5 September 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

27 Tahun Mengayuh Becak di Kendari: Pria Asal Muna Ini Kadang Pulang Tanpa Penghasilan

  • Bagikan
27 Tahun Mengayuh Becak di Kendari: Pria Asal Muna Ini Kadang Pulang Tanpa Penghasilan
Thomas mengayuh becaknya menyusuri jalanan di wilayah Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari. (Dok. SultraTop)

SULTRATOP.COM, KENDARI – Di tengah bisingnya deru mesin kendaraan modern dan maraknya ojek berbasis aplikasi di Kota Kendari, Thomas (51) tetap setia mengayuh becak sewaannya. Meski tak jarang harus pulang tanpa membawa satu rupiah pun, pria paruh baya ini memilih terus bertahan demi menyambung hidup usai 27 tahun menggantungkan nasib di jalanan.

Setiap hari, sejak pukul 07.00 Wita, Thomas mulai mengayuh becaknya menyusuri jalanan di beberapa kelurahan di Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ia senantiasa berharap ada penumpang yang mau menggunakan jasanya.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Namun, harapan itu tak selalu berbuah manis. Hingga berjam-jam berada di jalanan, tak jarang tak seorang pun penumpang datang menghampiri. Pada hari-hari yang sepi, Thomas bahkan terpaksa pulang tanpa membawa penghasilan sama sekali.

Padahal, sejak pagi hingga pukul 19.00 Wita, waktunya dihabiskan di atas jok becak. Dari setiap kayuhan roda becak itulah, Thomas menggantungkan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

27 Tahun Mengayuh Becak di Kendari: Pria Asal Muna Ini Kadang Pulang Tanpa Penghasilan
Thomas sedang beristirahat di tepi jalan Bypass Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (5/9/2026) siang. (Foto: Dok. SultraTop)

“Kalau ramai bisa dapat Rp100 ribu sehari. Tapi kalau sepi, kadang tidak ada penumpang sama sekali,” kata Thomas saat ditemui SultraTop.com di kawasan Kendari Barat, Sabtu (5/9/2026) siang.

Kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika ia pertama kali menarik becak pada 1999 silam. Kala itu, becak masih menjadi salah satu moda transportasi utama warga untuk bepergian, sehingga penumpang sangat mudah ditemukan.

Kini, seiring pesatnya perkembangan transportasi berbasis aplikasi, pelanggan becak perlahan menyusut. Masyarakat kini dapat memesan kendaraan hanya melalui ponsel genggam tanpa harus mencari atau menunggu becak di pinggir jalan.

“Setelah ada ojek online, pelanggan berkurang. Orang sekarang kalau mau ke mana-mana lebih mudah pesan lewat HP,” ujarnya.

Meski demikian, Thomas memilih tidak menyerah. Becak menjadi satu-satunya pekerjaan yang terus dijalaninya selama kurang lebih 27 tahun terakhir.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sebelum menjadi penarik becak, Thomas pernah mengalami kecelakaan sepeda motor yang membuat salah satu kakinya tidak dapat berfungsi normal. Ditambah riwayat pendidikannya yang hanya menamatkan Sekolah Dasar (SD), ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan lain.

“Saya dulu kecelakaan motor, setelah itu kaki saya tidak normal lagi. Pendidikan saya juga cuma sampai SD, jadi saya pilih kerja tarik becak,” tutur Thomas.

Sehari-hari, Thomas beroperasi di sekitar Kecamatan Kendari Barat. Ia biasa mengantar warga menuju Pasar Sentral Kota Lama, pasar pelelangan ikan, hingga kawasan pelabuhan.

Untuk sekali perjalanan, ia biasanya mematok tarif sekitar Rp10 ribu per orang. Namun, jika penumpang meminta Thomas untuk menunggu, penghasilannya bisa bertambah menjadi Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.27 Tahun Mengayuh Becak di Kendari: Pria Asal Muna Ini Kadang Pulang Tanpa Penghasilan

Penghasilan yang diperolehnya pun tidak sepenuhnya dibawa pulang. Thomas menggunakan becak sewaan dan harus membayar setoran sebesar Rp10 ribu kepada pemilik becak setiap kali memperoleh penghasilan. Beruntung, pemilik becak memberi kelonggaran ketika ia tidak mendapatkan penumpang sama sekali.

“Kalau tidak dapat penumpang, pemilik becak maklumi dan tidak perlu bayar sewa. Kalau dapat, baru saya bayar Rp10 ribu per hari,” jelasnya.

Thomas merupakan perantau asal Kabupaten Muna. Di Kendari, ia tinggal menumpang di rumah seorang kenalan bersama anak kandungnya.

Meski keadaan kian menekan, Thomas belum berpikir untuk beralih profesi karena tidak memiliki keahlian lain.

“Kalau mau pindah kerja, saya juga tidak tahu mau kerja apa. Jadi selama masih bisa tarik becak, saya jalani saja. Berapa pun dapatnya, yang penting bisa untuk makan, saya sudah bersyukur,” katanya pasrah.

Sesekali, jika memiliki sedikit rezeki dan kesempatan, Thomas menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya di Muna untuk menjenguk sang ibu yang kini sudah lansia.

Di tengah lalu lalang kendaraan modern dan layanan transportasi serba instan, Thomas tetap teguh bersama becaknya. Selama tenaga masih tersisa dan tubuhnya sanggup bekerja, becak tua itu akan terus dikayuh demi memutar roda kehidupan. (A/ST)

 

Laporan: M11

Editor: Muhamad Taslim Dalma

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan