23 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Tanpa Uang, Tradisi Barter Suku Bajo di Konawe Selatan Jadi Penopang Ekonomi Pesisir

  • Bagikan
Tanpa Uang, Tradisi Barter Suku Bajo di Konawe Selatan Jadi Penopang Ekonomi Pesisir
Seorang warga pesisir asal Muna Barat yang bermukim di Desa Torokeku, Risna (34), menimbang hasil tangkapan ikan untuk ditukarkan dengan pisang dan kelapa dari warga di darat. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KONAWE SELATAN – Di tengah kehidupan modern yang serba menggunakan uang, masyarakat Suku Bajo di pesisir Desa Torokeku dan Pulau Bungin, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, masih mempertahankan tradisi barter sebagai cara memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melalui pertukaran hasil tangkapan laut dengan hasil bumi milik warga daratan, tradisi warisan leluhur ini tidak hanya membantu menekan pengeluaran rumah tangga, tetapi juga menjadi penopang ekonomi keluarga pesisir sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Budaya barter masyarakat bajo merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan Suku Bajo. Dalam praktiknya, hasil tangkapan laut ditukar dengan berbagai hasil bumi dari warga daratan hingga masyarakat perbukitan. Sistem pertukaran ini memungkinkan kebutuhan hidup terpenuhi tanpa harus selalu mengandalkan uang tunai.

Tradisi tersebut hingga kini masih terjaga di sejumlah wilayah pesisir Konawe Selatan, terutama di Desa Torokeku dan Pulau Bungin. Bagi sebagian masyarakat, barter menjadi solusi efektif untuk menghemat pengeluaran rumah tangga sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Tanpa Uang, Tradisi Barter Suku Bajo di Konawe Selatan Jadi Penopang Ekonomi Pesisir
Ikan ditimbang menyesuaikan berat pisang sebagai budaya transaksional masyarakat perahu atau lebih dikenal dengan Suku Bajo. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Seorang warga pesisir asal Muna Barat yang kini menetap di Desa Torokeku, Risna (34), mengungkapkan bahwa sistem barter memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

“Kami sudah terbiasa dengan budaya barter di sini, hitung-hitung menjaga dompet bulanan. Mulai dari pagi sampai sore orang darat selalu mampir,” ujar Risna kepada Sultratop.com, 6 Juni 2026.

Menurutnya, pertukaran hasil tangkapan laut dengan berbagai komoditas hasil bumi seperti umbi-umbian, sayuran, pisang, hingga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) sangat membantu masyarakat pesisir memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Di darat banyak orang tidak sanggup beli ikan karena dinilai terlalu mahal, apalagi semenjak kenaikan harga bahan bakar minyak sangat mempengaruhi para nelayan,” katanya.

Tanpa Uang, Tradisi Barter Suku Bajo di Konawe Selatan Jadi Penopang Ekonomi Pesisir
Sekumpulan ikan di barter dengan hasil bumi. Puluhan tahun warga Desa Torokeku, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara hidup dengan metode ini. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Risna menjelaskan, sejak harga BBM mengalami kenaikan, pola transaksi masyarakat mulai menyesuaikan kondisi. Sebagian hasil tangkapan dijual untuk menutupi biaya operasional melaut, sementara sebagian lainnya tetap ditukarkan dengan kebutuhan pangan.

“Semenjak naik harga BBM sebagian juga ada yang mau dibayar dan separuhnya lagi ditukarkan. Jadi kita menyesuaikan. Kalau hasil tangkapan melimpah pasti semua saling tukar. Namun kalau hasilnya kurang, kita juga harus menghargai,” ucapnya.

Ia menambahkan, kebutuhan pangan masyarakat pesisir sangat dipengaruhi komoditas hasil bumi dari daratan. Melalui sistem barter, keluarga nelayan dapat memperoleh sumber pangan yang lebih beragam tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk berbelanja ke pasar.

“Ada kenalan dari darat kalau datang ke rumah sering kali membawa beras untuk ditukar dengan ikan. Karena dibaluti rasa kemanusiaan, saya lebih senang kasih dengan ikhlas,” tuturnya.

Bagi Risna, tradisi barter bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bentuk solidaritas yang mempererat hubungan antara masyarakat pesisir dan daratan. Menjelang satu dekade tinggal di kawasan tersebut, ia mengaku bersyukur tradisi yang diwariskan leluhur itu masih bertahan dan membantu meringankan beban suaminya sebagai kepala keluarga. (A/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan