12 October 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kabut Asap Berpotensi Makin Pekat di Sultra, BMKG Ingatkan Penurunan Jarak Pandang

  • Bagikan
Kabut Asap Berpotensi Makin Pekat di Sultra, BMKG Ingatkan Penurunan Jarak Pandang
Kondisi udara wilayah timur Indonesia hingga barat dikepung asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (Foto: Istimewa)

SULTRATOP.COM, KENDARI β€” Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi peningkatan sebaran kabut asap di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, termasuk kiriman asap dari Maluku hingga Papua Selatan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena kabut asap berpotensi menurunkan jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Oktober 2026

Berdasarkan hasil observasi pada Senin (12/10/2026), citra satelit Himawari-9 menunjukkan adanya kabut asap di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya sejak dini hari hingga pagi hari. Kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga sore dan malam hari, dengan jarak pandang di beberapa lokasi dilaporkan kurang dari 5 kilometer.

Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan kondisi atmosfer masih memungkinkan terjadinya peningkatan konsentrasi asap yang dapat memperburuk jarak pandang.

Sebaran asap diperkirakan semakin pekat apabila kebakaran lahan masih terjadi di wilayah sekitar Sulawesi Tenggara maupun di daerah lain yang menjadi sumber kiriman asap.

Kualitas Udara Perlu Diwaspadai

Berdasarkan pemantauan konsentrasi partikulat halus PM2.5, kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara umumnya berada pada kategori sedang. Konsentrasi PM2.5 tercatat dalam rentang 15,5–55,4 mikrogram per meter kubik (Β΅g/mΒ³).

Pola kondisi tersebut diperkirakan berulang dalam beberapa hari ke depan sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi penurunan kualitas udara.

Sementara itu, pemantauan titik panas (hotspot) pada 12 Oktober 2026 pukul 00.00–12.00 Wita mencatat sebanyak 20 titik dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan pola angin regional, angin bertiup dari arah tenggara hingga selatan. Kondisi ini memungkinkan asap menyebar ke Sulawesi Tenggara, tidak hanya dari kebakaran yang terjadi di wilayah kabupaten dan kota setempat, tetapi juga dari luar provinsi, termasuk Maluku dan Papua Selatan.

Faizal mengatakan, potensi peningkatan konsentrasi asap perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama jika kebakaran lahan masih berlangsung di wilayah sumber asap.

BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan guna mengurangi dampak paparan kabut asap.

Masyarakat disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela rumah ketika asap semakin pekat, serta memperbanyak konsumsi air putih.

Kelompok rentan, seperti lanjut usia (lansia), bayi dan anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan riwayat penyakit kronis, khususnya gangguan paru-paru, dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

β€œTerus memantau informasi dari BMKG untuk memastikan mitigasi dampak kekeringan hingga kiriman asap karhutla bisa dilakukan dengan baik,” kata Faizal Habibie kepada Sultratop.com.

BMKG juga mengingatkan bahwa asap kiriman dari luar Sulawesi Tenggara berpotensi semakin pekat dan menyebabkan jarak pandang kian terbatas, terutama apabila kebakaran lahan masih terjadi di wilayah sekitar.

Berdasarkan kondisi atmosfer terkini, BMKG memprakirakan potensi kabut asap kategori sedang pada 13–14 Oktober 2026 di sejumlah wilayah.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Muna, dan Muna Barat.

Potensi serupa juga perlu diwaspadai di Kota Baubau, Kabupaten Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, serta Wakatobi.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara setempat.

Bagi pengguna jalan, operator transportasi laut, dan penerbangan, potensi penurunan jarak pandang perlu menjadi perhatian dalam menjaga keselamatan perjalanan.

Masyarakat juga diminta terus memperbarui informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait agar langkah mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya karhutla dan dampak sebaran asap, dapat dilakukan secara tepat. (B/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi β†’
  • Bagikan