SULTRATOP.COM, KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Sulawesi Tenggara (year on year/yoy) pada Juni 2026 sebesar 4,68 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga di berbagai kelompok pengeluaran.
Berdasarkan rilis BPS Sulawesi Tenggara (Sultra) yang diterbitkan pada Rabu (1/7/2026), inflasi terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,48 pada Juni 2025 menjadi 114,60 pada Juni 2026. Selain inflasi tahunan, Sulawesi Tenggara juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 1,29 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 4,55 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya, laju inflasi Sultra mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada Juni 2024, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,35 persen, naik menjadi 2,52 persen pada Juni 2025, kemudian melonjak menjadi 4,68 persen pada Juni 2026.
Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Inflasi tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,55 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 6,59 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,88 persen.
Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta kelompok pendidikan masing-masing mengalami inflasi sebesar 3,81 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 2,66 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,37 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,24 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,22 persen, kesehatan 0,37 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,08 persen.
BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan layang, ikan cakalang, minyak goreng, bensin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan selar, bayam, tomat, uang kuliah perguruan tinggi, beras, telepon seluler, mobil, sawi hijau, sepeda motor, bawang merah, dan pelumas mesin.
Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi, antara lain ikan mujair, ikan gabus, telur ayam ras, daun singkong, cabai rawit, tempe, dan kelapa.
Dari empat kabupaten/kota yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulawesi Tenggara, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Kota Baubau mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,60 persen dengan IHK 116,58, disusul Kabupaten Kolaka sebesar 5,33 persen, Kota Kendari sebesar 5,14 persen, dan Kabupaten Konawe sebesar 2,12 persen yang menjadi inflasi terendah di provinsi tersebut.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Sulawesi Tenggara pada pertengahan 2026 meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya, terutama dipengaruhi kenaikan harga pada sektor pangan, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. (—)
Penulis: Jumriati



















