11 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur di Sultra, Disusul Sarjana

  • Bagikan
Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur di Sultra, Disusul Sarjana
Kepala BPS Sulawesi Tenggara, Hadi Susanto (Foto: Amelda Devi Indriani/Sultratop.com)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Mei 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, TPT lulusan SMK tercatat mencapai 5,74 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok lulusan dari jenjang pendidikan lainnya.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengatakan tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK dapat menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri.

“Untuk SMK tinggi, kemungkinan ada mismatch dengan industri kita. Kemungkinan yang diajari atau jurusan yang ada itu sudah tidak terlalu cocok dengan industri sekarang,” kata Hadi saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).

Menurut Hadi, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam dunia pendidikan di Sultra, khususnya terkait relevansi program keahlian yang ditawarkan SMK dengan perkembangan kebutuhan tenaga kerja.

Secara ideal, lulusan SMK seharusnya memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar kerja dibandingkan lulusan SMA. Sebab, pendidikan SMK memang dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan yang lebih spesifik dan kesiapan memasuki dunia kerja.

“Ini mungkin harus dijadikan bahan diskusi di pendidikan kita, ini masih cocok tidak? Padahal targetnya lulusan SMK lebih mudah mencari kerja dibanding lulusan SMA, tapi nyatanya tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Hadi menegaskan bahwa dugaan mismatch tersebut masih merupakan kemungkinan yang perlu ditindaklanjuti melalui kajian lebih mendalam. Salah satunya dengan melihat kesesuaian antara jurusan yang tersedia di SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri saat ini.

Lulusan Perguruan Tinggi Juga Memiliki TPT Tinggi

Setelah lulusan SMK, kelompok dengan TPT tertinggi berikutnya adalah lulusan Diploma IV, S-1, S-2, dan S-3 dengan angka 5,63 persen.

Selanjutnya, lulusan SMA tercatat sebesar 4,49 persen, SMP 2,36 persen, serta SD ke bawah 1,29 persen. Sementara itu, TPT terendah tercatat pada kelompok lulusan Diploma I/II/III, yakni sebesar 1,23 persen.

Hadi mengatakan tingginya TPT pada kelompok lulusan perguruan tinggi juga perlu menjadi perhatian. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah standar pekerjaan yang diharapkan pencari kerja cenderung lebih tinggi.

“Pendidikan tinggi mulai dari D-4, S-1 memang tinggi juga angka penganggurannya setelah SMK. Itu kemungkinan pencari kerja menerapkan standar yang lebih tinggi,” jelasnya.

Data tersebut menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan rendahnya angka pengangguran.

Sebaliknya, lulusan SMA dan SMK justru memiliki TPT lebih tinggi dibandingkan lulusan SD dan SMP.

Menurut Hadi, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah lulusan dengan pendidikan lebih rendah cenderung lebih fleksibel dalam menerima berbagai jenis pekerjaan.

Di tengah tingginya pengangguran lulusan SMK, TPT Sultra secara keseluruhan juga mengalami kenaikan.

BPS mencatat TPT Sultra pada Mei 2026 sebesar 3,47 persen, naik 0,22 poin dibandingkan Februari 2026 yang berada di angka 3,25 persen.

Dari sisi jumlah, penduduk yang menganggur pada Mei mencapai sekitar 50.360 orang, meningkat sekitar 3.000 orang dibandingkan Februari yang berada di kisaran 47 ribu orang.

Sementara jumlah angkatan kerja Sultra berdasarkan Sakernas Mei 2026 mencapai 1.451,85 ribu orang, turun 5,38 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Angkatan kerja dalam statistik ketenagakerjaan mencakup penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau memiliki kegiatan ekonomi maupun mereka yang menganggur dan sedang mencari pekerjaan.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga turun 0,57 poin menjadi 69,23 persen.

TPT sebesar 3,47 persen berarti dari setiap 100 orang yang masuk dalam angkatan kerja, terdapat sekitar tiga orang yang menganggur.

Pertanian Masih Serap Tenaga Kerja Terbesar

Dari sisi lapangan pekerjaan, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sultra dengan porsi sekitar 34,4 persen atau 481 ribu orang.

Namun, jumlah pekerja di sektor tersebut mengalami penurunan sekitar 27 ribu orang.

Di sisi lain, sektor perdagangan menyerap sekitar 16 persen tenaga kerja dan mengalami peningkatan.

Kondisi tersebut menjadi indikasi awal adanya pergeseran aktivitas tenaga kerja dari sektor pertanian ke perdagangan.

Namun, peningkatan di sektor perdagangan tersebut diperkirakan banyak terjadi pada pekerjaan informal.

Pekerjaan formal umumnya memiliki penghasilan tetap dan jaminan kerja. Sementara pekerjaan informal cenderung tidak memberikan penghasilan tetap serta tidak memiliki jaminan seperti pekerjaan formal. (A/ST)

Laporan: M11
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan