8 July 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Antrean Pertalite Mengular di Sejumlah SPBU Kendari, Warga Berjam-jam Mengantre

  • Bagikan
Antrean Pertalite Mengular di Sejumlah SPBU Kendari, Warga Berjam-jam Mengantre
Tampak antrian kendaraan jenis sepeda motor di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU) Pertamina THR di Jalan Budi Utomo, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari, (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan solar masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (8/7/2026). Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat karena dinilai menghambat aktivitas dan pekerjaan sehari-hari.

Pantauan Sultratop.com di lapangan menunjukkan antrean kendaraan roda empat mendominasi hampir seluruh SPBU di Kota Kendari. Di SPBU THR Jalan Budi Utomo, antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter. Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Ade di Jalan Poros Bandara Haluoleo (By Pass) serta SPBU Bonggoeya di Jalan Wulele yang dipadati mobil pribadi, pikap, hingga truk.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Sementara itu, antrean di SPBU Rabam, Jalan Jenderal Ahmad Yani, juga terpantau cukup panjang meski berlangsung lebih tertib. Sebelumnya, pada Sabtu (4/7/2026), antrean di SPBU Kota Lama bahkan sempat mengular hingga Pelabuhan Feri Kendari–Wawonii. Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Teratai Bypass, di mana barisan kendaraan memanjang hingga depan Rumah Makan Ayam Goreng Bang Awal.

Sebagian pengendara memilih membeli BBM nonsubsidi jenis Pertamax agar tidak menghabiskan waktu menunggu giliran mengisi Pertalite.

Antrean Pertalite Mengular di Sejumlah SPBU Kendari, Warga Berjam-jam Mengantre
Operator SPBU Pertamina Ade mengisi BBM jenis Pertalite kepada konsumen, di Jalan Poros Bandara Haluoleo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari terpantau kendaraan ramai. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Salah seorang pengendara sepeda motor yang enggan disebutkan namanya mengaku memilih beralih ke Pertamax karena tidak memiliki banyak waktu untuk mengantre.

“Kita ini orang kerja, tidak bisa terlalu lama antre Pertalite,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan La Ode Nursidin (51), pedagang ikan keliling. Ia mengaku kehilangan waktu berjualan karena harus mengantre BBM hingga berjam-jam.

“Terlalu lama mengantre. Jualan masih ada di kendaraan, akhirnya pelanggan mengira saya tidak berjualan, padahal saya sedang antre BBM. Paling cepat antre satu jam,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga BBM nonsubsidi agar masyarakat yang mampu beralih ke Pertamax, sehingga antrean BBM bersubsidi dapat berkurang.

Hal senada disampaikan Haikal (21), pengemudi mobil pikap yang mengantarkan telur. Menurutnya, antrean panjang membuat pengiriman pesanan pelanggan sering terlambat.

“Jujur kami kesulitan. Pesanan jadi terlambat diantar. Kemarin saya antre sampai empat sampai lima jam, bahkan saat masih di tengah antrean, BBM sudah habis,” ujarnya.

Berbeda dengan pengguna Pertalite, Cici Claudia (31) mengaku tetap menggunakan Pertamax meski harganya lebih mahal. Menurutnya, pilihan tersebut lebih efisien karena tidak perlu menghabiskan waktu mengantre.

Antrean Pertalite Mengular di Sejumlah SPBU Kendari, Warga Berjam-jam Mengantre
SPBU Bonggoeya, di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

“Memang kenaikan harga cukup membebani, tetapi saya tetap memilih Pertamax karena lebih praktis dan juga lebih baik untuk kendaraan,” katanya.

Sementara itu, Pengelola SPBU Ade, Salahuddin, mengatakan pihaknya terus mengawasi proses penyaluran BBM agar tepat sasaran. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menandai kendaraan yang telah mengisi BBM untuk mencegah pengisian berulang.

“Kami melakukan pengawasan agar tidak ada kendaraan yang mengisi dua kali. Stok BBM saat ini juga cukup, bahkan ada penambahan pasokan dari depot,” jelasnya.

Ia menambahkan, khusus kendaraan tertentu seperti Suzuki Thunder, pengisian BBM dibatasi maksimal 10 liter sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pembatasan ini sudah lama diterapkan melalui sistem barcode. Kami juga terus mengingatkan operator agar menegur konsumen yang tidak mematuhi aturan,” katanya.

Menanggapi antrean yang terjadi, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan stok Pertalite di Kota Kendari dalam kondisi aman. Perusahaan menyebut antrean dipicu meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi dalam beberapa hari terakhir, salah satunya akibat tingginya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah.

Sales Branch Manager II Fuel Sultra Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Didi Rushadi, mengatakan pihaknya telah mengoptimalkan distribusi dengan memprioritaskan pengiriman ke SPBU yang memiliki permintaan tinggi.

“Pasokan Pertalite tetap tersedia dan terus kami distribusikan sesuai kebutuhan. Kami juga melakukan pengaturan distribusi ke SPBU dengan permintaan tinggi agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal,” ujar Didi.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan Pertamina terus berkoordinasi dengan Hiswana Migas, pemerintah daerah, dan aparat terkait untuk membantu pengaturan antrean serta memastikan penyaluran BBM bersubsidi tetap berjalan lancar.

Pertamina juga mengimbau masyarakat tetap tenang, membeli BBM sesuai kebutuhan, serta memanfaatkan Pertamina Contact Center 135 apabila membutuhkan informasi atau ingin menyampaikan pengaduan terkait layanan BBM. (A/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan