3 August 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

La Ode Darwin Sidak SPBU di Muna Barat, Antrean Panjang Dipicu Kuota BBM Hanya 8.000 Liter

  • Bagikan
La Ode Darwin Sidak SPBU di Muna Barat, Antrean Panjang Dipicu Kuota BBM Hanya 8.000 Liter
Bupati Muna Barat, La Ode Darwin saat melakukan sidak di SPBU Bahari Cahaya Endekana, yang terletak di Desa Sukadamai, Kecamatan Tiworo Tengah, dikarenakan antrean yang panjang, Senin (3/8/2026)

SULTRATOP.COM, MUNA BARAT – Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, menemukan penyebab utama antrean panjang kendaraan di SPBU Bahari Cahaya Endekana, Desa Sukadamai, Kecamatan Tiworo Tengah, setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak), Senin (3/8/2026).

Hasil pengecekan menunjukkan kuota bahan bakar minyak (BBM) yang hanya mencapai 8.000 liter per hari belum sebanding dengan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat yang terus meningkat di Muna Barat, sehingga memicu antrean setiap hari.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor April 2026

Sidak tersebut dilakukan menyusul banyaknya keluhan masyarakat terkait antrean kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengular di SPBU. Dalam kunjungannya, La Ode Darwin berdialog langsung dengan pengelola SPBU, petugas pengisian BBM, serta warga yang sedang mengantre untuk memastikan penyebab kondisi tersebut.

“Saya melakukan sidak karena melihat adanya antrean panjang baik kendaraan motor dan mobil di SPBU ini. Saya juga sudah kroscek dengan pemilik SPBU, ternyata memang kuota BBM ini dalam satu hari hanya delapan kiloliter atau 8.000 liter. Jadi, dengan stok ini tidak mencukupi kebutuhan jumlah pengguna kendaraan di Muna Barat,” kata La Ode Darwin.

Menurut Ketua DPD Partai Golkar Sultra itu, berdasarkan penjelasan pengelola SPBU, faktor lain yang menyebabkan antrean adalah selisih harga yang cukup besar antara Pertamax dan Pertalite. Saat ini, harga Pertamax mencapai Rp16.300 per liter, sedangkan Pertalite Rp10.000 per liter, sehingga masyarakat lebih memilih membeli Pertalite meski harus mengantre lebih lama.

“Jadi, setelah saya melakukan sidak, ada beberapa kesimpulan yang kami dapat yakni kuota BBM kita yang kurang dibandingkan jumlah kepadatan kendaraan roda dua dan empat. Selain itu, adanya selisih harga antara Pertamax dan Pertalite. Jadi, masyarakat banyak memilih Pertalite dengan memilih mengantre,” ujarnya.

Terkait upaya penambahan kuota BBM, Darwin mengungkapkan bahwa sejak 2025 lalu Pemkab Muna Barat telah mengajukan surat kepada Pertamina untuk meminta tambahan kuota Pertalite dan Solar bagi SPBU Bahari Cahaya Endekana. Namun, hingga kini ia belum mengetahui apakah usulan tersebut telah mendapat persetujuan dari BPH Migas.

“Saya akan kembali melakukan koordinasi dengan BPH Migas terkait penambahan kuota BBM di Muna Barat. Insyaallah, kalau bukan minggu ini atau minggu depan, kami akan agendakan pertemuan dengan pihak BPH Migas untuk mengetahui apa yang menjadi kendala hingga belum ada penambahan kuota BBM untuk SPBU yang ada di Muna Barat,” tuturnya.

Darwin menegaskan, keberadaan hanya satu SPBU di Muna Barat dengan kuota 8.000 liter per hari tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah.

“SPBU kita di Muna Barat hanya satu. Tentunya tidak sebanding dengan jumlah pengguna kendaraan roda dua dan empat dan kuota BBM yang mencapai delapan kiloliter atau 8.000 liter per hari. Kalau kita bandingkan 8.000 liter dengan jumlah kendaraan roda dua dan empat misalnya mencapai 4.000 unit, mungkin hanya dapat dua liter per hari,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, Pemkab Muna Barat akan menggelar rapat untuk merumuskan langkah lanjutan sekaligus memperkuat koordinasi dengan BPH Migas agar kuota BBM di daerah itu dapat segera ditambah sehingga antrean panjang di SPBU bisa diatasi. (*/ST)

 

Laporan: Adin

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI


  • Bagikan