SULTRATOP.COM, KENDARI – Di tengah hiruk-pikuk Kendari, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak kejayaan masa lalu. Pada era 90-an, namanya begitu terkenal: Hotel Aden, bangunan megah yang menjadi simbol kemajuan kota saat itu.
Lift yang dulu berdenting silih berganti mengantar tamu dari satu lantai ke lantai lain, aula lantai tiga yang kerap menjadi pusat pertemuan dan hajatan warga, serta kamar-kamar yang hampir tak pernah benar-benar sunyi. Semuanya tinggal kenangan.
Khusus fasilitas lift, pada masa itu keberadaannya sangat modern di Kendari. Tak sedikit pengunjung lokal yang untuk pertama kalinya merasakan sensasi naik turun lantai di dalam kabin sempit dengan pintu otomatis yang menutup perlahan. Dentingannya menjadi suara yang asing sekaligus mengundang rasa penasaran.
Bagi sebagian pengunjung, naik lift bukan sekadar berpindah lantai, melainkan pengalaman merasakan fasilitas canggih yang kala itu hanya mereka saksikan di adegan-adegan film. Anak-anak hingga orang dewasa kerap tersenyum tegang saat angka-angka penunjuk lantai menyala bergantian.
Padahal hanya sebuah lift yang kini sudah dianggap fasilitas biasa, tapi momen sederhana di lift itu menjadikan Hotel Aden bukan hanya tempat menginap, melainkan ruang yang menyimpan cerita tentang perubahan zaman: tentang sebuah kota yang sedang belajar mengenal modernitasnya.
Renovasi dari Nol, Modal Media Sosial

Selama delapan tahun sebelum 2022, bangunan yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia tersebut kosong. Tiga lantainya tak berpenghuni, dipenuhi rumput liar. Warga sekitar bahkan menyebutnya angker.
Namun, Oktober 2022 menjadi titik balik. Aset tersebut diwakafkan dan pengelolaannya dipercayakan kepada Yayasan An Nur.
Pewakafnya adalah keluarga almarhum Haji Husen. Putra sulungnya, Najib Husen, memilih mengubah fungsi hotel menjadi masjid dan pusat kegiatan sosial.
“Beliau ingin aset orang tuanya tidak berhenti sebagai warisan saja. Tapi menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir,” ujar Dani Sofyan, Ketua Yayasan An Nur Kendari sekaligus Ketua Masjid An Nur.
Ketika pertama kali diserahterimakan, kondisi bangunan memprihatinkan. Sudah delapan tahun tak ditempati. Lift dibongkar, kamar-kamar dirombak, tata ruang diubah total.
“Awalnya saya juga kaget, bagaimana cara mengubah hotel menjadi masjid,” kata Dani.
Tak ada investor besar. Tak ada bantuan pemerintah. Hingga kini, sekitar Rp2 miliar telah terpakai untuk pembangunan yang murni dari donasi swadaya masyarakat.
Strateginya sederhana: Instagram dan Facebook. Dani rutin mengunggah progres pembongkaran dan pembangunan. Respons warga luar biasa. Sekitar 200 orang hadir saat pembongkaran awal dilakukan.
Salat Jumat perdana digelar setengah bulan sebelum Ramadan 2023, di lantai tiga dengan kondisi seadanya. Namun jamaah membludak.
“Full. Itu yang memotivasi kami untuk terus lanjut,” kenangnya.
Kini, Ramadan tahun 2026 menjadi tahun keempat sejak masjid aktif digunakan.
Dapur Hotel Berubah Jadi Dapur Umat

Selama Ramadan, Masjid An Nur nyaris tak pernah sepi. Pagi hari diisi kajian singkat, belajar mengaji, dan setoran hafalan. Sore hari buka puasa bersama, dilanjutkan ceramah tarawih.
10 hari terakhir Ramadan, masjid menggelar iktikaf, tarawih, dan tahajud berjamaah. Iktikaf dibatasi maksimal 300 orang karena kebutuhan konsumsi sahur yang diperkirakan mencapai Rp9 juta per malam.
“Alhamdulillah, dulu ini hotel punya dapur besar. Sekarang kita alih fungsikan jadi dapur masjid. Panitia dan pengurus yang masak,” ujar Dani.
Masjid memiliki tiga imam tetap. Ke depan, pengurus berencana membangun fasilitas toilet khusus perempuan di lantai dua agar jamaah wanita yang iktikaf tidak perlu turun ke bawah.
Dari Bangunan Kosong Jadi Pusat Kebaikan
Masjid An Nur tak hanya menjadi tempat ibadah. Setiap bulan, pengurus membagikan beras kepada fakir miskin dan membantu korban bencana.
Zakat yang terkumpul mencapai sekitar 8 ton per tahun, disalurkan kepada warga sekitar, pondok pesantren, dan anak yatim.
Untuk Idul Adha, penyembelihan dibatasi hingga 20 ekor sapi dan 30 kambing setiap tahun. Warga menabung bersama melalui grup WhatsApp agar pembelian hewan kurban lebih ringan.
Wakaf yang Menghidupkan
Apa yang terjadi di bekas Hotel Aden Kendari itu menjadi bukti bahwa bangunan tua bisa menemukan kehidupan baru. Dari ruang inap menjadi ruang sujud. Dari kisah angker menjadi lantunan ayat suci.
“Ini bukan hanya soal bangunan berubah fungsi. Ini tentang bagaimana wakaf bisa menghidupkan kembali sesuatu yang mati,” tutup Dani.
Kini, setiap azan yang berkumandang dari Masjid An Nur menjadi penanda: di tempat yang dulu sunyi dan terbengkalai, kehidupan spiritual dan sosial justru tumbuh subur. (A+)
Kontributor: Ismu Samadhani
















