24 February 2024
Indeks

7 Fakta Menarik Ganjar Pranowo, Jadi Guru SMA Demi Bayar SPP Kuliah

  • Bagikan
Ganjar Pranowo
Ganjar Pranowo bersama petani bernama Subari, asal dari Desa Kalibareng, Patean, Kendal. Ganjar sengaja mengundangnya pada Upacara Hari Pahlawan 2022 di Lapangan Simpanglima. (Sumber gambar: IG ganjar_pranowo)

SULTRATOP.COM – Pria bernama lengkap H. Ganjar Pranowo, S.H, M.IP ini lahir 28 Oktober 1968, di Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Istrinya bernama Hj. Siti Atikoh Suprianti dan sang anak bernama Zinedine Alam Ganjar. Ganjar lahir dari pasangan Pamuji (ayah) yang merupakan seorang polisi biasa dan Sri Suparmi ibu rumah tangga.

Gubernur Jawa Tengah ini merupakan salah satu figur yang digadang-gadang akan maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan ini selalu unggul dalam survei yang dilakukan lembaga survei nasional bersaing dengan Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Iklan Astra Honda Sultratop

Berikut fakta-fakta menarik seputar Ganjar Pranowo.

1. Sebutir Telur Bagi 4

Masa kecil yang menantang telah mendorong Ganjar memiliki fighting spirit dalam menjalani kehidupan. Ayahnya yang hanya seorang polisi rendahan dan ibu sebagai ibu rumah tangga biasa membuat kehidupan Ganjar bersama 5 saudaranya jauh dari kata mewah.

Setiap bulan gajian sang ayah langsung memberikannya ke sang ibu. Ganjar lalu mengantar ibu ke warung Mbak Yarni. Warung yang masih ada hingga kini. Yarni memiliki buku catatan bon yang tebal berisi rekapan utang keluarga Ganjar. Saat gajian inilah, utang-utang itu ditutupi.

“Kalau kita ingin makan sedikit bergizi, yah pada tanggal muda itu telurnya dibagi empat dipotong pakai benang. Jadi telurnya dua dibagi delapan. Anaknya enam, kemudian yang dua untuk bapak ibu, kan pas toh,” tutur Ganjar di acara Mata Najwa Trans7.

2. Pernah Merasa Terusir dari Rumah Sendiri

Sewaktu kecil saat masih kelas 5 SD, Ganjar sekeluarga harus pergi karena telah menjual rumah mereka. Rumah itu terjual ke seorang yang profesi sama dengan ayahnya yakni polisi. Namun sang pembeli meminta agar ayah Ganjar sekeluarga harus cepat-cepat pergi dari rumah karena telah melunasinya.

“Kami minta hanya, ‘tolong donk sampai anak-anak saya selesai sekolah’ dan itu kira-kira menunggu mungkin sekitar 10 bulan lah. ‘gak bisa, mau saya pakai, Anda harus pergi sekarang!’. Dan itu kami merasa terusir dari rumah sendiri, yah memang faktanya sudah dijual,” tutur Ganjar.

3. Kuliah 8 Tahun

Ganjar ternyata cukup lama menyandang status mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM). Selama 8 tahun, dia baru dapat menyelesaikan kuliah. Namun bukan tanpa alasan sampai selama itu. Kendala utamanya adalah duit SPP.

Kuliah Ganjar terhambat beberapa kali karena tidak bisa membayar SPP. Bahkan sampai 4 semester menunggak uang SPP. Kondisi ini mendorong Ganjar untuk tetap survive menghadapi tantangan.

Untuk dapat membayar SPP, Ganjar pernah mengajar di SMA 8 Yogyakarta dan SMA Sewon Bantul. Ketika itu honor Ganjar sebulan hanya Rp35 ribu. Dengan rutin, Ganjar mengumpulkan gajinya ini untuk bayar SPP.

Dia mesti menabung kira-kira selama 3 bulan agar bisa mencukupi pembayaran SPP yang setiap semesternya Rp90 ribu. Kondisi ini membuat Ganjar harus selalu mengajukan penundaan bayar SPP karena harus menunggu terkumpulnya honor tadi itu.

“Saya ini langganan ke Rektor di UGM itu minta izin penundaan pembayaran SPP, dan itu yang kemudian tidak tahu. Kemudian tiba-tiba saya cerita, ibu saya nangis-nangis begitu yah saya minta maaf terus kami dibantu oleh kakak saya yang paling besar dia bekerja bantu saya, kakak saya yang kedua lulus bantu saya, adik saya. Kemudian kami saling me-resciu. Alhamdulillah akhirnya tiga jadi sarjana, dua S2, yang satu doktor,” tutur Ganjar.

4. Pesan Ibunda “Jangan Korupsi!”

Ganjar menganggap ibundanya Almh. Sri Suparmi adalah perempuan yang sangat tangguh dan luar biasa. Sang ibu adalah sosok yang memimpikan anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik. Ini menjadi inspirasi tersendiri bagi Ganjar bila mengenangnya.

Ketika menjadi Anggota DPR RI, ada satu pesan dari sang yang selalu mengiang di telinganya. Itu adalah larangan untuk tidak melakukan korupsi. Inilah yang membuatnya makin bergelora dan inilah yang menjadi spirit ketika membangun Jawa Tengah.

“Selalu membisikkan sejak saya masih di DPR dulu yah. Dia membisikan begini ‘jangan korupsi yah abdikan dirimu untuk Republik Indonesia’, dan itu yang selalu mengiang. Setiap kali saya pulang menemui ibu saya cipika cipiki, ibu saya selalu membisikkan,” ujar Ganjar di acara Satu Jam Lebih Dekat TV One.

5. Suka Melakukan Inpeksi

Selama menjadi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sering kali melakukan inspeksi mendadak di jajaran pemerintahannya. Dia tampak marah setiap kali menemukan pelanggaran dalam pelayanan publik.

Soal marah ini, Ganjar menepisnya. Menurutnya, dirinya hanya mengeluarkan suara dengan nada tinggi. Setiap kali melakukan inspeksi, dia kadang tidak sampai marah-marah bila menemukan sesuatu yang bagus.

“Jadi ada sebenarnya inspeksi yang saya acungi jempol dua, plus dua kaki jempol. Yang begitukan biasanya, good news itukan gak jadi good news, tapi kalau bad news biasanya menjadi good news. Sebenarnya ada banyak saya temukan karya orang di desa yang bagus: gula semut, kerajinan, bisa ekspor semuanya, tapi yang gitu kok gak laku,” ujar Ganjar ketika tampil di acara Hitam Putih Trans TV.

Ganjar memiliki pengalaman, pernah terekskpos sedang marah-marah, tapi setelah itu justru dia sendiri yang mendapat marah. Maksudnya dia diingatkan bahwa apa yang dilakukannya sudah kelewatan, sehingga sejak saat itu dirinya tidak berlebihan lagi ketika marah.

“Yah ternyata kalau kita sedikit over begitu, masyarakat juga jadi ngelihatnya gak suka, meskipun pada awal sekali, saya marah dengan keras itu masyarakat ‘marah lagi, marah lagi pak’,” tutur Ganjar.

Ganjar menemukan bahwa masyarakat suka dengan pribadinya yang marah-marah, khususnya bila menemukan hal yang menyimpang dalam pelayanan publik. Masyarakat senang bila Gubernur mengoreksi pelanggaran dalam pelayanan publik.

6. Ganjar Pranowo Tidak Seperti Jokowi

Kebiasaan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) adalah suka membagi-bagikan sepeda lewat kuis kepada masyarakat. Namun berbeda dengan Ganjar, padahal gaya “merakyat” mereka hampir sama dan sama-sama dari PDICalon Perjuangan.

Ganjar justru memiliki kebiasaan memberikan buku, misalnya buku tentang perjalanan reformasi birokrasi Jawa Tengah, Novel tentang kehidupannya sendiri. Novel ini merupakan karya seseorang yang tiba-tiba mendatangi Ganjar dan meminta agar membuat novel berdasarkan kisah hidup sang Gubernur.

“Anak ini namanya Gatot Kaca, dan dia dulu menulis tentang Jokowi sang Tukang Kayu,” ujar Ganjar.

Ganjar biasa suka memberikan orang buku karena setiap Rabu dan Kamis berkeliling mengunjungi SMP dan SMA. Dia memiliki program yang namanya “Gubernur Mengajar”. Dalam kegiatan ini, dia mengobrol dengan siswa dan yang menjawab pertanyaan maka hadiahnya buku, tapi kadang juga hadiahnya berupa kaos Jateng. Hadiah lainnya adalah buku tabungan dari Bank Jateng yang di dalamnya sudah berisi uang tabungan.

7. Setya Novanato Sebut Ganjar Terima Aliran Duit Korupsi E-KTP

Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto secara terang-terangan menyebut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menerima uang korupsi E-KTP sebesar 500 ribu dolar AS.

Pernyataan Setya Novanto itu telah berulang kali mendapat bantahan dari Ganjar Pranowo.  Bahkan dia sudah tiga kali menjadi saksi dan tidak pernah terbukti. Baginya ini soal menguji integritas dan kredibilitas.

“Saya orang yang menolak dan penolakan saya itu ada dalam satu berita acara (BAP) orang yang disinyalir membagi. Saya senang membaca itu karena di situ ditulis, satu-satunya orang yang menolak saya, di dalam BAP-nya seseorang yang disinyalir membagi,” ungkap Ganjar. (—)

 

Sumber: Mata Najwa (Trans7), Hitam Putih (Trans7), Satu Jam Lebih Dekat (TVOne)

google news sultratop.com
  • Bagikan