8 September 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Musim Kemarau Capai Puncak, Hewan Peliharaan di Kendari Terserang Flu, Batuk hingga Kudis

  • Bagikan
Musim Kemarau Capai Puncak, Hewan Peliharaan di Kendari Terserang Flu, Batuk hingga Kudis
Dokter hewan di Kota Kendari, Annisya Syarifuddin, saat mengobati hewan peliharaan yang sakit.

SULTRATOP.COM, KENDARI – Musim kemarau yang mencapai puncaknya pada September 2026 mulai berdampak pada kesehatan hewan peliharaan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dokter hewan mencatat sejumlah keluhan yang banyak ditemukan selama cuaca panas dan kering, mulai dari flu, batuk, radang tenggorokan hingga gangguan akibat kutu, jamur, dan skabies (kudis).

Dokter hewan di Kota Kendari, Annisya Syarifuddin, mengatakan kondisi cuaca yang ekstrem memang dapat memengaruhi daya tahan tubuh hewan. Perubahan lingkungan juga meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, terutama jika kebersihan dan perawatan hewan tidak diperhatikan.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

“Di musim kemarau ini, khususnya di tempat praktik saya, kebanyakan pasien datang dengan keluhan flu, batuk, dan radang tenggorokan,” kata Annisya kepada SultraTop, Selasa (8/9/2026).

Selain gangguan saluran pernapasan, ia juga cukup sering menangani hewan dengan masalah kutu, jamur, dan skabies. Penyakit akibat virus juga masih ditemukan dan tidak jarang muncul bersamaan dengan penyakit lainnya.

Karena itu, Annisya mengingatkan pemilik hewan atau yang kerap disebut pawrents agar tidak mengabaikan perawatan rutin selama musim kemarau.

Hal paling dasar yang perlu diperhatikan adalah memastikan kebutuhan makanan dan minuman hewan selalu terpenuhi. Air minum harus tersedia cukup untuk membantu mencegah hewan mengalami kekurangan cairan selama cuaca panas.

Lingkungan tempat hewan tinggal juga perlu diperhatikan. Annisya menyarankan hewan ditempatkan di lokasi yang nyaman dan tidak terpapar langsung terik matahari.

“Selama musim kemarau, yang paling utama adalah ketersediaan makanan dan minuman yang cukup. Hewan juga sebaiknya ditempatkan di tempat yang nyaman dan tidak langsung terkena terik matahari,” ujarnya.

Perawatan lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kebersihan tubuh hewan melalui grooming secara rutin. Pemilik juga dianjurkan melakukan pemberian obat cacing, vaksinasi, serta suntik antiparasit sesuai kebutuhan dan anjuran dokter hewan.

Pemberian multivitamin juga dapat dilakukan untuk membantu mendukung kondisi tubuh hewan. Namun, Annisya mengingatkan agar pemberian suplemen terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter hewan.

“Yang paling penting juga rajin melakukan grooming, suntik antiparasit dan tetap vaksinasi. Jangan lupa pemberian multivitamin yang sudah dikonsultasikan sebelumnya dengan dokter hewan,” katanya.

Menurutnya, pemilik hewan sebaiknya memiliki kontak dokter hewan yang dapat dihubungi. Konsultasi secara daring dapat menjadi langkah awal ketika pemilik menemukan perubahan kondisi pada hewan sebelum membawanya ke klinik.

Bagi pemilik hewan, kondisi panas dan kering ini menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan kebutuhan dasar hewan peliharaan. Selain memastikan makanan dan minuman tersedia, pemilik perlu menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan, serta kesehatan hewan melalui perawatan dan pemeriksaan rutin.

Annisya juga mengingatkan pemilik agar tidak menunggu hingga hewan menunjukkan kondisi sakit untuk mulai melakukan perawatan.

“Selalu pastikan hewannya rajin suntik antiparasit, minum obat cacing, vaksin, dan minum multivitamin untuk mendukung serta memperkuat daya tahan tubuh hewan di musim yang ekstrem ini,” ujarnya.

Kemarau Capai Puncak

Peningkatan kewaspadaan terhadap kesehatan hewan tersebut menjadi penting karena Sultra saat ini memasuki puncak musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi (Kasklim) BMKG Sultra, Kusairi, mengatakan sebagian besar wilayah Sultra secara historis mengalami curah hujan terendah pada Agustus hingga September.

“Tahun ini puncak musim kemarau terjadi pada September,” kata Kusairi, Senin (7/9/2026).

Menurut Kusairi, puncak kemarau di sejumlah wilayah Sultra turut dipengaruhi fenomena El Nino. Fenomena ini merupakan pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, El Nino umumnya menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau dapat menjadi lebih kering dan berpotensi berlangsung lebih panjang. BMKG memprediksi El Nino 2026 masih bertahan hingga awal 2027.

Selain El Nino, BMKG juga memantau kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang diprediksi berpeluang berada pada fase positif hingga akhir 2026.

IOD merupakan fenomena perubahan suhu muka laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur yang dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Pada fase IOD positif, perairan Samudra Hindia bagian barat cenderung lebih hangat dibandingkan bagian timur di sekitar Indonesia.

Kondisi tersebut dapat mengurangi pembentukan awan dan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga berpotensi memperkuat kondisi kering. (B/ST)

 

Laporan: M11

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan