23 February 2024
Indeks

Kisah Perempuan di Konut, Bangkitkan Ekonomi Keluarga Lewat Kelompok Usaha (Bagian I)

  • Bagikan
Kisah Perempuan di Konut, Bangkitkan Ekonomi Keluarga Lewat Kelompok Usaha (Bagian I)

SULTRATOP.COM, KONUT – Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, terdapat sebuah kisah inspiratif para perempuan di Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mereka berhasil membuktikan bahwa dengan semangat kebersamaan dan inisiatif yang kuat, perempuan mampu saling memberdayakan dan membantu menopang perekonomian keluarga. Langkah yang ditempuh dengan memobilisasi sesama mereka kaum perempuan untuk bergabung dalam kelompok-kelompok usaha.

Iklan Astra Honda Sultratop

Pengorganisasian lewat kelompok usaha itu memudahkan mereka dalam gerakan pembedayaan. Kelompok usaha ini juga berfokus sesuai potensi di sekitar mereka yang mencakup berbagai bidang, mulai dari sektor pertanian maupun usaha kecil lainnya.

Mereka saling mendukung dan dan bertukar ide untuk menciptakan peluang usaha yang berkelajutan. Inisiatif ini tidak hanya memberikan dampak positif pada penghasilan perempuan itu sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi bagi perekonomian keluarga mereka.

Manfaatkan Pekarangan untuk Produksi Pertanian

Mengenai usaha pertanian utamanya yang dilakukan dalam kelompok, sebagian orang akan berpikir pada seberapa luas lahan yang akan digunakan. Bahkan sebagian orang juga akan ragu melakukan produksi pertanian karena tidak memiliki lahan sebab perspektif tentang pertanian harus memiliki lahan yang cukup luas.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Maju Bersama di Desa Mataosole, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konut memecahkan masalah tersebut. Kelompok yang beranggotakan 20 orang perempuan tersebut memanfaatkan lahan pekarangan salah satu anggota untuk ditanami berbagai macam sayur-sayuran seperti kangkung, sawi, kacang panjang, timun, ubi kayu, tomat, cabe dan sebagainya.

Aktivitas kelompok tersebut telah dilakukan sejak September 2023 lalu. Meski anggota kelompok tersebut memiliki kesibukan masing-masing, mereka tetap kompak melakukan aktivitas pertanian secara bersama-sama untuk mempererat rasa persaudaraan dan kekompakan.

“Alhamdulillah kita semua senang dalam aktivitas ini,” ungkap Bendahara KWT Maju Bersama, Hikmayani (32).

Pohon mangga yang rindang di bawah terik matahari menjadi saksi cerita Hikmayani dalam menjalankan aktivitas kelompok bersama anggota lainnya. Mulai dari bibit dalam bertani yang diperoleh dari hasil patungan anggota kelompok hingga berbagai tantangan yang dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Berbekal pengetahuan tambahan dan pendampingan dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK), para anggota KWT Maju Bersama kini perlahan mulai merasakan hasil dari usaha yang dijalankan. Mulai dari kebutuhan pangan keluarga yang kini tidak sepenuhnya tergantung kepada suami, hingga hasil penjualan yang dapat diputar kembali untuk mengembangkan usaha kelompok.

Pemanfaatan lahan pekarangan juga dilakukan oleh KWT Mekar sari, Desa Wacupinodo, Kecamatan Wiwirano. Ketua KWT Mekar Sari, Harianty (52) mengatakan bahwa cabe, dan berbagai jenis sayur-sayuran yang ditanam di pekarangan tersebut hanya untuk dikonsumsi oleh anggota kelompok saja.

Kelompok KWT Mekar Sari dengan 20 anggotanya lebih memilih mengembangkan sektor pertanian dikarenakan harga sayuran di wilayah tersebut mulai melonjak naik. Dengan adanya kelompok tersebut tentunya dapat membantu perekonomian dan pemenuhan kebutuhan keluarga akan pangan.

Bertahan dari Dampak El Nino

Bergeliat di bidang pertanian, faktor cuaca menjadi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Dampak fenomena El Nino yang mengakibatkan kurangnya debit air dan kekeringan tanah menjadi tantangan berat bagi para petani.

Fenomena itu tak bisa dihindari para Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Wiwirano. Hikmayani mengakui bahwa fenomena tersebut menjadi tantangan paling berat yang ditemui oleh kelompoknya.

Keran yang biasa dipakai untuk memperoleh air hingga kini masih belum bisa mengalirkan air untuk menyiram tanaman. Akibatnya, para anggota kelompok tersebut harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mengangkut air dari sumur warga hingga melakukan penyemprotan manual untuk memelihara tanamannya.

Senada dengan itu, Ketua KWT Mecucuai, Desa Wawonsangi, Kecamatan Wiwirano, Nitayani (31) mengungkapkan bahwa lahan yang dikelola oleh kelompoknya dengan luas 3 hektare (Ha) tersebut juga terdampak oleh kekeringan yang terjadi. Sehingga, kelompok tersebut menghentikan sementara aktivitas penanaman agar air yang masih tersisa bisa digunakan pada sayuran yang telah ditanam sebelumnya.

“Sumber airnya ada di atas gunung, jadi susah airnya. Sekarang kita pakai air yang ada di dalam desa dengan penyiraman manual pakai alat semprot,” ungkapnya.

Akan hal itu, hasil pertanian KWT Mecucuai berupa jagung dan sayuran seperti kangkung dan lainnya hanya cukup dikonsumsi oleh anggota kelompok, masyarakat setempat, dan sebagiannya lagi dijual untuk memutar modal dalam penanaman selanjutnya.

Ketua KWT Mekar Sari, Harianty juga menyampaikan hal yang sama. Kata dia, kelompoknya memiliki lahan kurang lebih setengah hektare. Namun karena kekurangan air akibat kemarau, kebun tersebut terbengkalai dan kelompoknya lebih memilih mengembangkan pertanian di pekarangan rumah agar tetap melakukan produksi.

”Seumpama yang seperempat tadi itu, bisa kami cangkul 7 bedengan itu. Kami bisa jual kacang panjang, kangkung, dan hasil lainnya. Itu yang membuat ada peningkatan untuk ibu-ibu agar tidak vakum duduk di rumah saja,” tutur Harianty.

google news sultratop.com
  • Bagikan