SULTRATOP.COM, KENDARI – Minat masyarakat Sulawesi Tenggara terhadap investasi di pasar modal terus menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Maret 2026, jumlah investor pasar modal di daerah ini tercatat mencapai 156.131 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 76,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara dalam infografis perkembangan Industri Jasa Keuangan (IJK) Sulawesi Tenggara Triwulan I 2026.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan pertumbuhan investor menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan instrumen investasi yang tersedia di pasar modal.
Berdasarkan data OJK, peningkatan jumlah investor didorong oleh pertumbuhan investor reksa dana, saham, dan Surat Berharga Negara (SBN) yang terus mengalami kenaikan dalam setahun terakhir.
Jumlah investor reksa dana tercatat mencapai 147.550 SID pada Maret 2026 atau tumbuh 78,4 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebanyak 82.699 SID. Sementara jumlah investor saham meningkat menjadi 51.620 SID dari sebelumnya 32.136 SID atau tumbuh 60,6 persen secara tahunan.
Adapun jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 3.259 SID atau meningkat 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 2.297 SID.
Selain pertumbuhan jumlah investor, aktivitas transaksi pasar modal masyarakat Sulawesi Tenggara juga masih menunjukkan tren positif. Hingga Maret 2026, nilai transaksi saham masyarakat mencapai Rp447,92 miliar dengan frekuensi transaksi sebanyak 134.502 kali.
OJK menilai peningkatan jumlah investor tersebut menjadi indikasi semakin luasnya inklusi keuangan di sektor pasar modal. Berbagai program edukasi dan literasi keuangan yang dilakukan secara berkelanjutan turut berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi yang legal dan diawasi.
Di tingkat wilayah, Kota Kendari masih menjadi daerah dengan aktivitas pasar modal terbesar di Sulawesi Tenggara. Posisi tersebut kemudian diikuti Kabupaten Kolaka dan Kota Baubau sebagai daerah dengan jumlah aktivitas investor yang cukup tinggi.
Bismi mengatakan perkembangan pasar modal yang terus meningkat merupakan sinyal positif bagi perekonomian daerah. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola keuangan dan membangun aset jangka panjang melalui instrumen investasi yang tersedia di pasar modal.
Menurutnya, OJK akan terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar masyarakat semakin memahami manfaat, risiko, serta karakteristik masing-masing instrumen investasi sebelum mengambil keputusan berinvestasi.
Selain memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan formal, edukasi juga menjadi langkah penting untuk mencegah masyarakat terjebak pada investasi ilegal yang masih kerap ditemukan di berbagai daerah.
Ke depan, OJK Sulawesi Tenggara akan terus memperkuat sinergi dengan pelaku industri jasa keuangan, Bursa Efek Indonesia, perguruan tinggi, serta pemerintah daerah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pasar modal secara sehat dan berkelanjutan.
Pertumbuhan jumlah investor yang mencapai 76,1 persen pada awal 2026 menjadi salah satu indikator positif perkembangan sektor jasa keuangan Sulawesi Tenggara sekaligus menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. (—)
Penulis: Jumriati
















