SULTRATOP.COM, MUNA – Pukul 02.00 dini hari, ketika hampir semua orang masih terlelap, seorang pemuda (23) lulusan sarjana hukum justru memulai harinya di dapur. Sebut saja namanya La Ege (samaran).
Bukan di kantor hukum atau ruang sidang, melainkan La Ege berada di antara asap kompor dan riuh obrolan ibu-ibu tenaga pelaksana dapur (tim memasak) di sebuah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Ia bertugas membantu para ibu-ibu tersebut dari mengangkat peralatan masak dan bahan makanan, hingga tugas-tugas lain yang melengkapi tim masak. Ibarat sebuah kepanitiaan, ia sebagai anggota seksi repot.
Ia baru saja wisuda pada November 2025 lalu saat kesempatan itu datang. Setelah sempat menganggur, tawaran bekerja di SPPG seolah menjadi jalan cepat untuk pembuktian diri.
Tanpa banyak pertimbangan, ia menerima dengan status sebagai pekerja harian lepas. Upahnya Rp125 ribu per hari, dibayarkan tiap dua pekan, yang tentu cukup untuk menutup kebutuhan dasar sambil berharap peluang lain datang.
Rutinitasnya tidak biasa. Ia masuk kerja saat malam belum benar-benar usai. Kadang ia bergadang lalu langsung berangkat, kadang hanya tidur dua hingga tiga jam sebelum alarm berbunyi. Siang hari menjadi waktu untuk membayar utang tidur.
“Tidak masalah, lama-lama sudah terbiasa,” begitu yang ia utarakan ketika berbincang dengan awak Sultratop.com pada Sabtu (4/4/2026) pagi. Apalagi suasana dapur tak selalu tegang. Di sela mengaduk masakan, ibu-ibu pelaksana dapur kerap bercanda, bergosip, menjahili, bahkan saling menggoda. Keakraban itu membuat pekerjaan yang berat terasa lebih ringan.
Bagi para ibu rumah tangga di sekitar lokasi SPPG, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas tambahan. Ia menjadi pintu penghasilan baru. Dari yang sebelumnya hanya mengurus rumah, kini mereka ikut berkontribusi pada ekonomi keluarga.
Selama beroperasi, dapur SPPG itu berjalan tanpa insiden berarti. Tidak ada kabar keracunan atau gangguan serius. Aktivitas memasak dan distribusi makanan berlangsung lancar, seolah menjadi contoh program yang berjalan baik di tingkat lokal.
Namun, semuanya berubah mendadak.
SPPG tempat mereka bekerja tiba-tiba tutup sementara. Aktivitas berhenti. Kompor padam. Dapur yang biasanya riuh mendadak sunyi. Penyebabnya bukan pada makanan, melainkan pada pengelolaan limbah yang dinilai belum memenuhi standar.
Bagi La Ege, keputusan tersebut langsung memutus satu-satunya sumber penghasilannya. Ia kembali berada di titik awal: mencari kerja.
Ia mengaku masih beruntung. Selama bekerja di SPPG, ia tidak tergoda mengambil kredit atau cicilan. Tidak ada beban utang yang menghimpit saat penghasilan berhenti.
“Dulu selalu ada yang menawari cicil ini itulah, ada yang tawari cicil springbed, pokoknya barang-barang, tapi saya tidak mau,” tuturnya.
Situasi berbeda justru dialami para ibu-ibu pelaksana dapur. Saat penghasilan rutin mulai mereka terima, kebanyakan dari mereka berani mengambil cicilan dan ikut arisan. Keputusan yang awalnya terasa ringan, kini berubah menjadi tekanan.
Keluhan mereka kini ramai di grup WhatsApp dapur MBG tersebut. Cicilan tetap berjalan, arisan harus dibayar, sementara pemasukan telah hilang.
“Mereka semua bertanya-tanya di grup WhatsApp, ada juga yang mengeluh,” ujar La Ege.
Menunggu Dapur MBG Bangkit, Sambil Bersiap Masuk Tambang
Ketidakpastian nasib dapur MBG membuatnya tak punya banyak pilihan selain kembali menata arah hidup. Ia mulai melirik pekerjaan di sektor pertambangan, meski jalur itu sama sekali berbeda dari latar belakang pendidikannya sebagai sarjana hukum.
Di Sulawesi Tenggara ini, geliat industri nikel memang terus membuka peluang kerja. Baginya, tambang menjadi opsi yang paling realistis saat ini, setidaknya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih pasti di tengah situasi yang serba menggantung.
Untuk sementara, ia masih menyiapkan diri sambil menunggu kejelasan nasib SPPG tempatnya bekerja dulu. Harapan bahwa dapur itu kembali menyala masih ada, meski belum ada kepastian kapan operasional akan kembali berjalan.
Di tengah masa jeda itu, ada peran lain yang tanpa sadar ia jalani di lingkungan tempat tinggalnya. Ia menjadi “rujukan” bagi anak-anak yang sebelumnya rutin menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG.
Karena dikenal sebagai bagian dari dapur SPPG, anak-anak kerap menghampirinya. Mereka datang dengan pertanyaan sederhana, tapi sulit ia jawab.
“Anak-anak bertanya terus mana MBG-ku,” ujarnya.
Pertanyaan itu tak hanya datang dari anak-anak sekitar, tetapi juga dari keluarganya sendiri. Bagi mereka, program itu bukan sekadar bantuan, melainkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharian.
Pemerintah Tutup Sementara 2.162 SPPG
Bukan hanya SPPG di Kabupaten Muna yang mengalami penutupan sementara. Total di seluruh Indonesia, terdapat 2.162 SPPG atau dapur MBG yang mendapat sanksi ini.
Mengutip CNN Indonesia, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan hingga 30 Maret 2026, sebanyak 1.789 dapur berstatus suspend, 368 dapur mendapat peringatan pertama (SP1), dan lima dapur mendapat peringatan kedua (SP2).
Ia menjelaskan penutupan sementara tersebut dilakukan terhadap dapur yang belum memenuhi standar, termasuk aspek higiene dan sanitasi.
sebagian besar dapur yang ditutup berstatus suspend atau penghentian sementara agar dapat melakukan perbaikan. Jika tidak memenuhi ketentuan, maka operasionalnya berpotensi dihentikan permanen. (===)


















