SULTRATOP.COM, KENDARI — Meski dipastikan tidak terdampak oleh rentetan gempa bumi global di Venezuela, California Utara, dan Jepang, wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) nyatanya memiliki karakteristik geologis yang aktif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kendari mengingatkan masyarakat untuk tetap mengenali potensi ancaman sesar (patahan) lokal yang ada di daerah sendiri.
Berdasarkan pemetaan BMKG, wilayah Bumi Anoa dikepung oleh sejumlah sesar patahan aktif yang memiliki berbagai macam tingkatan magnitudo maksimum (Mmax).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Kendari, Ilham, memaparkan salah satu jalur patahan yang paling diwaspadai di Sultra adalah Sesar Lawanopo. Patahan ini memiliki panjang mencapai 140 kilometer.
“Sesar Lawanopo memanjang dari daerah Tolala di Kolaka Utara hingga ke pantai timur Konawe Utara di sekitar wilayah Lembo. Berdasarkan data sumber PUSGEN 2024, sesar ini memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 7.6 M,” ungkap Ilham saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).
Selain Sesar Lawanopo, wilayah Ibu Kota Provinsi Sultra juga dibayangi oleh aktivitas Sesar Kendari. Berdasarkan hasil kajian teknis BMKG, patahan ini terbagi menjadi tiga segmen dengan potensi kekuatan gempa yang bervariasi:
Segmen Utara memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 5.9 M, Segmen Sentral (Tengah) memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 5.9 M, dan Segmen Selatan yang memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 7.3 M.
Ilham menjelaskan, pemetaan ini dikeluarkan bukan untuk memicu kepanikan di tengah masyarakat, melainkan sebagai landasan penting dalam membangun konstruksi bangunan yang ramah gempa serta memperkuat kesiapsiagaan mitigasi sejak dini.
Tingkat keaktifan sesar lokal di Sultra ini dibuktikan dengan masih seringnya terjadi guncangan dalam beberapa waktu terakhir. BMKG mencatat, gempa bumi terbaru akibat aktivitas Sesar Lawanopo sempat mengguncang wilayah Konawe Utara pada 29 Mei 2026 lalu dengan kekuatan 4.5 M. Beruntung, sejauh ini belum ada laporan mengenai dampak kerusakan.
Meski demikian, masyarakat diminta berkaca pada peristiwa awal tahun 2025 lalu. Saat itu, gempa merusak berkekuatan 5.1 M yang diakibatkan oleh sesar baru dengan mekanisme normal fault (sesar turun) sempat menghantam wilayah Kolaka Timur.
“Hingga saat ini, di wilayah Kolaka Timur sendiri masih sering terjadi gempa bumi (susulan skala kecil) dan terus kami lakukan pemantauan secara intensif,” tambah Ilham.
BMKG menegaskan, karena potensi gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari atau diprediksi secara pasti kapan terjadinya, maka penguatan kapasitas masyarakat melalui edukasi adalah kunci utama dalam meminimalisir risiko bencana guna mengejar target zero victim (nol korban). (—)
Penulis: Jumriati















