SULTRATOP.COM – Sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) diperkirakan masih akan dilanda musim kemarau hingga awal September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di hampir seluruh daerah berada pada kategori rendah, sementara sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan hingga 60 hari dan berpotensi menghadapi dampak kekeringan apabila kondisi tersebut terus berlanjut.
Berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan, analisis, dan prediksi curah hujan dasarian Sultra yang diperbarui pada 31 Juli 2026, Prakirawan BMKG Siti Risnayah mengatakan wilayah Sultra saat ini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga sangat panjang.
Wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori panjang (21–30 hari) meliputi Kecamatan Samaturu di Kabupaten Kolaka serta Kecamatan Kabawo dan Tongkuno di Kabupaten Muna.
Sementara itu, wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang (31–60 hari) meliputi Kecamatan Betoambari dan Bungi di Kota Baubau, Kecamatan Kabaena Barat, Poleang Timur, Poleang Barat, dan Matausu di Kabupaten Bombana, Kecamatan Batauga, Sampolawa, Kadatua, dan Siompu di Kabupaten Buton Selatan, Kecamatan Toari di Kabupaten Kolaka, Kecamatan Tinanggea, Lainea, dan Andoolo di Kabupaten Konawe Selatan, serta Kecamatan Kontunaga di Kabupaten Muna.
“Analisis curah hujan dasarian pada akhir Juli 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Sultra mengalami curah hujan kategori rendah (0–50 mm), kecuali di sebagian wilayah Kolaka Utara, Konawe, dan Konawe Utara yang mengalami curah hujan kategori menengah (51–150 mm), serta di sebagian wilayah Konawe Utara yang mengalami curah hujan kategori tinggi (151–300 mm),” kata Siti Risnayah.
Ia menjelaskan, pada akhir Juli 2026 seluruh wilayah Sultra diprediksi memiliki peluang sangat tinggi mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari atau sama dengan 50 mm per dasarian.
Secara umum, lanjutnya, pada awal Agustus hingga awal September 2026 wilayah Sultra diperkirakan masih didominasi curah hujan kategori rendah, yakni berkisar 0–50 mm per dasarian.
BMKG mengimbau seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak perubahan iklim, seperti potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan terus waspada terhadap berbagai dampak perubahan iklim di sekitar kita. Pastikan memperbarui informasi cuaca dan iklim dari sumber terpercaya melalui akun-akun resmi BMKG. Demikian kami sampaikan. Semoga bermanfaat,” tutup Siti. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma



















