18 June 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

8 Kematian dari 123 Kasus HIV di Sultra, Wakatobi dan Kendari Jadi Sorotan

  • Bagikan
8 Kematian dari 123 Kasus HIV di Sultra, Wakatobi dan Kendari Jadi Sorotan
Ilustrasi

SULTRATOP.COM, KENDARI – Dari total 123 kasus HIV/AIDS yang tercatat di Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang Januari hingga Maret 2026, sebanyak 8 pasien dilaporkan meninggal dunia.

Angka itu menjadi perhatian serius di tengah upaya penanganan yang terus digencarkan pemerintah daerah.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra menunjukkan, kematian tersebar di beberapa wilayah dengan karakteristik berbeda. Kota Kendari sebagai daerah dengan kasus tertinggi mencatat 3 kematian dari 59 kasus, meski sebagian besar pasien telah menjalani pengobatan.

Di Kabupaten Wakatobi, situasi lebih mengkhawatirkan. Dari 8 kasus yang ditemukan, 2 pasien dilaporkan meninggal dunia, menjadikannya daerah dengan rasio kematian tertinggi dibanding jumlah kasus.

Sementara itu, masing-masing 1 kasus kematian juga tercatat di Kota Baubau, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) dan Kabupaten Buton Utara (Butur). Adapun daerah lain belum menunjukkan lonjakan kematian yang signifikan, meski kasus penularan tetap ada.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Sultra, Andi Edy Surahmat menyebut, angka kematian itu menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan bagi pasien HIV. Selain itu, pergeseran pola penularan juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian kasus.

“Penanganan tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan,” ujarnya di Kendari pada Kamis (30/4/2026).

Adapun jumlah kasus HIV di Sultra periode Januari hingga Maret 2026 yang tercatat di Dinkes Sultra, yaitu Kendari (59 kasus), Baubau (11), Wakatobi (8), Kolaka (7), Konawe Selatan (6), Kolaka Timur (6), Buton Tengah (5), Muna (5), Buton (4), Buton Utara (4), Kolaka Utara (3), Bombana (2) Buton Selatan (1), Konawe (1), Muna Barat (1), Konawe Kepulauan (0), dan Konawe Utara (0 kasus).

Menurut dr Edy, tingginya mobilitas penduduk menjadi faktor utama penyebaran. Baubau sebagai daerah transit dengan aktivitas pelabuhan yang padat memiliki risiko tinggi, sementara Kendari sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan menjadi titik konsentrasi kasus.

Sebagai langkah penanganan, dinkes mendorong penguatan edukasi dan sosialisasi di seluruh kabupaten/kota. Selain itu, pihaknya mengusulkan kolaborasi dengan Balai Karantina Kesehatan untuk melakukan skrining terhadap pendatang, khususnya tenaga kerja dari luar daerah yang masuk ke Sultra.

Upaya edukasi juga difokuskan pada kelompok berisiko melalui pendekatan langsung. Materi yang disampaikan mencakup cara penularan HIV, pentingnya deteksi dini, serta penerapan perilaku hidup sehat. Tenaga medis, tokoh agama, dan masyarakat dilibatkan untuk memperkuat pesan sosial. (B/ST)

Kontributor: Ismu Samadhani

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan