12 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

80 Orang Bergabung, Kisah Komunitas Tendemo Jadi Penggerak Olahraga Lari di Muna

  • Bagikan
80 Orang Bergabung, Kisah Komunitas Tendemo Jadi Penggerak Olahraga Lari di Muna
Komunitas lari di Kabupaten Muna yang berawal dari hobi Sawaludin dan kini telah menjadi wadah bagi sekitar 80 orang untuk berolahraga.

SULTRATOP.COM, MUNA – Budaya olahraga lari di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kini semakin berkembang. Di balik ramainya warga berlari setiap sore hingga malam di Kota Raha, ada Komunitas Tendemo yang berawal dari hobi seorang diri dan kini telah menjadi wadah bagi sekitar 80 orang untuk berolahraga serta membangun gaya hidup sehat.

Beberapa tahun lalu, pemandangan masyarakat berlari di jalan-jalan Kota Raha masih jarang terlihat. Kini, kawasan Sarana Olahraga dan Rekreasi (SOR), Tugu Jati Raha hingga sejumlah ruas jalan mulai dipenuhi warga yang berolahraga lari.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Di balik perkembangan tersebut, terdapat Komunitas Tendemo yang dirintis oleh Sawaludin. Komunitas ini bermula dari kebiasaan Sawaludin yang gemar berlari seorang diri.

“Tendemo” berasal dari bahasa daerah Muna yang artinya ‘larilah’. Menariknya, nama Tendemo bahkan sudah dibuat ketika belum ada satu pun anggota yang bergabung. Saat itu, Sawaludin menjadi satu-satunya orang yang menjalankan komunitas tersebut.

“Awalnya saya buat sendiri dulu komunitas ini. Belum ada anggotanya, hanya saya sendiri. Kemudian ada teman yang melihat postingan saya di media sosial, lalu ikut berlari. Setelah itu mereka mengajak teman-temannya lagi,” ujarnya.

Dari satu orang, anggota Tendemo kemudian bertambah secara perlahan. Teman yang ikut berlari mengajak teman lainnya hingga komunitas tersebut semakin dikenal.

Setelah jumlah anggotanya mulai bertambah, Tendemo kemudian diresmikan sebagai wadah bagi masyarakat yang memiliki hobi berlari.80 Orang Bergabung, Kisah Komunitas Tendemo Jadi Penggerak Olahraga Lari di Muna

Sawaludin mengatakan, perkembangan komunitas berlangsung secara bertahap. Seperti komunitas pada umumnya, terdapat anggota yang kemudian berhenti mengikuti kegiatan. Namun, anggota yang tetap bertahan justru terus mengajak teman-teman baru sehingga jumlah anggota Tendemo terus berkembang.

Saat ini, grup komunikasi Tendemo telah diikuti sekitar 80 orang. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja hingga masyarakat berusia di atas 50 tahun.

Mereka bergabung dengan latar belakang yang beragam. Ada yang ingin menjaga kesehatan, mempersiapkan diri mengikuti seleksi TNI dan Polri, hingga sekadar mencari teman untuk berolahraga bersama.

Seiring bertambahnya anggota, Tendemo juga mulai membangun organisasi yang lebih tertata. Kepengurusan dibentuk dengan sejumlah divisi yang memiliki tugas masing-masing, mulai dari pengelolaan media sosial, latihan rutin, pembinaan atlet muda hingga pengelolaan atribut komunitas.

“Kami mulai menyusun organisasi supaya lebih rapi. Ada yang mengurus media sosial, latihan rutin, pembinaan atlet, sampai pengelolaan atribut komunitas,” katanya.

Tendemo tidak hanya menjadi tempat berkumpul bagi masyarakat yang memiliki hobi berlari. Komunitas tersebut juga menjadi ruang belajar bagi para anggotanya untuk meningkatkan kemampuan fisik dan membangun kebiasaan hidup sehat.

Latihan bersama rutin digelar setiap Minggu pagi. Sementara anggota yang menjalani program latihan khusus dapat berlatih beberapa kali dalam sepekan sesuai dengan program masing-masing.

Menurut Sawaludin, perubahan paling terasa justru terlihat dari gaya hidup sejumlah anggota setelah rutin mengikuti kegiatan lari.

Ia mengaku terdapat anggota yang sebelumnya memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman keras, kemudian mulai mengurangi kebiasaan tersebut setelah aktif berlari.

“Bahkan ada yang dulunya suka minum-minum dan merokok. Setelah rutin ikut lari, pelan-pelan mulai berkurang. Jadi lari menjadi kegiatan yang lebih positif bagi mereka,” ungkapnya.

Tidak hanya dari sisi kebiasaan, kemampuan fisik para anggota juga mengalami peningkatan. Sejumlah anggota yang pada awalnya kesulitan menyelesaikan lari sejauh lima kilometer kini mampu berlari lebih jauh.

Bahkan, sebagian anggota mulai berani mengikuti berbagai event lari di luar Kabupaten Muna.

Perkembangan tersebut menjadi motivasi bagi Sawaludin dan anggota Tendemo untuk terus mengajak masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, perubahan budaya lari juga mulai terlihat di tengah masyarakat Kota Raha. Jika sebelumnya aktivitas lari lebih banyak dilakukan oleh anggota Tendemo, kini semakin banyak warga yang ikut berlari meski tidak bergabung dalam komunitas.

“Sekarang hampir setiap sore banyak masyarakat yang lari. Dulu yang rutin lari sore bahkan malam hanya anak-anak Tendemo. Sekarang masyarakat juga ikut berlari walaupun bukan anggota Tendemo,” katanya.

Aktivitas tersebut membuat sejumlah kawasan di Kota Raha semakin ramai oleh warga yang berolahraga, khususnya pada sore hingga malam hari.

Tendemo pun tidak hanya berkembang di Kabupaten Muna. Nama komunitas mulai dikenal di sejumlah daerah di Sulawesi Tenggara hingga luar provinsi.

Sejumlah anggotanya rutin mengikuti event lari di Baubau, Kendari, Makassar hingga Jakarta dengan membawa nama Tendemo. Komunitas ini juga beberapa kali dipercaya terlibat dalam kegiatan olahraga lari di luar Kabupaten Muna.

80 Orang Bergabung, Kisah Komunitas Tendemo Jadi Penggerak Olahraga Lari di Muna
Faizal Alfarizqi Radianzah yang merupakan mahasiswa Program Studi S1 Komunikasi Universitas Siber Asia mewawancarai Sawaludin.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Sawaludin adalah keberhasilan Tendemo menyelenggarakan event Muna Berlari.

Kegiatan tersebut berhasil menarik sekitar 1.000 peserta dari berbagai daerah, termasuk Kendari, Makassar, Jakarta hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

“Bagi kami itu menjadi kebanggaan karena akhirnya bisa menghadirkan event lari berskala besar di Kabupaten Muna. Banyak peserta dari luar daerah datang dan ikut meramaikan Muna Berlari,” tuturnya.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa budaya lari di Kabupaten Muna terus berkembang. Dari yang awalnya hanya dilakukan oleh segelintir orang, kini aktivitas tersebut semakin mudah ditemui di berbagai sudut Kota Raha.

Sawaludin berharap Tendemo ke depan tidak hanya dikenal sebagai komunitas lari, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan saling mendukung.

Ia juga berharap komunitas tersebut dapat melahirkan atlet-atlet lari berprestasi yang mampu membawa nama Kabupaten Muna ke tingkat yang lebih tinggi. (===)

 

Laporan: Faizal Alfarizqi Radianzah (mahasiswa Program Studi S1 Komunikasi Universitas Siber Asia)

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
  • Bagikan