18 July 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Ramai di Jalan, Sepi di Dompet: Cerita Ojol Kendari di Tengah Lesunya Ekonomi

  • Bagikan
Ramai di Jalan, Sepi di Dompet: Cerita Ojol Kendari di Tengah Lesunya Ekonomi
Ilustrasi Pengemudi ojol Kendari di tengah lesunya ekonomi. (Gambar: Google AI)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Pengemudi ojek daring atau ojek online (ojol) menjadi wajah paling kasatmata di Kota Kendari, mengisi hampir setiap ruas jalan sebagai penggerak ekonomi digital perkotaan.

Dengan jaket khas warna hijau, kuning, hingga oranye yang melekat di tubuh, mereka lalu lalang tanpa henti di jalan raya, menyusuri jalur utama hingga lorong-lorong sempit permukiman. Ada yang melaju cepat mengejar waktu pengantaran penumpang, ada pula yang berhenti sejenak di pinggir jalan, menunggu notifikasi order masuk sambil menatap layar ponsel.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Di bawah terik matahari siang atau di tengah hujan yang turun tiba-tiba, para pengemudi ini tetap bergerak. Paket makanan, belanjaan harian, hingga dokumen penting berpindah tangan melalui jasa mereka.

Kehadiran ojol bukan sekadar layanan transportasi, tetapi telah menjadi denyut nadi baru kehidupan kota yang menghubungkan rumah tangga, warung makan, pusat perbelanjaan, hingga perkantoran dalam satu ekosistem ekonomi digital yang terus berputar.

Namun di balik mobilitas yang tak pernah sepi itu, kehidupan mayoritas pengemudi ojol justru berjalan tertatih, terhimpit pendapatan yang kian menurun, jam kerja panjang, serta beban potongan aplikasi di tengah kondisi ekonomi yang lesu.

Firman, salah satu pengemudi ojol di Kendari, mengaku pekerjaan ini ia jalani setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya. Selama dua bulan terakhir, ia menggantungkan penghasilan keluarga dari layanan transportasi berbasis aplikasi.

“Sehari narik bisa dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu, sudah lumayan untuk nafkah istri di rumah,” ujar Firman kepada media ini, Selasa (10/2/2026).

Penghasilan tersebut tergolong minim, apalagi jika harus dibagi dengan berbagai kebutuhan harian yang tak bisa ditunda. Biaya servis kendaraan, penggantian oli, bahan bakar, hingga kuota internet menjadi pengeluaran rutin yang harus ditanggung sendiri.

Belum lagi potongan dari aplikasi yang secara otomatis menggerus pendapatan setiap kali orderan selesai. Dalam kondisi tertentu, hasil menarik seharian nyari habis hanya untuk menutup biaya operasional, menyisakan sedikit ruang untuk kebutuhan keluarga.

Namun begitu, ia menyebut pekerjaan sebagai ojol relatif mudah dijalani setelah memahami sistem aplikasi. Pengetahuan itu ia peroleh dari anaknya yang juga bekerja sebagai pengemudi daring di aplikasi lain.

“Kebetulan anak saya juga Grab, jadi tidak sungkan bertanya meskipun saya kerja di Maxim,” katanya.

Pengemudi lainnya, yang akrab disapa Ponco Shopee Food bercerita bahwa dirinya sebagai anak muda Generasi Z yang tengah berkuliah lebih memilih pekerjaan ojek daring untuk memenuhi kebutuhan harian serta uang setoran.

Ramai di Jalan, Sepi di Dompet: Cerita Ojol Kendari di Tengah Lesunya Ekonomi
Pengemudi ojek daring atau ojol menjadi wajah paling kasatmata di Kota Kendari, sebagai penggerak ekonomi digital perkotaan. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Omzet harian Ponco bisa mencapai Rp200 ribu kalau lagi ramai, tapi kalau sepi orderan hanya Rp100 ribu atau Rp70 ribu. Ia menyadari dunia pekerjaan dalam fase sulit, tapi tidak menggoyahkan semangatnya dalam mengais rezeki dari pagi hingga malam.

“Sekarang susah dapat setoran yang cukup, sudah banyak saingan jadi kita harus menyesuaikan. Apalagi orderan mulai sepi, rata-rata orang banyak sudah punya kendaraan jadi mulai berkurang pesan ojek,” ucap Ponco.

Aplikator memotong komisi hingga 20 persen dari setiap transaksi. Selain itu, terdapat potongan harian agar akun tetap berada di kategori sistem prioritas.

Seorang pengemudi ojol yang enggan disebutkan namanya, menjelaskan bahwa selama empat tahun dirinya kerja, potongan harian berkisar Rp15 ribu-Rp25 ribu per aplikasi.

“Saya juga heran kita dapat orderan harga Rp6,500 kita disuruh bayar Rp15 ribu kan tidak adil, meskipun uang tersebut masuk untuk uang pelayanan-uang asuransi. Tapi saat teman kecelakaan waktu narik tidak bisa diklaim sebagai asuransi. Sampai hari ini kita berseberangan terkait pemotongan dari aplikasi karena tidak memberikan penjelasan lengkap,” ujarnya.

Sumber lain juga mengungkapkan bahwa pemotongan biaya dari aplikasi bertujuan untuk memprioritaskan orderan masuk ke mitra mereka.

“Siapa yang taat dengan sistem ini, otomatis aplikasi akan merekomendasikan orderan tanpa hambatan ke akun prioritas,” imbuhnya.

Ia memberikan saran pada aplikasi, agar mempertimbangkan keadaan ekonomi warga yang tengah lesu. Sebaiknya potongan harga tidak tinggi, sebab mayoritas ojol ini mengandalkan pendapatan harian untuk keluarga mereka. (A/ST)

Laporan : Bambang Sutrisno

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan