SULTRATOP.COM, KENDARI – Dua pekan menjelang Idul Fitri 2026, pedagang minuman musiman di Kota Kendari justru mengeluhkan sepinya pembeli. Banyak calon konsumen datang hanya untuk menanyakan harga, namun kemudian pergi tanpa membeli, seiring menurunnya daya beli masyarakat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang terancam merugi, meskipun telah menyiapkan stok minuman dalam jumlah besar serta menawarkan berbagai potongan harga untuk menarik minat pembeli. Hingga 9 Maret 2026, geliat belanja masyarakat yang biasanya meningkat menjelang Lebaran belum juga terlihat.
Salah satu pedagang minuman musiman di Kelurahan Anduonohu, Kota Kendari, Dela, mengungkapkan bahwa jumlah pembeli tahun ini menurun drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Selain daya beli masyarakat yang melemah, kondisi ini juga dipengaruhi oleh harga produk yang semakin mahal dan pasokan yang sulit diperoleh.
”Jujur saja kami sebenarnya sudah tidak mau melanjutkan, karena modalnya cukup mahal. Namun karena ini usaha musiman, kami tetap mencoba berjualan,” kata Dela kepada SULTRATOP.COM.
Ia menambahkan, banyak calon pembeli yang mengeluhkan harga minuman yang relatif mahal. Kondisi tersebut dipicu lambatnya distribusi barang dari distributor serta terbatasnya variasi produk yang tersedia di pasaran.
”Tahun lalu saya bisa menyediakan banyak varian minuman. Sekarang mulai saya batasi karena harganya mahal dan barangnya juga susah didapat. Sekarang daya beli warga terbilang turun drastis. Kebanyakan calon pembeli hanya bertanya lalu pergi,” ujarnya.
Dela juga menyebutkan bahwa faktor boikot terhadap sejumlah produk minuman bersoda turut memberikan dampak pada penjualan. Minuman seperti Coca-Cola, Sprite, dan Fanta tidak lagi memberikan keuntungan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
”Tahun kemarin kami jual minuman kemasan 1 liter di harga Rp97 ribu per lusin, ukuran jumbo 1,5 liter Rp165 ribu hingga Rp180 ribu per lusin, ukuran mini Rp100 ribu untuk tiga lusin, dan ukuran 3 liter Rp30 ribu per botol. Tahun ini, minuman kemasan 1 liter Rp150 ribu per lusin, ukuran jumbo 1,5 liter Rp170 ribu, ukuran mini Rp40 ribu per lusin, dan ukuran 3 liter masih Rp30 ribu per botol,” jelasnya.
Ia mengaku telah sekitar 15 tahun menjalani usaha sebagai pedagang musiman. Selama itu pula dirinya harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk kerugian yang tidak sedikit.
”Dari waktu ke waktu kerugian mulai membengkak, bahkan kami pernah rugi sampai Rp200 juta. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, sekarang saya lebih berhati-hati dalam menyetok barang untuk berjaga-jaga. Saya dan suami hanya berharap masih ada rezeki supaya bisa ikut membagikan THR kepada keluarga,” tutupnya. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Jelang Lebaran, Pedagang Minuman di Kendari Mengeluh: Pembeli Hanya Bertanya Lalu Pergi
















