28 May 2024
Indeks

Makna Tradisi Pakande-kandea, Bermula dari Penyambutan Laskar Kesultanan Buton

  • Bagikan
Tradisi Pakande-kandea
Pande sipo (gadis belum nikah) ketika menyuap seorang pria pada tradisi pakande-kandea. (Sumber foto: penelitian Alawi Muhammad Salim B)

SULTRATOP.COM – Salah satu tradisi masyarakat Buton di jazirah Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah pakande-kandea. Kearifan lokal ini terjaga dengan baik secara turun-temurun, sehingga tetap dapat eksis di wilayah Buton.

Tradisi pakande-kandea berasal dari bahasa daerah Wolio/Buton yaitu “kande-kandea” yang artinya makan-makan. Bukan sekadar makan biasa, pada acara adat ini ada sejumlah prosesi dan banyak orang berkumpul untuk makan bersama. Berbagai macam makanan khas lokal tersaji dalam talang makanan berbentuk lingkaran.

Iklan Astra Honda Sultratop

Tradisi pakande-kandea pada zaman dahulu untuk menyambut para prajurit yang pulang dari berperang. Para prajurit yang tergabung dalam Laskar Kesultanan Buton disambut dengan acara makan-makan dalam acara pakande-kandea.

Selain itu, dahulu juga acara pakande-kandea jadi ajang muda-mudi mencari jodoh. Dalam prosesinya tak jarang ada perempuan menyuap makanan ke pria. Mungkin istilahnya “dari suapan turun ke hati” bagi yang berjodoh.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan langsung tradisi pakande-kandea dapat berkunjung di Desa Baadia Kecamatan Betoambari Kota Baubau. Bagi masyarakat setempat, menyelenggarakan tradisi itu masih suatu keharusan.

Merujuk penelitian Alawi Muhammad Salim B, pada masyarakat Desa Baadia Kecamatan Betoambari terdapat tradisi pakande-kandea Kabolosi. Pakande-kandea Kabolosi merupakan kegiatan rutin masyarakat Baadia yang diadakan pada setiap tahunnya sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Tradisi ini didasarkan pada berbagai sudut pandang seperti di kalangan masyarakat tani yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan berkah dan karunia berupa keberhasilan panen usaha tani mereka. Di kalangan masyarakat nelayan sebagai ungkapan rasa syukur didasarkan atas limpahan berkah dan karunia berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah.

Kemudian, sebagai rasa syukur bagi orang-orang yang sembuh dari sakit serta sebagai ungkapan rasa syukur karena telah berhasil menunaikan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan dan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal.

Pakande-kandea kabolosi terdiri dari dua tahap yakni pakande-kandea yang diadakan pada siang hari dan “kande tompa” yang diadakan pada malam hari.

“Pakande-kandea termasuk juga kande tompa digunakan juga untuk menyambut tamu kehormatan, meski begitu hanyalah cerita yang beredar di masyarakat, pakande-kandea secara istilah merupakan makanan akbar sementara kande tompa memiliki makna makan dengan cara disuapin,” tulis Alawi yang mengutip pernyataan masyarakat Kelurahan Badia, Wa Ode Rahma (25 Tahun).

Selain masyarakat Baadia, masyarakat dari desa-desa sekitanya yang masuk dalam lingkup Kecamatan Betoambari juga melaksanakan tradisi Pakande-kandea walaupun ada perbedaan nama yakni “Foma-foma‟a” maupun Halal Bil Halal. Namun pelaksanaan Kande Tompa hanya ada di Baadia yang sekaligus menjadi acara puncak tradisi pakande-kandea.

“Namun era globalisasi dapat menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih modern. Akibatnya masyarakat yang lebih cenderung untuk memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dibadingkan dengan budaya lokal,” tulis Alawi dalam penelitian berjudul “Makna Tradisi Pakande-Kandea Bagi Masyarakat Kelurahan Baadia Kecamatan Murhum” pada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Tahun 2022.

Awal Mula Tradisi Pakande-kandea

Pada Katalog Naskah Buton; Koleksi Abdul Mulku Zahari/Achadiyati Ikram, et al menyatakan bahwa pada masyarakat Tolandona, pakande-kandea diartikan sebagai acara kumpul bersama untuk menyantap berbagai macam makanan khas daerah sebagai rasa syukur atas semua anugerah dari Yang Maha Kuasa. Pakande-kandea dilaksanakan seminggu setelah hari Raya Idul Fitri karena sesuai dengan bulan Ramadhan umat islam dapat melanjutkan dengan puasa Syawal.

Masih berdasarkan penelitian Alawi, tradisi pakande-kandea ini adalah tradisi yang biasa dilaksananakan masyarakat Kota Baubau setahun sekali. Selain dilaksanakan sekali setahun, masyarakat sudah memandang kegiatan ini semacam suatu keharusan dalam kehidupannya untuk dihadiri.

Antusias masyarakat untuk menghadiri acara pakande-kandea ini dibuktikan dengan banyaknya warga Kota Baubau dari berbagai kecamatan menghadiri kegiatan ini, termasuk kalangan pemerintah turut mendukung acara tersebut.

Talang berisi makanan untuk tradisi pakande-kandea. (Sumber foto: penelitian Alawi Muhammad Salim B)

Dari hasil penelusuran data Alawi, pakande-kandea merupakan tradisi yang dilakukan dalam menyambut pulangnya para Laskar Kesultanan Buton dari medan perang yang membawa kemenangan.

Kemudian pakande-kandea juga berkembang menjadi media pertemuan jodoh para muda-mudi etnis Wolio yaitu masyarakat yang mendiami Desa Baadia dan sebagai tanda syukur kepada Allah atas adanya hasil alam yang telah diberikan kepada umat manusia.

Jika para laskar tersebut kembali dengan membawa kemenangan, pakande-kandea jauh lebih meriah, para gadis bersiap dengan makanannya untuk menyuapkannya ke para anggota laskar yang lelah sebagai penghargaan atas perjuangan mereka di medan laga.

Di samping itu, acara ini merupakan ruang pertemuan muda mudi karena hanya pada acara seperti inilah remaja putra dan putri memperoleh kesempatan bebas untuk saling pandang.

Pergeseran Tradisi Pakande-kandea

Alawi menemukan bahwa proses tradisi pakande-kandea saat ini tidak sesakral proses pakande-kandea pada zaman dahulu. Hasil temuan data penelitian menunjukkan bahwa rangkaian prosesi dalam tradisi pakande-kandea telah mengalami penyusaian sesuai dengan perkembangan yang ada.

Seperti pada acara pakande-kandea sekarang diawali dengan tarian-tarian yang umum dilakukan untuk menyambut tamu pemerintah setempat serta tokoh-tokoh adat, kemudian sambutan-sambutan yang biasanya didahului oleh bupati kemudian sambutan tokoh adat setempat. Kemudian menceritakan sejarah tradisi pakande-kandea, hikmah tradisi pakande-kandea dan sebagainnya.

Berbagai menu makanan dari yang umum sampai khas tradisional Buton tersaji dalam setiap talang pakande-kandea. (Sumber foto: penelitian Alawi Muhammad Salim B)

Tradisi pakande-kandea dalam menyambut para pahlawan negeri laskar perang kesultanan Buton yang kembali dari medan perang juga sudah tidak ada lagi, serta media pertemuan jodoh para muda-mudi juga tidak banyak dilakukan.

“Saat ini, mayoritas prosesi dalam tradisi pakande-kandea saat ini diisi dengan penyampaian dan upaya refleksi sejarah agar nilai-nilai sejarah tidak hilang dan tetap terjaga dan mampu dilestarikan oleh generasi muda,” tulis Alawi.

Kendati demikian, prosesi dalam tradisi pakande-kandea tidak melupakan rangkaian wajib yang harus terpenuhi, terutama pada aspek persiapan pelaksanaan pakande-kandea. Seperti, sebelum membuka talam makanan, selalu diawali dengan bacaan-bacaan atau doa yang dibacakan untuk mengenang kembali pahlawan-pahlawan dahulu yang mengikuti peperangan, serta dimaksudkan sebagai tolak bala.

Lebih lanjut dijelaskan, semua peserta harus mempersiapkan pande sipo dengan sebaik-baiknya. Pande sipo (penjaga talang) menurut peradatan yang ditetapkan harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain yaitu gadis yang duduk sebagai pande sipo adalah gadis yang berstatus kabua-bua (gadis yang belum nikah), pande sipo (penjaga talang) tersebut belum mempunyai ikatan tunangan yang sudah resmi, harus memiliki kepribadian yang prima, harus berlaku sopan ketika memberikan sipo kepada siapa saja. (===)



google news sultratop.com
  • Bagikan