SULTRATOP.COM, KENDARI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terkait sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra).
Berdasarkan hasil observasi dan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Rabu (14/10/2026), kabut asap masih terdeteksi di wilayah udara Sultra dan sekitarnya. Kondisi ini berdampak pada penurunan jarak pandang mendatar hingga kurang dari 3 kilometer.
Sebaran kabut asap yang terpantau sejak 26 September 2026 menunjukkan tingkat kepekatan yang berfluktuasi. Namun, kondisi terparah terjadi pada 12–14 Oktober 2026, ketika jarak pandang di sejumlah wilayah, seperti Pomalaa dan Baubau, turun hingga kurang dari 2 kilometer.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas penerbangan di sejumlah bandara di Sultra.
Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan kabut asap kiriman dari luar Sulawesi berpotensi semakin pekat. Kondisi ini diperparah oleh kebakaran yang juga terjadi di sejumlah wilayah di Sultra.
Pola angin yang masih bertiup dari arah timur hingga tenggara menyebabkan asap dari wilayah Maluku, Papua Selatan, dan sekitarnya terbawa menuju wilayah Sultra, yang dikenal sebagai Bumi Anoa.
Berdasarkan pemantauan indeks kualitas udara dengan parameter PM2,5, kualitas udara di sebagian wilayah Sultra umumnya berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Konsentrasi PM2,5 pada kategori sedang berkisar 15,5–55,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan kategori tidak sehat berada pada rentang 55,5–150,4 µg/m³.
BMKG memperkirakan kondisi tersebut berpotensi berulang dalam beberapa hari ke depan seiring masih adanya sumber kebakaran dan pergerakan asap dari wilayah lain.
Sementara itu, hasil pemantauan satelit dengan sensor VIIRS dan MODIS mencatat 1.644 titik panas di Sultra selama periode 7–12 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 274 titik panas per hari.
Dari total tersebut, sebanyak 1.356 titik atau sekitar 82 persen memiliki tingkat kepercayaan sedang, sedangkan 105 titik atau sekitar 6 persen memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Konawe menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 379 titik. Selanjutnya, Kabupaten Buton dengan 267 titik dan Kabupaten Bombana sebanyak 202 titik.
Adapun kecamatan dengan jumlah titik panas terbanyak meliputi Routa sebanyak 209 titik, Kapontori 165 titik, dan Morosi 98 titik.
BMKG mengingatkan bahwa titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi oleh satelit. Data tersebut menjadi indikasi awal potensi kebakaran, tetapi tidak serta-merta mengonfirmasi adanya kebakaran di setiap lokasi.
Sejumlah Daerah Berpotensi Terdampak Kabut Asap
BMKG Sulawesi Tenggara memprakirakan kabut asap dengan kategori sedang hingga tinggi berpotensi terjadi di sejumlah kabupaten dan kota pada 15–17 Oktober 2026.
Pada 15 Oktober 2026, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Konawe Utara, Konawe, Kolaka Utara, Kolaka, dan Kolaka Timur.
Selanjutnya, pada 16 Oktober 2026, potensi kabut asap diprakirakan terjadi di Buton Utara, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Muna, dan Kota Kendari.
Sementara itu, pada 17 Oktober 2026, kabut asap berpotensi meluas ke hampir seluruh wilayah Sultra, kecuali Kota Baubau dan Kabupaten Buton Selatan.
Untuk prakiraan partikulat PM2,5, BMKG memperkirakan kualitas udara di Kabupaten Wakatobi berada pada kategori tidak sehat pada 17 Oktober 2026 pukul 21.00–00.59 Wita.
Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.
Masyarakat disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup jendela ketika asap mulai pekat.
“Untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan,” kata Faizal Habibie.
BMKG juga mengingatkan pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan agar meningkatkan kewaspadaan ketika jarak pandang menurun secara signifikan. Pengguna kendaraan dan kapal diimbau menyalakan lampu sesuai kebutuhan dan ketentuan keselamatan yang berlaku.
Faizal mengingatkan masyarakat untuk terus memperbarui informasi dari BMKG dan instansi terkait. Langkah tersebut diperlukan agar upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan, dapat dilakukan secara tepat dan optimal. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati



















