18 July 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Dulu Ramai Pembeli, Kini Nyaris Mati: Nasib Pedagang Pasar Mandonga Kian Terpuruk

  • Bagikan
Dulu Ramai Pembeli, Kini Nyaris Mati: Nasib Pedagang Pasar Mandonga Kian Terpuruk
Kondisi lorong penjual sepatu dan tas sepi pengunjung dari tahun ke tahun. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Dulu menjadi pusat keramaian dan denyut ekonomi warga, Pasar Basah Mandonga di Kota Kendari kini justru kehilangan pesonanya dan nyaris mati. Lorong-lorong yang pernah dipadati pembeli berubah lengang, sementara para pedagang hanya bisa bertahan di tengah sepinya transaksi dan ancaman kebangkrutan yang kian nyata.

Saat menyapa awak redaksi Sultratop, raut wajah para pedagang tampak lesu. Senyum yang dipaksakan terselip di antara tatapan kosong penuh harap. Ada yang hanya mengangguk pelan, ada pula yang mencoba bercanda tipis, tapi tak mampu menyembunyikan kegelisahan yang mereka rasakan setiap hari menunggu pembeli yang tak kunjung datang.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Mereka mengeluhkan kondisi yang sepi selama beberapa tahun terakhir. Pengunjung dan pembeli tak lagi tertarik mampir ke dalam pasar.

Penyebabnya beragam, mulai dari maraknya belanja online, perang harga, diskon besar-besaran, hingga tren busana yang terus berubah dan membuat produk UMKM ketinggalan zaman.

Kekhawatiran pedagang makin memuncak setelah puluhan kios pakaian dan sepatu tutup satu per satu sepanjang tahun. Kini, hanya pedagang kebutuhan pokok dan bumbu dapur yang masih relatif ramai.

Selebihnya, banyak pelaku usaha hanya bisa menunggu waktu. Bayang-bayang kebangkrutan menghantui, sementara sebagian lainnya tetap memaksakan bertahan meski risiko rugi sudah di depan mata.

Pantauan di lapangan, lantai satu yang dihuni penjual sepatu, pakaian hingga salon kecantikan tampak lengang bak bangunan kosong. Bahkan, saking sepinya, karyawan salon terlihat tertidur sambil menggenggam telepon genggam tanpa rasa khawatir, sementara beberapa lainnya berkeliaran tanpa menjaga dagangan.

Dulu Ramai Pembeli, Kini Nyaris Mati: Nasib Pedagang Pasar Mandonga Kian Terpuruk
Tampak depan pedagang pakaian anak terlihat sunyi. (Foto: Bambang Sutrisno/SULTRATOP.COM)

Seorang pedagang pakaian anak, Dewi, saat ditemui Senin (6/4/2026), menceritakan kondisi pahit yang dialaminya. Ia mengaku kerap tidak mendapatkan pembeli sama sekali dalam sehari.

“Dulu orang datang ke sini sampai ratusan. Kalau sepi paling puluhan orang, itu pun masih ramai. Sekarang berbalik 90 derajat, sangat sepi karena penjual sudah banyak di luar dan online shopping pakaian,” kata Dewi.

Ia menyadari selera konsumen telah bergeser sejak munculnya clothing lokal ternama yang semakin populer di era media sosial.

“Parah sekali pendapatan omzet, turunnya sampai bikin risau. Takut bangkrut kami sebenarnya. Jujur, kalau tidak ada pembeli, pemasukan tidak bisa tutup biaya sewa bulanan, belum lagi biaya makan dan lainnya. Saya berharap orang-orang tetap kembali ke pasar untuk mendukung UMKM,” ungkapnya.

Hal serupa juga dirasakan Tina, karyawan toko sepatu. Ia mengatakan banyak pengunjung hanya datang untuk melihat-lihat tanpa membeli.

Dulu Ramai Pembeli, Kini Nyaris Mati: Nasib Pedagang Pasar Mandonga Kian Terpuruk

“Mulai dari tahun 2023 pembeli pelan-pelan turun, sampai tahun ini makin parah. Jelang Lebaran Idulfitri, kami sempat optimis akan ramai, tapi tetap saja sepi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemasukan yang didapat tidak sebanding dengan biaya operasional harian. Bahkan, kondisi itu memaksa pemilik usaha mengurangi jumlah karyawan.

“Karena kurang pemasukan, bos sempat bingung mau bayar karyawan dan sewa tempat. Akhirnya pekerja dikurangi, dari dua shift sekarang tinggal sendiri jaga toko. Alhamdulillah gaji tidak dikurangi,” imbuhnya.

Direktur Perumda Pasar Kota Kendari, Asnar, menjelaskan bahwa pada awal masa kepemimpinannya, pihaknya sempat menurunkan tarif sewa untuk meringankan beban pedagang.

“Jujur saya tidak bisa berkomentar banyak soal pendapatan pribadi pedagang, karena persaingan dengan pasar murah dan belanja online. Kami bekerja berdasarkan Peraturan Wali Kota tentang tarif. Alhamdulillah sudah ada penurunan dan kami juga sudah sosialisasi. Bahkan tarif kami lebih murah dibandingkan Disperindag,” jelasnya.

Ia juga mengaku prihatin dengan kondisi pedagang, khususnya penjual pakaian dan sepatu yang terdampak persaingan harga.

“Saya prihatin dengan kondisi pedagang yang bertahan menghadapi situasi ini. Beberapa sudah beralih usaha, seperti jual sayur dan lainnya. Saya berharap mereka bisa melewati cobaan ini,” pungkasnya. (A/ST)

Laporan: Bambang Sutrisno

@sultratop

Dulu menjadi pusat keramaian dan denyut ekonomi warga, Pasar Basah Mandonga di Kota Kendari kini justru kehilangan pesonanya dan nyaris mati. Lorong-lorong yang pernah dipadati pembeli berubah lengang, sementara para pedagang hanya bisa bertahan di tengah sepinya transaksi dan ancaman kebangkrutan yang kian nyata. Saat menyapa awak redaksi Sultratop, raut wajah para pedagang tampak lesu. Senyum yang dipaksakan terselip di antara tatapan kosong penuh harap. Ada yang hanya mengangguk pelan, ada pula yang mencoba bercanda tipis, tapi tak mampu menyembunyikan kegelisahan yang mereka rasakan setiap hari menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Mereka mengeluhkan kondisi yang sepi selama beberapa tahun terakhir. Pengunjung dan pembeli tak lagi tertarik mampir ke dalam pasar. Penyebabnya beragam, mulai dari maraknya belanja online, perang harga, diskon besar-besaran, hingga tren busana yang terus berubah dan membuat produk UMKM ketinggalan zaman. Kekhawatiran pedagang makin memuncak setelah puluhan kios pakaian dan sepatu tutup satu per satu sepanjang tahun. Kini, hanya pedagang kebutuhan pokok dan bumbu dapur yang masih relatif ramai. Selebihnya, banyak pelaku usaha hanya bisa menunggu waktu. Bayang-bayang kebangkrutan menghantui, sementara sebagian lainnya tetap memaksakan bertahan meski risiko rugi sudah di depan mata. Pantauan di lapangan, lantai satu yang dihuni penjual sepatu, pakaian hingga salon kecantikan tampak lengang bak bangunan kosong. Bahkan, saking sepinya, karyawan salon terlihat tertidur sambil menggenggam telepon genggam tanpa rasa khawatir, sementara beberapa lainnya berkeliaran tanpa menjaga dagangan. Seorang pedagang pakaian anak, Dewi, saat ditemui Senin (6/4/2026), menceritakan kondisi pahit yang dialaminya. Ia mengaku kerap tidak mendapatkan pembeli sama sekali dalam sehari. "Dulu orang datang ke sini sampai ratusan. Kalau sepi paling puluhan orang, itu pun masih ramai. Sekarang berbalik 90 derajat, sangat sepi karena penjual sudah banyak di luar dan online shopping pakaian," kata Dewi. Ia menyadari selera konsumen telah bergeser sejak munculnya clothing lokal ternama yang semakin populer di era media sosial. "Parah sekali pendapatan omzet, turunnya sampai bikin risau. Takut bangkrut kami sebenarnya. Jujur, kalau tidak ada pembeli, pemasukan tidak bisa tutup biaya sewa bulanan, belum lagi biaya makan dan lainnya. Saya berharap orang-orang tetap kembali ke pasar untuk mendukung UMKM," ungkapnya. Hal serupa juga dirasakan Tina, karyawan toko sepatu. Ia mengatakan banyak pengunjung hanya datang untuk melihat-lihat tanpa membeli. "Mulai dari tahun 2023 pembeli pelan-pelan turun, sampai tahun ini makin parah. Jelang Lebaran Idulfitri, kami sempat optimis akan ramai, tapi tetap saja sepi," ujarnya. Ia menambahkan, pemasukan yang didapat tidak sebanding dengan biaya operasional harian. Bahkan, kondisi itu memaksa pemilik usaha mengurangi jumlah karyawan. "Karena kurang pemasukan, bos sempat bingung mau bayar karyawan dan sewa tempat. Akhirnya pekerja dikurangi, dari dua shift sekarang tinggal sendiri jaga toko. Alhamdulillah gaji tidak dikurangi," imbuhnya. Direktur Perumda Pasar Kota Kendari, Asnar, menjelaskan bahwa pada awal masa kepemimpinannya, pihaknya sempat menurunkan tarif sewa untuk meringankan beban pedagang. "Jujur saya tidak bisa berkomentar banyak soal pendapatan pribadi pedagang, karena persaingan dengan pasar murah dan belanja online. Kami bekerja berdasarkan Peraturan Wali Kota tentang tarif. Alhamdulillah sudah ada penurunan dan kami juga sudah sosialisasi. Bahkan tarif kami lebih murah dibandingkan Disperindag," jelasnya. Ia juga mengaku prihatin dengan kondisi pedagang, khususnya penjual pakaian dan sepatu yang terdampak persaingan harga. "Saya prihatin dengan kondisi pedagang yang bertahan menghadapi situasi ini. Beberapa sudah beralih usaha, seperti jual sayur dan lainnya. Saya berharap mereka bisa melewati cobaan ini," pungkasnya. (A/ST) Laporan: Bambang Sutrisno Baca berita eksklusif lainnya di Sultratop.com

♬ Beanie – Chezile

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan