SULTRATOP.COM, KENDARI – Sebanyak 3.500 jemaat memadati Gereja Paroki Santo Clemens di Jalan Saranani, Kelurahan Mandonga, Kota Kendari, dalam peringatan Jumat Agung 2026 yang berlangsung khidmat.
Ibadah ini tak hanya menjadi momen mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang makna kemanusiaan, pengorbanan, dan kesetiaan dalam menjalani hidup di tengah berbagai tantangan.
Jumat Agung merupakan momen penting bagi umat Kristiani untuk mengenang penyaliban Yesus di Bukit Golgota, yang diyakini sebagai bentuk pengorbanan demi menebus dosa umat manusia.
Pastor Gereja Paroki Santo Clemens Kendari, Stephanus Chandra, mengatakan bahwa salah satu dari tujuh sabda Yesus di kayu salib yang paling menyentuh adalah dalam bahasa Latin, Consummatum est (sudah selesai).
“Kata ini maknanya dalam sekali, panggilan untuk setia terhadap tanggung jawab pada anugerah pemberian dari Allah yang memaknai tujuan hidup kita, persis tulisan salib Yesus sebutkan bahwa apa yang aku lakukan semua telah selesai,” kata Pastor Stephanus Chandra kepada awak media, Jumat (3/4/2026).

Ia menegaskan, Yesus Kristus menjalani perjuangan besar tanpa menyimpang dari jalan kebenaran. Kematian Yesus bukanlah sebuah kekalahan, melainkan bentuk pengorbanan yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh meskipun menghadapi perbedaan pandangan dan penolakan dari banyak pihak.
“Ketika mengalami cacian ataupun makian, kita menyakini jalan kebenaran yang dilakukan, sehingga dari salib Dia mendoakan orang-orang yang menyesatkan, karena mereka tidak tahu,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi umat Kristiani dan umat Islam di Palestina yang belum dapat menjalankan ibadah dengan tenang di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah.
“Saya sudah tujuh kali mondar-mandir ke Israel dan juga daerah teman-teman Palestina. Betlehem itu bagian Tepi Barat, di sana tidak ada perang agama sama sekali, namun ada beberapa tragedi yang begitu membekas terjadi. Seorang pastor tertembak karena melindungi seorang Syiah yang berlindung di dalam gereja, ia pun ikut mati bersama mereka,” ujarnya.
Pastor Chandra menegaskan bahwa nilai kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala perbedaan. Setiap orang berhak hidup aman dan damai, tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno











