6 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

IHSG Terkoreksi 11,92 Persen pada Mei 2026, Likuiditas Pasar Tetap Terjaga

  • Bagikan
IHSG Terkoreksi 11,92 Persen pada Mei 2026, Likuiditas Pasar Tetap Terjaga
Ilustrasi. (Foto: Google AI)

SULTRATOP.COM, JAKARTA  — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pasar modal domestik mengalami fase konsolidasi pada Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor. Meski demikian, likuiditas pasar tetap terjaga dan aktivitas transaksi menunjukkan ketahanan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen secara month-to-month (mtm) dan 29,14 persen secara year-to-date (ytd). Di tengah tekanan tersebut, OJK menilai kondisi pasar masih stabil dengan dukungan likuiditas yang memadai.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Dari sisi perdagangan, rata-rata bid-ask spread tercatat sebesar 1,50 persen, sedikit melebar dibanding April 2026 yang sebesar 1,33 persen. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) justru meningkat menjadi Rp22,86 triliun dari sebelumnya Rp18,51 triliun.

Investor asing masih mencatatkan arus keluar bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp4,10 triliun pada Mei 2026, meski lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai Rp17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat 0,32 persen mtm di level 437,26, meski secara ytd masih turun 0,81 persen. Rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat 5,61 basis poin mtm atau 56,22 basis poin secara ytd, dipengaruhi oleh meningkatnya persepsi risiko global.

Investor asing juga masih mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp3,70 triliun pada Mei 2026, sehingga secara ytd mencapai net sell Rp15,43 triliun. Sementara itu, di pasar obligasi korporasi, investor asing membukukan net buy sebesar Rp0,20 triliun.

Dari sisi industri pengelolaan investasi, OJK mencatat Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.049,84 triliun per 29 Mei 2026. Angka ini terkoreksi 1,00 persen mtm namun masih tumbuh 0,68 persen secara ytd.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp685,76 triliun, turun 1,52 persen mtm namun masih naik 1,55 persen ytd. Pada Mei 2026, industri reksa dana membukukan net redemption sebesar Rp1,77 triliun, meskipun secara ytd masih mencatat net subscription sebesar Rp21,61 triliun.

Sementara itu, jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan penambahan 1,26 juta investor baru pada Mei 2026. Secara total, jumlah investor tumbuh 36,27 persen ytd menjadi 27,75 juta investor.

Dari sisi pendanaan, nilai fundraising pasar modal mencapai Rp68,18 triliun hingga Mei 2026 (ytd), yang terdiri dari 1 IPO, 1 penawaran umum terbatas (PUT), serta 6 emisi efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS), dan 51 penawaran umum berkelanjutan EBUS. Di pipeline, masih terdapat 75 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun.

Pada instrumen Securities Crowdfunding (SCF), tercatat penghimpunan dana sebesar Rp11,09 miliar pada Mei 2026 dengan tambahan 5 efek baru dan 2 penerbit baru. Secara kumulatif, total dana yang dihimpun melalui SCF mencapai Rp1,94 triliun.

Di pasar derivatif keuangan, sejak Januari 2025 hingga akhir Mei 2026, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Volume transaksi pada Mei 2026 mencapai 42.206 lot, sehingga secara kumulatif menjadi 185.423 lot.

Sementara itu, di Bursa Karbon, volume transaksi sejak peluncuran pada 2023 telah mencapai 1,98 juta ton CO₂ ekuivalen (tCO₂e), dengan nilai transaksi sebesar Rp93,76 miliar.

OJK menegaskan bahwa meskipun pasar menghadapi tekanan global, stabilitas pasar modal Indonesia tetap terjaga melalui likuiditas yang memadai, aktivitas investor yang meningkat, serta peran pasar sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. (—)

Penulis: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan