SULTRATOP.COM, KENDARI – Ratusan pengemudi ojek online (ojol) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar konvoi kemerdekaan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI), Senin (17/8/2026).
Dalam momentum tersebut, mereka turut menyuarakan persoalan kesejahteraan, potongan aplikator, hingga konflik dengan pengemudi ojek di kawasan pelabuhan.
Kegiatan bertajuk Konvoi Kemerdekaan Ojol Kota Kendari itu diikuti ratusan pengendara roda dua dari berbagai komunitas. Mereka membawa semangat persatuan sekaligus menyampaikan aspirasi terkait kondisi yang dihadapi para pengemudi ojol dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Konvoi tersebut mendapat perhatian kepolisian lalu lintas Polresta Kendari dan Polda Sultra. Sejumlah personel kepolisian dikerahkan untuk mengawal jalannya konvoi agar berlangsung tertib dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Ketua penanggung jawab kegiatan, La Ode Sadarudin (46), mengatakan momentum kemerdekaan menjadi kesempatan bagi para pengemudi ojol untuk menyuarakan persoalan kesejahteraan yang hingga kini masih mereka hadapi.
Menurutnya, para pengemudi merasa belum sepenuhnya merdeka dari persoalan ekonomi, terutama akibat potongan aplikator dan pendapatan yang dinilai belum sebanding dengan beban serta risiko pekerjaan.
“Sampai hari ini, tuntutan keadilan tarif masih terus bergema di kalangan mitra pengemudi. Kami juga menuntut keadilan dari platform karena pendapatan rendah dan lemahnya perlindungan kerja,” kata La Ode Sadarudin kepada Sultratop.com.
Ia menilai kerentanan pengemudi ojol tidak terlepas dari kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada kelompok pekerja. Apalagi, kata dia, mayoritas pengemudi ojol berada pada kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
“Kami butuh sistem keberimbangan dan pro terhadap ojek yang mengais rezeki tanpa mengenal waktu. Kehadiran kami sangat mendorong kemajuan ekonomi kota ini. Maka dari itu, pemerintah wajib memberikan ruang aman dan pasti terhadap kesejahteraan ekonomi pekerja,” ujarnya.
Sadarudin berharap pemerintah dapat membuat regulasi yang mampu mengawasi sistem kerja perusahaan aplikator sehingga asas manfaat dapat dirasakan secara lebih adil oleh para pengemudi.
Ia menyebut kepercayaan antara pengemudi dan perwakilan aplikator belakangan semakin memudar karena belum adanya kepastian yang jelas mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Selain persoalan pendapatan, ia menyoroti lemahnya perlindungan sosial bagi pengemudi ojol. Kondisi tersebut, menurutnya, meningkatkan kerentanan terhadap risiko kecelakaan dan membuat posisi pengemudi tidak seimbang dalam hubungan kerja dengan pemilik platform.
Di momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, para pengemudi ojol juga mendorong penguatan organisasi dan perjuangan regulasi khusus bagi pekerja daring yang bermitra dengan sejumlah platform, seperti Grab, Gojek, Maxim, dan ShopeeFood.
Tak hanya persoalan aplikator, Sadarudin turut menyoroti aspek keamanan pengemudi layanan daring di sejumlah kawasan pelabuhan di Kendari.
Ia mengaku para driver masih kerap menghadapi intimidasi, penghalangan, ancaman, hingga dugaan tindakan penganiayaan, khususnya di wilayah Pelabuhan Wawonii maupun Pelabuhan Nusantara Kendari.
“Belakangan gesekan antara driver online dan pengemudi ojek pelabuhan memang belum menemukan titik terang,” ucapnya.
Sementara itu, Kaur Bin Ops (KBO) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Kendari, IPTU Romo Syam, mengatakan pihaknya menyiagakan sejumlah personel dan dua unit mobil pengawal untuk mengamankan jalannya kegiatan.
Romo Syam menjelaskan, pengawalan dilakukan untuk memastikan konvoi para ojol berjalan tertib sepanjang rute yang telah ditentukan.
“Insyaallah teman-teman ojol bisa tertib menggelar kegiatan konvoi,” singkat Romo Syam.
Adapun konvoi dimulai dari pelataran Eks-MTQ Kendari, kemudian bergerak memutar menuju Polda Sultra dan kembali berakhir di lokasi semula. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma





















