13 October 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kabut Asap Kepung Sulawesi Tenggara, Kapal Kecil Nelayan Diminta Waspada

  • Bagikan
Kabut Asap Kepung Sulawesi Tenggara, Kapal Kecil Nelayan Diminta Waspada
Ilustrasi kapal-kapal kecil nelayan yang harus meningkatkan kewaspadaan karena keterbatasan jarak pandang akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. (Gambar: Google AI)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi perhatian serius dalam aktivitas pelayaran. Kepala Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Kendari, Capt Rahman, mengingatkan kapal-kapal kecil nelayan agar meningkatkan kewaspadaan karena keterbatasan jarak pandang dapat meningkatkan risiko kecelakaan di laut.

Meski jarak pandang saat ini mencapai 3.000 hingga 4.000 meter atau sekitar 4 kilometer, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai, terutama oleh kapal nelayan berukuran kecil yang mengandalkan penglihatan visual. Sementara itu, kapal penumpang berukuran besar memiliki dukungan teknologi radar untuk mendeteksi objek di sekitarnya ketika jarak pandang terbatas.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Oktober 2026

Capt Rahman mengatakan, kondisi pelayaran pada Selasa (13/10/2026) malam masih dinilai aman bagi kapal-kapal berukuran besar. Namun, kapal nelayan berukuran kecil lebih rentan karena objek di sekitarnya dapat sulit terdeteksi secara visual.

“Kapal kecil harus waspada, begitupun dengan kapal besar semua harus lebih memperhatikan keadaan sekitar sebelum berlayar keluar,” kata Capt Rahman kepada Sultratop.com.

Rahman menegaskan, risiko tabrakan hingga kecelakaan dapat meningkat apabila kabut asap semakin tebal hingga benar-benar membatasi jarak pandang. Menurutnya, aktivitas pelayaran telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) untuk menghadapi kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Peralatan navigasi pada kapal transportasi laut juga berperan penting dalam menjaga keselamatan selama pelayaran. Sistem pendeteksi di sekitar kapal, termasuk radar dan lampu navigasi, membantu awak kapal mengidentifikasi kondisi di sekelilingnya, terutama saat berlayar pada malam hari.

“Ketika berada di tengah laut, lampu navigasi bekerja optimal di malam hari begitupun radar. Untuk kapal-kapal besar dipastikan aman, yang tidak aman kapal nelayan, paling penting mewaspadai secara bersama demi keselamatan,” jelas Rahman.

Ia juga mengimbau para nelayan yang menggunakan kapal kecil tanpa peralatan navigasi memadai agar lebih berhati-hati saat melaut, terutama ketika jarak pandang terbatas akibat kabut asap.

Meski demikian, sejumlah jalur penyeberangan malam dari dan menuju Kendari dipastikan tetap beroperasi. Jalur tersebut meliputi penyeberangan Pelabuhan Pangkalan Perahu Kendari–Muna, kapal cepat dari Pelabuhan Nusantara Kendari–Muna–Baubau, serta kapal feri rute Kendari–Langara.

Kabut Asap Kepung Sulawesi Tenggara, Kapal Kecil Nelayan Diminta Waspada
Tampak kabut asap yang menyelimuti wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra). (Foto: Sultratop.com)

Sementara itu, berdasarkan hasil observasi pada Senin (12/10/2026), citra satelit Himawari-9 menunjukkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Sultra. Pada dini hari hingga pagi, kabut asap terpantau mengurangi jarak pandang hingga kurang dari 5 kilometer. Kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga sore dan malam hari.

Pantauan tersebut juga menunjukkan potensi kabut asap yang semakin tebal sehingga jarak pandang kian terbatas. Kondisi ini diperkirakan berulang selama beberapa hari ke depan.

Adapun kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di wilayah Sultra secara umum berada pada kategori sedang, yakni 15,5–55,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Pola angin turut memengaruhi persebaran asap di Sultra. Asap yang menyelimuti wilayah tersebut tidak hanya diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kabupaten dan kota di Sultra, tetapi juga dari luar daerah, yakni Papua Selatan dan Maluku.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG Provinsi Sulawesi Tenggara memprakirakan potensi kabut asap kategori sedang pada 13–14 Oktober 2026 di sejumlah wilayah.

Wilayah yang dimaksud meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Muna, Muna Barat, Kota Baubau, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, hingga Wakatobi.

BMKG Sulawesi Tenggara mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta menutup jendela ketika kabut asap terasa pekat.

Pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan juga diminta mewaspadai penurunan jarak pandang. Masyarakat diimbau terus memperbarui informasi dari BMKG dan instansi terkait agar langkah mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya karhutla, dapat dilakukan dengan baik. (B/ST)

 

Laporan: Bambang Sutrisno

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan