30 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Sungai Wanggu Meluap Akibat Hujan Deras, 317 Warga Lepo-lepo Terdampak

  • Bagikan
Sungai Wanggu Meluap Akibat Hujan Deras, 317 Warga Lepo-lepo Terdampak
Banjir merendam permukiman warga di bantaran Sungai Wanggu, Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sabtu (9/5/2026). (Ismu/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Hujan deras yang mengguyur Kota Kendari sejak Jumat malam (9/5/2026) menyebabkan Sungai Wanggu meluap dan merendam permukiman warga di Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga, Sabtu (9/5/2026).

Akibatnya, sebanyak 126 kepala keluarga (KK) atau sekitar 317 jiwa terdampak banjir dan sebagian warga mulai mengungsi ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih aman.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Camat Baruga, Bustam, mengatakan air mulai naik sejak Jumat malam dan terus meluas hingga Sabtu siang. Wilayah terdampak banjir berada di empat RT di sekitar bantaran Kali Wanggu, yakni RT 4, RT 12, RT 13, dan RT 14 di Kelurahan Lepo-lepo.

“Pendataan awal semalam tercatat 43 kepala keluarga terdampak. Namun karena debit air terus naik, jumlahnya bertambah menjadi 126 KK atau sekitar 317 jiwa,” ujar Bustam saat ditemui di lokasi banjir.

Ia menyebut angka tersebut masih bersifat sementara karena proses identifikasi di lapangan terus dilakukan dan kemungkinan jumlah warga terdampak masih dapat bertambah.

Pemerintah Kecamatan Baruga juga telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait seperti BPBD Kota Kendari, PDAM, serta stakeholder lainnya guna mempercepat penanganan warga terdampak banjir.

Sementara itu, salah seorang warga terdampak, Mawan, mengungkapkan bahwa sebagian warga sebenarnya sudah mulai bersiap mengungsi sejak Jumat malam ketika air mulai masuk ke permukiman.

Ia mengatakan warga tidak mendirikan tenda di pinggir jalan, melainkan memilih mengungsi ke rumah keluarga yang lokasinya lebih tinggi.

“Kemarin sudah mulai orang angkat barang-barang karena beberapa rumah sudah mulai tenggelam,” katanya.

Meski banjir merendam permukiman, aktivitas warga untuk kebutuhan makan masih dilakukan secara mandiri. Sebagian warga masih memasak di rumah masing-masing, sementara warga yang mengungsi memanfaatkan rumah keluarga untuk bertahan sementara.

Mawan mengaku telah tinggal di bantaran Sungai Wanggu sejak tahun 1990-an. Ia mengatakan banjir di kawasan tersebut bukan pertama kali terjadi.

Menurutnya, sebelum tahun 2020, banjir hampir terjadi setiap tahun dengan kejadian terbesar pada 2013 dan 2019. Setelah itu, banjir kembali terjadi pada 2020, 2023, hingga tahun 2026 ini.

Ia menilai tingginya curah hujan dan kondisi sungai yang mengalami pendangkalan menjadi penyebab utama meluapnya air ke permukiman warga.

“Kalau hujan deras terus, sungai sudah tidak mampu tampung air karena dangkal,” ujarnya. (A/ST)

 

Kontributor: Ismu Samadhani

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan