SULTRATOP.COM, KENDARI — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA/SMK Tahun Ajaran 2026/2027 di Sulawesi Tenggara (Sultra) telah berakhir. Meski tahapan penerimaan hingga pengisian kursi kosong telah selesai dan peserta didik baru mulai mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), rendahnya jumlah pendaftar menjadi catatan dalam pelaksanaan SPMB tahun ini.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, daya tampung yang disediakan pada SPMB jenjang SMA/SMK mencapai 56.076 kursi. Namun, jumlah calon peserta didik yang mendaftar hanya sebanyak 34.404 orang, terdiri dari 25.670 pendaftar SMA dan 8.734 pendaftar SMK.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 31.076 calon peserta didik berhasil terakomodasi melalui proses SPMB. Sementara sebagian lainnya belum mendapatkan sekolah sesuai pilihan awal akibat tingginya persaingan pada sejumlah sekolah favorit.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikbud Sultra, Prof. Aris Badara, mengatakan secara umum pelaksanaan SPMB berjalan lancar. Namun, distribusi peserta didik belum merata karena terdapat sekolah yang mengalami kelebihan peminat, sedangkan sekolah lain masih kekurangan pendaftar.
Dikbud Sultra juga menemukan adanya penurunan partisipasi peserta didik pada kelompok usia 13–15 tahun. Kondisi tersebut dinilai ikut memengaruhi jumlah pendaftar sehingga sejumlah sekolah belum mampu memenuhi kuota yang tersedia.
Sejumlah Sekolah Kekurangan Pendaftar
Salah satu sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik dalam proses SPMB 2026 adalah SMKN 2 Kendari.
Kepala SMKN 2 Kendari, Ahmad Mustafa, mengungkapkan jumlah pendaftar hingga penutupan SPMB pada 1 Juli 2026 masih jauh dari target yang ditetapkan sekolah.
Dari total daya tampung sebanyak 720 peserta didik atau setara dengan 36 rombongan belajar (rombel), jumlah pendaftar yang masuk hanya mencapai 298 orang. Kondisi tersebut membuat sekolah masih kekurangan sebanyak 422 peserta didik dari kuota yang tersedia.
“Jauh dari target yang diharapkan, padahal kami menyediakan rombongan belajar (rombel) sebanyak 36,” ungkap Ahmad Mustafa kepada awak media.
Kondisi serupa juga terjadi di SMAN 12 Kendari. Kepala SMAN 12 Kendari, Sudarso, sebelumnya menyampaikan bahwa sekolah tersebut belum memenuhi kuota awal SPMB.
Dari daya tampung sebanyak 216 siswa atau enam rombongan belajar, jumlah pendaftar saat itu baru mencapai 144 siswa.
Pengamat Soroti Faktor Ekonomi
Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Dr. Syahudin, menilai rendahnya jumlah peserta didik dalam SPMB tidak hanya dipengaruhi faktor populasi, tetapi juga kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Menurutnya, tekanan ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian anak menunda atau tidak melanjutkan pendidikan.
“Belum lagi kemampuan ekonomi yang dihadapi masyarakat dalam menyediakan kebutuhan pendidikan, mulai dari perlengkapan tulis, seragam, biaya jajan, hingga beban pendidikan. Kita tidak bisa menyalahkan kondisi orang tua karena kehidupan sedang sulit,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, Syahudin juga menyoroti perkembangan teknologi melalui penggunaan gawai yang dinilai turut memengaruhi pola pikir sebagian anak usia remaja.
“Di era modern sekarang, anak-anak tidak mau bergelut dalam dunia pendidikan karena terjebak hal-hal yang serba instan. Sekolah bukan hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter,” katanya.
Ia juga menyinggung fenomena siswa yang menunda sekolah setelah tidak lolos di sekolah favorit. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi manajemen penerimaan peserta didik sekaligus memperkuat pemerataan mutu pendidikan.
Ia mengatakan, anak-anak memiliki ekspektasi tinggi terhadap sekolah favorit. Ketika tidak lolos, sebagian merasa kecewa bahkan memilih menunda sekolah. Padahal, setiap sekolah setiap tahunnya juga memiliki daya tampung yang terbatas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari tahun 2025, jumlah penduduk kelompok usia 10–14 tahun tercatat sebanyak 36.070 jiwa, sedangkan kelompok usia 15–19 tahun sebanyak 31.441 jiwa.
Data tersebut tidak secara langsung menunjukkan penyebab menurunnya partisipasi sekolah, tetapi memberikan gambaran mengenai komposisi penduduk usia sekolah yang menjadi konteks terhadap kondisi SPMB 2026.
Saat proses pengisian kursi kosong berlangsung, Dikbud Sultra mengimbau orang tua dan calon peserta didik agar tidak hanya berfokus pada sekolah favorit.
Plt Kepala Dikbud Sultra, Prof. Aris Badara, meminta masyarakat memanfaatkan kuota yang tersedia di sejumlah SMA Negeri di Kota Kendari.
“Kami berharap yang belum tercakup pada SMA tujuan di Kota Kendari agar memanfaatkan kuota kosong di SMAN 9, SMAN 12, SMAN 10, SMAN 7, hingga SMAN 3 Kendari. Pada dasarnya, semua satuan pendidikan itu sama. Kami berharap masyarakat bisa mendaftarkan putra-putrinya di sekolah tersebut,” jelas Aris. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati
















