SULTRATOP.COM, KENDARI β Di sela kesibukannya sebagai tukang urut, Junaid tak pernah berhenti mengasah kemampuannya di atas papan catur. Meski kehilangan penglihatan sejak kecil, pria tunanetra asal Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) itu berhasil menjelma menjadi atlet catur berprestasi tingkat provinsi.
Ia kini tengah mempersiapkan diri menghadapi Pekan Paralimpiade Provinsi (Peparprov) 2027 di Baubau sebagai langkah awal untuk mewujudkan target tampil pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tekad itu tampak dalam setiap sesi latihannya. Sore itu, 16 bidak catur hitam disusun Junaid dengan lihai di atas papan catur khusus untuk tunanetra. Jemarinya bergerak pelan, meraba setiap bidak untuk memastikan posisinya sebelum pertandingan dimulai.
Meski tak lagi dapat melihat, pria kelahiran 1989 itu masih menyimpan bayangan bentuk bidak-bidak catur di atas papan berisi 64 kotak yang pernah ia lihat semasa kecil. Penglihatannya hilang akibat sakit yang diperparah kecelakaan sepeda motor ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Waktu masih kecil sering lihat main (catur), tapi belum tahu cara mainnya,” kata Junaid di kediamannya di Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Sultra, Jumat (17/7/2026) sore sekitar pukul 15.30 Wita.
Belajar Catur dengan Meraba Bidak
Ketertarikannya terhadap catur tumbuh saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Manado. Saat itu, ia melihat guru musik sedang bermain catur di asrama sekolah. Rasa penasaran membuatnya meraba papan dan bidak catur hingga akhirnya diajari cara bermain.
Sejak saat itu, Junaid terus belajar secara otodidak. Ia mengembangkan kemampuan berpikir dan menyusun strategi melalui latihan yang rutin dilakoninya.
“Saat sekolah (SMP) di Manado, jalan-jalan di asrama ketemu guru musik, mereka lagi main catur, saya raba-raba, nah di situ diajarkan. Hanya pengembangan strateginya, saya sendiri,” tutur Junaid kepada Sultratop.com.
Baginya, catur jauh lebih menarik dibanding olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik. Permainan ini menuntut kemampuan berpikir, membaca peluang, dan menyusun strategi untuk mengalahkan lawan.
Sore itu, Junaid bahkan mengajak awak Sultratop bermain catur. Dengan mengandalkan rabaan pada setiap bidak, Ketua Persatuan Tunanetra (Pertuni) Kendari ini mampu membaca jalannya permainan dan menyusun strategi secara sistematis.
Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan telak untuk Junaid. Pengalaman mengikuti berbagai kejuaraan sejak masih bersekolah di SMK di Makassar membuat kemampuannya di atas papan catur semakin terasah.
Target Prestasi Lokal dan Nasional
Ayah empat anak tersebut mulai aktif sebagai atlet catur disabilitas sejak 2021. Sejumlah prestasi berhasil diraih, di antaranya menjadi juara pertama dan juara kedua pada kejuaraan tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.
Kini, ia kembali menjalani latihan untuk menghadapi Peparprov 2027 di Kota Baubau sekaligus mempersiapkan diri agar bisa tampil di tingkat nasional yakni pada Peparnas 2028 di Nusa Tenggara Barat.
Di luar latihan bersama sesama penyandang tunanetra maupun tetangganya, Junaid juga rutin bermain catur secara daring melawan pemain dari berbagai negara. Aktivitas itu ia lakukan di sela pekerjaannya sebagai tukang urut.
Kecintaannya terhadap catur juga mulai diwariskan kepada anak-anaknya. Salah seorang putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah mulai menguasai permainan. Bahkan, pada pertandingan sore itu, sang anak sempat membuat Junaid terdesak sebelum akhirnya ia berhasil membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang.
“Kalau sering latihan, semakin tahulah strategi. Kalau tidak, ya tumpul. Semoga anak saya ke depan bisa jadi penerus, atlet catur,” harapnya. (A/ST)
Laporan: M11
Editor: Muhamad Taslim Dalma













