SULTRATOP.COM, KENDARI — Rentetan gempa bumi bermagnitudo besar yang mengguncang sejumlah wilayah dunia baru-baru ini—mulai dari California Utara di Amerika Serikat, Venezuela, hingga Jepang—sempat memicu kecemasan masyarakat di Tanah Air, termasuk di Sulawesi Tenggara (Sultra). Banyak warga khawatir aktivitas seismik global yang beruntun tersebut dapat memicu guncangan serupa di wilayah Bumi Anoa.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kendari memberikan penjelasan ilmiah untuk meluruskan persepsi publik.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Kendari, Ilham, menegaskan bahwa secara sains geologi, aktivitas gempa di belahan dunia lain tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kondisi tektonik lokal di Indonesia.
“Secara sains, gempa global tersebut tidak serta-merta saling berkaitan atau memicu gempa bumi yang lain, termasuk untuk skala lokal di Sultra,” ujar Ilham saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).
Pernyataan BMKG ini sejalan dengan analisis dari Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono. Ia mengungkapkan bahwa sumber kekuatan dari ketiga gempa global tersebut berasal dari sistem yang sama sekali berbeda, sehingga tidak saling memicu satu sama lain.
Menurut Daryono, gempa yang terjadi di California Utara dan Venezuela murni dipicu oleh aktivitas sesar atau patahan aktif di daratan/kerak dangkal. Sementara itu, gempa besar yang mengguncang Jepang bersumber dari zona subduksi atau yang populer dikenal sebagai megathrust. Karena mekanisme tumbukan pembentuk gempanya berbeda dan jaraknya sangat jauh, rentetan bencana tersebut tidak memiliki efek domino ke Indonesia.
Sesar Lokal Sultra Tetap Aktif
Meski aman dari pengaruh gempa di luar negeri, BMKG mengingatkan bahwa Sultra memang berada di zona aktif karena memiliki jalur patahan (sesar) lokal sendiri. Jadi, kewaspadaan harus tetap dijaga bukan karena isu global, melainkan karena aktivitas bumi di daerah sendiri.
Sebagai bukti keaktifan sesar lokal, BMKG mencatat gempa bumi terbaru berkekuatan 4.5 M sempat mengguncang Konawe Utara pada 29 Mei 2026 lalu akibat aktivitas Sesar Lawanopo. Beruntung, tidak ada laporan kerusakan dari peristiwa tersebut.
Selain itu, catatan historis terdekat menunjukkan gempa merusak pernah menghantam Kolaka Timur pada awal tahun 2025 lalu dengan kekuatan 5.1 M akibat adanya sesar baru (normal fault).
“Hingga saat ini di Kolaka Timur masih sering terjadi gempa bumi berskala kecil dan terus kami pantau secara intensif,” tambah Ilham.
Karena potensi gempa bumi di Sultra tidak bisa dihilangkan, Stasiun Geofisika Kendari mengimbau masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan, melainkan fokus meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi bencana.
Guna mencapai target zero victim (nol korban jiwa), BMKG secara rutin menggelar edukasi publik seperti program BMKG Goes To School serta Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami ke berbagai wilayah rentan.
“Kami juga mengajak seluruh stakeholder, akademisi, dan pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih dalam menciptakan masyarakat yang tangguh bencana. Pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan sesudah gempa adalah kunci keselamatan utama,” pungkas Ilham. (—)
Penulis: Jumriati















