SULTRATOP.COM, KENDARI – Ada yang selalu kembali di setiap penghujung Ramadan di Kota Kendari. Bukan hanya gema takbir, tetapi juga cahaya-cahaya kecil yang berjalan pelan di tengah gelap malam. Cahaya itu datang dari obor yang digenggam warga, menyala sederhana, namun cukup untuk menghangatkan suasana.
Di Jalan Bahagia, ratusan warga berkumpul pada Jumat (20/3/2026) malam. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berdiri berdampingan, menunggu obor mereka dinyalakan. Ketika api mulai menyala, jalanan pun berubah. Dari Jalan Ahmad Yani menuju kantor PLN hingga ke arah Jalan Sorumba, Pasar Panjang, Kecamatan Wua-Wua, cahaya obor membentuk barisan panjang yang bergerak perlahan, seolah mengantar Ramadan menuju perpisahan. Suara takbir menggema di antara langkah-langkah peserta.
Ketua panitia, Rudi Taslim, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk syukur setelah sebulan penuh menjalani Ramadan. Tradisi ini sudah berjalan sekitar empat tahun dan menjadi bagian dari kehidupan warga setempat setiap menjelang Lebaran. Namun, suasana yang tercipta tidak pernah benar-benar terasa sama. Tahun 2026 ini menghadirkan sentuhan kreatif yang mencuri perhatian: obor berbentuk kubah masjid, maskot flamingo, hingga iringan sound system modern dan tabuhan bedug dari motor viar.

Perjalanan sepanjang tiga kilometer dimulai dan berakhir di Masjid Ar Razak Saeid. Sekitar 250 peserta, didominasi remaja masjid dan Kelompok Kerukunan Keluarga Pemuda Bahagia (KKPB) berjalan beriringan, membawa obor dengan wajah penuh sukacita. Di tengah dunia yang semakin digital, mereka justru memilih turun ke jalan, merawat kebersamaan secara nyata.
Yang membuat pawai ini terasa istimewa bukan hanya jumlah peserta atau kemeriahannya, melainkan keterlibatan seluruh lapisan warga. Dari pemuda, orang tua, hingga pengurus RT, semuanya berkontribusi.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, momen seperti ini terasa sederhana, tapi justru itu yang membuatnya berarti. Orang-orang berjalan bersama, saling menyapa, dan hadir secara utuh tanpa perantara layar.
Malam pun semakin larut. Satu per satu obor mulai padam. Barisan perlahan bubar, menyisakan jalanan yang kembali gelap seperti semula. Namun kebersamaan yang tercipta tidak ikut padam. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno



















