4 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Museum Sultra Gelar Pameran Wastra Bumi Anoa 2026, Angkat Warisan Pakaian Adat Kulit Kayu

  • Bagikan
Museum Sultra Gelar Pameran Wastra Bumi Anoa 2026, Angkat Warisan Pakaian Adat Kulit Kayu
Pakean adat yang terbuat dari lapisan kayu pada ajang Pameran Wastra Bumi Anoa Tahun 2026 menampilkan warisan pakean adat kayu dan tenun Sulawesi Tenggara (Sultra), mendorong keberlanjutan, pelestarian, dan pemberdayaan masyarakat sebagai ajang promosi budaya daerah. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Pameran Wastra Bumi Anoa 2026 dengan menampilkan berbagai koleksi wastra tradisional, termasuk pakaian adat berbahan kulit kayu yang menjadi salah satu warisan budaya khas Sultra. Pameran ini digelar sebagai upaya melestarikan, mempromosikan, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Wastra secara arti kata adalah kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan, contohnya batik, tenun, songket dan sebagainya.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Pameran yang berlangsung di Gedung Kontemporer Museum dan Taman Budaya Sultra itu dibuka pada Senin (3/8/2026). Kegiatan yang diinisiasi UPTD Museum dan Taman Budaya Sultra tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Aris Badara, para kepala sekolah, serta perwakilan sejumlah kabupaten di Sultra.

Museum Sultra Gelar Pameran Wastra Bumi Anoa 2026, Angkat Warisan Pakaian Adat Kulit Kayu
Yang paling menyita perhatian adalah pakean adat kulit kayu, menggunakan material berbahan lapisan luar kulit kayu setelah itu terbagi menjadi kategori jenis, antara lain; 1. Rok kulit kayu (Rumbai-Rumbai), 2. Baju dan celana (Kinawo/Sinolumi), 3. Pakaian bangsawan (Niroko), serta 4. Pakaian kalangan menegah (Niroko). (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian pengunjung adalah pakaian adat berbahan kulit kayu. Busana tradisional ini dibuat dari lapisan luar kulit kayu dan terdiri atas beberapa jenis, yakni rok kulit kayu (rumbai-rumbai), baju dan celana (kinawo/sinolumi), pakaian bangsawan (niroko), serta pakaian untuk kalangan menengah (niroko).

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum dan Taman Budaya Sultra, La Uddin, mengatakan pameran tersebut menghadirkan pakaian adat yang pernah digunakan masyarakat pada masa lampau beserta beragam corak kain tenun etnis sebagai upaya menyegarkan kembali ingatan masyarakat terhadap warisan budaya daerah.

Menurutnya, pameran merupakan salah satu media komunikasi yang efektif untuk mempromosikan benda-benda budaya. Di tengah perkembangan tren busana modern, pelestarian kain tenun tradisional perlu terus didorong agar nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

Bahkan, sejumlah daerah seperti Kabupaten Bombana, Konawe Utara, dan Buton Tengah turut ambil bagian dalam pameran sebagai bentuk kolaborasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sultra.

Museum Sultra Gelar Pameran Wastra Bumi Anoa 2026, Angkat Warisan Pakaian Adat Kulit Kayu
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tenggara , La Uddin. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

“Kain tradisional sudah sangat langka. Atas dasar itu Museum dan Taman Budaya Sultra berkeinginan melibatkan peserta dari 17 kabupaten/kota agar kegiatan ini semakin ramai dan antusias,” kata La Uddin kepada Sultratop.com, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, dari hasil kerajinan tangan para perajin budaya lahir berbagai produk wastra, mulai dari selendang, sarung, hingga pakaian adat yang masih mampu bertahan di tengah perkembangan busana modern. Seluruh koleksi tersebut dipamerkan agar masyarakat semakin mengenal identitas budaya Sultra.

Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 Agustus 2026 itu menampilkan berbagai koleksi tenun dan wastra dari sejumlah daerah di Sultra. Kegiatan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak masyarakat untuk berkunjung sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya.

“Karena diselenggarakan di Gedung Kontemporer, kami berencana menambahkan durasi kegiatan hingga akhir Agustus. Dengan waktu yang lebih panjang, masyarakat bisa menyempatkan diri berkunjung sembari menikmati nuansa kemerdekaan,” tegas La Uddin. (B/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan