23 April 2024
Indeks

Alasan Mengapa Manusia Menciptakan Uang, Bermula dari Interaksi di Zaman Purba

  • Bagikan
Uang koin. (Gambar: Pixabay)

SULTRATOP.COM – Alasan mengapa manusia menciptakan uang berakar dari kenyataan bahwa sesungguhnya manusia tidaklah mandiri. Kodrat manusia adalah tidak bisa eksis dalam isolasi, yang artinya manusia saling membutuhkan manusia lainnya.

Pada dasarnya manusia membutuhkan hal-hal yang disediakan manusia lain, sehingga terjadi hubungan untuk saling melengkapi kebutuhan. Dalam prosesnya hubungan itu tidak ada yang gratis, tetapi melalui proses yang namanya saling tukar atau ada yang dipertukarkan. Dari sini sudah ada sedikit jawaban mengapa manusia menciptakan uang, tentu sebagai alat tukar dalam berhubungan.

Iklan Astra Honda Sultratop

Asal Usul Konsep Uang

Interaksi antarmanusia sudah terjadi sejak zaman purba. Saat itu manusia hidup di gua sebagai pemburu-pengumpul. Manusia berburu hewan dan mencari tanaman atau buah lalu membawanya kembali ke suku atau keluarga. Dengan begitu manusia sudah dapat memenuhi salah satu kebutuhannya yakni makanan.

Namun manusia juga punya kebutuhan lain. Misalnya, memiliki kebutuhan biologis untuk bereproduksi. Seorang pria manusia purba tentu membutuhkan wanita. Si wanita yang secara fisik lebih lemah membutuhkan perlindungan dan butuh seseorang untuk memberinya makanan berupa daging atau buah-buahan.

Jadi apa yang si pria purba lakukan? Maka dia secara teratur menawarkan perlindungan dan sebagian dari makanan ke salah satu wanita gua itu. Sebagai gantinya, si wanita gua memenuhi kebutuhan biologisnya dan melahirkan anak.

Manusia purba. (Gambar: Pixabay)

Ilustrasi itu cukup sederhana. Si Pria memberikan sesuatu yang dimilikinya untuk mendapatkan keinginannya. Inilah yang disebut pertukaran dan terus berkembang. “Sesuatu” dalam pertukaran dapat berupa apa saja, bisa barang dan jasa.

Konsep pertukaran yang demikian menjadi cikal bakal mengapa manusia menciptakan uang atau alat tukar. Hanya saja pada zaman itu, alat tukar belumlah begitu tampak karena semua masih sebatas kesepakatan-kesepakatan bersama untuk saling menukar sesuatu.

Terbentuk dari Sistem Barter

Seiring waktu, manusia berhenti hidup di gua yang hanya mengandalkan berburu dan mengumpulkan makanan. Manusia mulai mengenal yang namanya pertanian untuk bercocok tanam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pertanian adalah perubahan besar bagi peradaban manusia. Dengan begini, manusia akhirnya bisa mulai menetap di satu tempat dan menanam makanan sendiri. Manusia bahkan belajar menjinakkan hewan, jadi tidak perlu lagi berburu makanan.

Antarmanusia lalu membentuk masyarakat yakni sebuah kelompok yang terikat sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi, serta mengarah pada kehidupan kolektif. Keinginan manusia pun meningkat, dan tenaga kerja menjadi terspesialisasi.

Dengan begitu, beberapa orang menjadi petani, beberapa memelihara hewan, beberapa menjadi dokter, beberapa menjadi tukang cukur, beberapa menjadi nelayan, tentara, dan lainnya. Dengan kata lain, manusia mulai memilih pekerjaan mereka dan tidak lagi melakukan banyak pekerjaan berbeda-beda.

Ini adalah hal yang baik karena sangat meningkatkan produktivitas di antara orang-orang dan meningkatkan kualitas barang yang diproduksi. Nelayan menjadi sangat pandai memancing karena mereka menghabiskan sebagian besar hari mereka untuk memancing, atau si tukang kayu yang menjadi sangat pandai membuat furnitur.

Satu-satunya masalah adalah bagaimana petani mendapatkan ikan, bagaimana nelayan mendapatkan periuk, dan bagaimana tukang kayu mendapatkan ikan? Solusi sederhananya adalah mereka bertukar barang dan jasa satu sama lain secara langsung. Ini namanya sistem barter, tapi konsep mata uang masih belum ada.

Rasio tukar (berapa ikan dengan berapa periuk untuk bertukar) ditentukan berdasarkan permintaan dan penawaran di kampung tersebut. Misalnya, dalam satu tahun dengan curah hujan yang buruk, akan ada sedikit gandum yang tersedia, sehingga nelayan harus memberi lebih banyak ikan untuk mendapatkan jumlah gandum yang sama.

Sistem ini bekerja dan dominan untuk waktu yang lama dari zaman prasejarah hingga beberapa ribu tahun kemudian. Ini masih digunakan sampai sekarang di bagian dunia di mana orang kehilangan kepercayaan pada mata uang pemerintah karena hiperinflasi.

Uang Berbentuk Komoditas

Banyak masalah kebutuhan manusia dapat diselesaikan dengan menggunakan komoditas yang dikonsumsi secara luas. Komoditas yang menjadi alat tukar selalu diminati dan dapat ditukar dengan barang lain.

Misalnya, orang Romawi menggunakan garam. Garam mudah dibagi, tidak mudah rusak, dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama, jumlahnya terbatas, dan dikonsumsi secara luas oleh semua orang. Di Roma Kuno, garam harus ditambang dari bumi dan sulit didapat.

Orang akan menyimpan cadangan garam di rumah mereka untuk transaksi sehari-hari dan keadaan darurat di masa depan. Tentara Romawi sebagian dibayar dengan garam. Ini dulunya disebut “salarium” (sal berarti garam) dan merupakan asal kata “gaji”.

Tempat yang berbeda memiliki komoditas yang berbeda yang digunakan orang sebagai uang, beberapa contohnya adalah di India menggunakan sapi, di Virginia tembakau, di Carolina beras, Brazil gula, dan di Mongolia menggunakan komoditas teh.

Pada masa ini, apa saja bisa menjadi “uang” atau alat tukar selama cukup banyak orang menerimanya sebagai ganti barang dan jasa mereka. Dengan menggunakan komoditas yang tahan lama menjadi sistem yang bagus, apalagi dibangun di atas sistem barter yang ada.

Namun begitu, alat tukar komoditas memiliki keterbatasan. Salah satunya, masalah penyimpanan. Beberapa bentuk uang komoditas, seperti ternak sulit disimpan di satu tempat. Mereka juga harus dipelihara (diberi makan dan diberi air) dan tidak dapat disimpan secara pasif.

Kemudian uang komoditas sulit diangkut dalam jarak jauh dan tidak diterima secara universal. Iklim yang berbeda juga mempengaruhi daya tahan komoditas dan lokasi geografis yang berbeda memiliki tingkat kelangkaan yang berbeda untuk komoditas yang berbeda.

Uang komoditas juga tidak dapat bertahan lama. Beberapa bentuk uang komoditas, seperti hewan ternak dan bahan makanan (beras, tembakau, gula, dll.), memburuk dari waktu ke waktu atau rusak oleh hama dan kehilangan nilainya.

Dengan berbagai kelemahan uang komoditas, menjadi alasan mengapa manusia menciptakan uang dalam bentuk logam seiring dengan perkembangan dalam pertambangan logam. Setelah itu, bentuk uang berkembang lagi, manusia kemudian menciptakan uang kertas. Dengan adanya uang logam dan uang kertas, manusia akhirnya mengenal konsep nilai mata uang. (===)

 

Sumber: Lifemathmoney.com



google news sultratop.com
  • Bagikan