalan. Berbagai elemen gerakan mahasiswa juga masih mendesak pemerintah untuk menuntaskan kasus kedua korban.
Tujuh tahun telah berlalu sejak penembakan dan kekerasan yang menewaskan Randi dan Yusuf. Namun, hingga kini, kasus tersebut belum sepenuhnya terungkap.
Mahasiswa menuntut agar kasus tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM), sehingga proses penanganannya dapat terus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Pada Sabtu (26/9/2026) menjelang tengah malam, ratusan mahasiswa Fakultas Teknik UHO berkumpul mengenakan pakaian bernuansa hitam. Mereka mendatangi lokasi kejadian perkara penembakan dan kekerasan aparat di Jalan Haji Abdul Silondae, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari
Sejumlah organisasi kemahasiswaan kemudian bergerak ke beberapa titik dan menggelar aksi di depan Markas Polda Sultra hingga simpang empat Jalan Pos Penjagaan Lalu Lintas Kawasan Pedestrian Eks-MTQ.
Kepergian Randi dan Yusuf masih menyisakan duka bagi keluarga. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan keluarga korban menyampaikan terima kasih atas konsistensi mahasiswa dalam merawat gerakan solidaritas dan mengenang kedua korban.
Meski sebagian mahasiswa angkatan 2026 Fakultas Teknik belum pernah mengenal langsung Randi dan Yusuf, mereka tetap mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari solidaritas dan penghormatan terhadap perjuangan penegakan HAM.
“Untuk memberikan doa kepada kedua almarhum sekaligus pahlawan demokrasi kita. Semoga malam ini doa semua adik-adik dapat dijabah. Semoga kedua almarhum diampuni segala dosa dan perbuatannya serta diberikan tempat terbaik di surga Allah SWT,” kata ibunda Yusuf Kardawi, Endang Yulidah, di hadapan awak Sultratop.com.
Sebagai seorang ibu, Endang mengaku tidak pernah sanggup melupakan kehilangan anak yang disayanginya. Selama beberapa tahun terakhir, ia terus menyaksikan solidaritas mahasiswa yang mengenang dan memperjuangkan penuntasan kasus kematian Yusuf.
Ia juga menyampaikan harapan kepada mahasiswa agar terus mengejar cita-cita dan mendapatkan rida dari orang tua.
“Namun, semua doa saya harus kandas setelah kepergian anakku tercinta. Saya berharap kalian semua tetap menggapai mimpi masing-masing dalam rida orang tua. Caranya cuma satu, harus sukses di bangku kuliah. Malam ini benar-benar menyakitkan bagi saya karena Yusuf mengembuskan napas terakhir,” ucap Endang Yulidah dengan berlinang air mata.
Menteri Pergerakan Fakultas Teknik UHO Kendari, Abdullah, mengatakan mahasiswa dan masyarakat masih menjaga ingatan terhadap perjuangan Randi dan Yusuf. Menurut dia, berbagai elemen mahasiswa dan lembaga lainnya masih terlibat dalam kegiatan solidaritas tersebut.
Ia mengatakan mahasiswa tidak menginginkan kejadian serupa kembali terjadi terhadap aktivis kemahasiswaan maupun masyarakat sipil. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengenang kedua korban sekaligus membahas kepedulian mahasiswa terhadap nilai-nilai perjuangan masyarakat.
“Untuk teman-teman baru sebagai regenerasi selanjutnya, agar mereka paham bahwa kampus tidak hanya ruang belajar, tetapi juga tempat memahami hak asasi manusia, khususnya di Fakultas Teknik. Kita ini punya senior yang sampai rela berkorban nyawa demi mengawal suara rakyat dengan niat menjaga ruang-ruang demokrasi disertai asas keadilan,” jelas Abdullah.
Menurut Abdullah, menjelang satu dekade kepergian Randi dan Yusuf, mahasiswa masih menyuarakan berbagai persoalan yang mereka anggap penting. Fakultas Teknik, kata dia, tetap mengingat peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa tersebut dan akan melanjutkan kegiatan solidaritas.
Informasi yang dihimpun Sultratop.com, Randi (21) tewas saat mengikuti aksi unjuk rasa menentang RUU KUHP pada Kamis, 26 September 2019.
Randi yang merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan UHO Kendari diduga tewas tertembak. Ia mengalami luka pada bagian dada sebelah kanan.
Selain Randi, mahasiswa Fakuktas Teknik UHO bernama Yusuf Kardawi (19) juga turut menjadi korban. Ia ditemukan dalam keadaan kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Dokter Ismoyo dengan kondisi kepala mengalami pendarahan dan harus dioperasi.
Yusuf kemudian dirujuk ke RSUD Bahteramas. Namun pada Jumat (27/9/2019) pagi, Yusuf dinyatakan meninggal dunia. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati



















