SULTRATOP.COM, KENDARI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat kualitas kredit perbankan di Sulawesi Tenggara tetap terjaga hingga Triwulan I 2026. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang masih berada pada level rendah, yakni sebesar 1,85 persen.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan sektor perbankan daerah masih berada dalam kondisi sehat di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang terus berlanjut.
Berdasarkan data OJK per Maret 2026, total kredit yang disalurkan perbankan di Sulawesi Tenggara mencapai Rp54,43 triliun atau tumbuh 4,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat yang sama, kualitas kredit tetap terjaga dengan NPL sebesar 1,85 persen.
Meski mengalami kenaikan dibandingkan posisi Maret 2025 yang tercatat 1,48 persen, tingkat NPL tersebut masih berada jauh di bawah ambang batas yang umumnya digunakan sebagai indikator kesehatan perbankan.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit yang terjadi masih diikuti dengan pengelolaan risiko yang baik oleh industri perbankan,” ujar Bismi dalam keterangan resmi OJK Sulawesi Tenggara.
Dari sisi komposisi, kredit konsumsi masih menjadi penopang utama penyaluran kredit di Sulawesi Tenggara dengan porsi sebesar 48,5 persen. Selanjutnya kredit modal kerja sebesar 32 persen dan kredit investasi sebesar 19,6 persen.
Sementara itu, penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp16,45 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total kredit perbankan daerah.
Namun demikian, rasio kredit bermasalah pada segmen UMKM tercatat sebesar 3,64 persen pada Maret 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada pada level 2,85 persen.
Meski begitu, OJK menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola oleh industri perbankan. Penyaluran kredit UMKM tetap menjadi salah satu fokus penting karena sektor tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di daerah.
Adapun sektor-sektor yang masih menjadi tujuan utama penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Tenggara meliputi sektor rumah tangga, perdagangan, pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan.
Selain kualitas kredit yang terjaga, fungsi intermediasi perbankan juga terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga Maret 2026, total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan mencapai Rp33,75 triliun atau tumbuh 5,25 persen secara tahunan. Sementara total aset perbankan mencapai Rp62,29 triliun atau meningkat 5,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Bismi, stabilitas sektor jasa keuangan daerah yang tetap terjaga menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara. Karena itu, OJK akan terus melakukan pengawasan terhadap industri jasa keuangan agar pertumbuhan yang terjadi tetap sehat dan berkelanjutan.
“OJK Sulawesi Tenggara akan terus memperkuat pengawasan serta mendorong industri jasa keuangan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian sehingga stabilitas sektor keuangan daerah tetap terjaga,” katanya.
Dengan rasio kredit bermasalah yang masih berada pada level rendah, perbankan Sulawesi Tenggara dinilai memiliki ruang yang cukup untuk terus meningkatkan penyaluran kredit guna mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha di daerah. (—)
Penulis: Jumriati
















