SULTRATOP.COM, KENDARI – Museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai berbenah setelah mendapat kunjungan kerja Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, Sabtu (11/7/2026). Pemerintah Provinsi Sultra menyiapkan pembaruan tata pamer, penataan koleksi, hingga penguatan fungsi edukasi agar museum menjadi etalase sejarah dan kebudayaan yang lebih menarik, informatif, serta mampu memperkenalkan kekayaan budaya Bumi Anoa kepada masyarakat dan wisatawan.
Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Sultra, La Uddin mengatakan, pembenahan tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Menteri Kebudayaan saat mengunjungi Museum Sultra. Menurutnya, masih banyak aspek yang perlu diperbaiki, mulai dari penataan ruang pamer hingga penyajian koleksi agar lebih mudah dipahami pengunjung.
Saat ini, Museum Sultra mengelola 5.333 benda bersejarah. Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 700 koleksi yang dipamerkan kepada publik, sedangkan sisanya disimpan sebagai koleksi museum.
“Tadi dalam kunjungan bapak Menteri tidak sempat melihat semuanya kemudian dilanjutkan dengan arahan perbaikan tata ruang, koleksi lukisan dipajang, jadi banyak sekali yang terlewati. Kita mengakui, Museum Sultra baru naik ke Akreditasi B, sebelumnya Akreditasi C. Di masa mendatang, masih banyak yang perlu dibenahi secara fisik,” kata La Uddin kepada awak media.

Museum Sultra merupakan pusat dokumentasi dan edukasi budaya yang berperan penting dalam melestarikan sejarah dan kebudayaan daerah. Berlokasi di Kota Kendari, museum ini menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan kebutuhan pendidikan dan wisata budaya masa kini.
Museum Provinsi Sulawesi Tenggara resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 001/O/1991 tanggal 9 Januari 1991 dan berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan.
La Uddin mengakui, museum masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dari sisi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, koleksi seni, dan kebudayaan.
Museum Sultra mengusung visi sebagai wahana penelitian, pendidikan, dan wisata budaya. Adapun misinya meliputi pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan khazanah budaya daerah, memperkuat kelembagaan serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum, hingga pengembangan sarana, prasarana, dan sistem teknologi informasi permuseuman serta kebudayaan.
“Ketika orang-orang berdatangan ke Sultra, yang menjadi acuan utama adalah museum untuk mengetahui budaya yang terkandung di daerah ini. Apalagi, wilayah ini terdiri dari daratan dan kepulauan,” imbuhnya.
Ia menegaskan, Museum Sultra merupakan miniatur kebudayaan Sulawesi Tenggara yang mencerminkan keberagaman etnis di daerah. Karena itu, museum tidak hanya menjadi tempat belajar bagi pelajar, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat umum maupun wisatawan, termasuk turis mancanegara.
“Para turis sangat tertarik dengan kelima etnis yang cukup besar, dimulai dari adat Tolaki Mekongga, adat Konawe, adat Moronene, adat Buton, dan adat Muna. Inilah yang perlu kita tonjolkan kepada mereka,” jelasnya.
Museum Sultra memiliki 24 bagian pameran yang merepresentasikan kekayaan budaya dan sejarah daerah. Di antaranya koleksi pakaian pesta (Kinawo), gelang kerang (Langge Nggare), lampu Padamara, wadah sirih pinang (Gambi), usaka atau lesung sirih, gantungan periuk (Baeta), tanda pengenal status sosial, kapal sepatu corong, hingga mata uang Kerajaan Buton. (B/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno
Editor: Muhamad Taslim Dalma









