24 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Antre Pertalite di SPBU Kendari, Warga Bawa Bekal, Menginap, hingga Keluhkan Barcode Terpakai

  • Bagikan
Mahasiswa UM Kendari Galang Dana untuk Korban Gempa NTT
Antrean mobil mengular di SPBU Anggoeya Jalan Banawula Sin Apoy, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2026). (Foto: M11/Sultratop.com)

SULTRATOP.COM, KENDARI — Antrean Pertalite di Kendari mengular di sejumlah SPBU hingga membuat warga harus menunggu berjam-jam. Bahkan, sejumlah pengendara rela membawa bekal hingga menginap demi mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.

Muhammad Nawaf, warga Poasia, mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre Pertalite sejak harga Pertamax mengalami kenaikan.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Seperti yang terjadi pada Senin (24/8/2026), Nawaf mengantre di SPBU Anggoeya, Jalan Banawula Sin Apoy, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, sejak pukul 11.00 WITA.

Hingga pukul 13.10 WITA, mobilnya masih berada di urutan ke-38. Belasan mobil juga terlihat mengantre di belakangnya. Antrean kendaraan bahkan terus bertambah hingga mengular hampir sepanjang satu kilometer.

Pria yang bekerja di bengkel tersebut mengatakan, dirinya biasa menghabiskan waktu sekitar tiga jam, bahkan lebih, hanya untuk mengisi tangki BBM mobilnya.

Antre Pertalite di SPBU Kendari, Warga Bawa Bekal, Menginap, hingga Keluhkan Barcode Terpakai
Warga Poasia, Muhammad Nawaf (25) diwawancarai saat mengantre BBM Pertalite di SPBU Anggoeya Jalan Banawula Sin Apoy, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2026). (Foto: M11/Sultratop.com)

Ia memilih mengantre Pertalite ketimbang membeli Pertamax, meski kondisi tersebut harus mengganggu aktivitas pekerjaannya.

“Biasanya kita kerja di bengkel, ini harus mengantre lagi karena keperluan pribadi juga,” ujarnya di sela-sela menunggu antrean.

Harga Pertamax (RON 92) dibanderol Rp16.300 per liter, naik sejak 10 Juni 2026 dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Namun, per 1 Agustus 2026, Pertamina menurunkan harga Pertamax menjadi Rp15.950 per liter untuk wilayah Jabodetabek. Sementara harga Pertalite masih dibanderol Rp10.000 per liter.

Nawaf mengaku tidak hanya mengantre di SPBU Anggoeya. Ia juga pernah mengantre di sejumlah SPBU lain di Kota Kendari dengan durasi waktu tunggu yang hampir sama.

Karena sering menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU, Nawaf bahkan membawa bekal untuk mengantisipasi waktu makan siang sembari menunggu antrean.

Ia juga menceritakan pengalaman sejumlah rekannya yang biasa mengantre BBM bersama. Menurutnya, sebagian pengemudi mobil online bahkan harus menginap agar bisa mendapatkan BBM lebih cepat.

“Mereka (driver online) sampai nginap, karena pagi sudah harus ambil penumpang,” kata pemuda berusia 25 tahun tersebut.

Nawaf berharap harga Pertamax kembali turun sehingga masyarakat memiliki pilihan dan antrean Pertalite di SPBU tidak lagi mengular panjang.

“Kacau. Kalau bisa (harga) Pertamax dikasih turun, supaya tidak mengantre Pertalite seperti ini,” ucapnya.

Keluhan serupa disampaikan pengemudi mobil online, Adji. Ia mengaku pernah kehabisan BBM Pertalite meski telah mengantre selama sekitar tiga jam di SPBU Teratai, Jalan H. Alala, Kelurahan Watu-watu, Kecamatan Kendari Barat, belum lama ini.

Adji mengatakan, dirinya mulai mengantre sekitar pukul 18.30 WITA. Namun, ketika tiba gilirannya sekitar pukul 22.00 WITA, stok Pertalite di SPBU tersebut justru telah habis.

“Dari jam setengah 7 malam, pas giliranku jam 10 sudah habis,” keluhnya.

Selain persoalan antrean, Adji juga menyoroti penggunaan barcode BBM. Ia mengaku pernah menemukan kasus barcode yang tercatat sudah digunakan, padahal pemilik barcode tersebut belum melakukan pengisian BBM pada hari yang sama.

“Barcode Pertamina lebih diperhatikan karena di beberapa kasus sering barcodenya sudah terpakai di hari itu, sementara pemilik barcode belum mengisi di Pertamina,” jelasnya.

Ia berharap regulasi terkait penggunaan barcode dan pembatasan pembelian BBM di SPBU dapat diperketat. Menurutnya, pengawasan terhadap pembelian BBM untuk dijual kembali sebagai pengecer juga perlu ditingkatkan agar stok BBM dapat terdistribusi secara merata.

Adji menilai kenaikan harga Pertamax membuat banyak pengendara beralih menggunakan Pertalite. Kondisi tersebut kemudian memicu antrean panjang yang menyita waktu, terutama bagi pengemudi mobil online yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan.

Dalam kondisi mendesak, Adji mengaku terpaksa membeli Pertalite eceran. Harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga di SPBU, yakni sekitar Rp65.000 hingga Rp70.000 per jeriken berisi 5 liter.

“Semoga harga Pertamax kembali turun biar pengendara kembali ada opsi ke Pertamax,” ujarnya. (A/ST)

Laporan: M11
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan