10 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Produksi Padi Kolut Hanya Penuhi 13-15 Persen Kebutuhan Masyarakat, 85 Persen Dipasok Daerah Tetangga

  • Bagikan
Produksi Padi Kolut Hanya Penuhi 13-15 Persen Kebutuhan Masyarakat, 85 Persen Dipasok Daerah Tetangga
Ilustrasi

SULTRATOP.COM, KOLAKA UTARA — Produksi padi di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra), ternyata masih jauh dari kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2025, produksi padi daerah tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 13 hingga 15 persen kebutuhan.

Kondisi itu membuat sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Kolaka Utara masih bergantung pada pasokan dari kabupaten-kabupaten tetangga.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kolaka Utara, Nusba Nuhung, mengatakan produksi padi pada periode April hingga September 2025 tercatat sekitar 923 ton.

“Untuk tahun 2025, kami punya data. Karena kami bekerja hanya sampai gabah saja. Jadi untuk bulan April-September tahun 2025 itu 923 ton,” jelas Nusba Nuhung saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi tersebut baru mampu memenuhi sekitar 13 hingga 15 persen kebutuhan.

“Kalau dikalkulasi sesuai dengan perhitungan BPS, kita hanya akan mencapai 13-15 persen kebutuhan yang bisa kita penuhi dari produksi padi kita. Sehingga yang 85 persen itu impor dari kabupaten-kabupaten tetangga,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi padi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Nusba mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi Kolaka Utara adalah keterbatasan lahan. Padahal, pemerintah daerah sebenarnya mendapat keleluasaan dari Kementerian Pertanian untuk membuka atau mencetak sawah rakyat.

“Sebenarnya di kementerian kita diberikan keleluasaan untuk membuka cetak sawah rakyat. Hanya persoalannya di sini kita tidak punya lahan,” katanya.

Keterbatasan lahan membuat perluasan areal persawahan menjadi sulit dilakukan. Karena itu, pemerintah daerah kini lebih fokus meningkatkan produktivitas lahan yang sudah tersedia.

Salah satu upaya yang didorong pemerintah daerah adalah meningkatkan intensitas tanam sehingga petani dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.

“Kita hanya berupaya kepada masyarakat supaya kita bisa panen tiga kali. Tanamnya harus cepat, kemudian perlakuan-perlakuan yang sesuai SOP supaya bisa mengangkat produksinya,” ujarnya.

Saat ini, uji coba pola panen tiga kali setahun dilakukan di Kecamatan Rante Angin. Program tersebut telah memasuki pengulangan kedua dan ditargetkan memasuki masa panen pada akhir Agustus 2026.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Nusba mengaku khawatir pelaksanaan pengulangan ketiga atau panen ketiga dapat mengalami keterlambatan karena kesibukan petani, terutama saat memasuki musim cengkeh.

“Yang saya khawatirkan untuk panen ketiga, pengulangan ketiga, itu bisa mundur karena beberapa faktor. Kesibukan petani kita, terutama menghadapi musim cengkeh,” tandasnya. (B/ST)

Penulis: Rusman Edogawa
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan