16 June 2024
Indeks
Iklan Dispar Sultra Jelajahi Sulawesi Tenggara

Manusia Mulai Mengenal Konsep Uang, dari Logam Lalu Kertas

  • Bagikan
Uang logam dan uang kertas. (Gambar: Pixabay)

SULTRATOP.COM – Sebelum manusia mulai mengenal konsep mata uang, alat tukar yang ada masih berupa komoditas seperti garam, beras, dan tembakau. Penggunaan komoditas sebagai alat tukar terus berkembang ketika manusia mulai belajar menggali lebih dalam dan menemukan bijih logam.

Manusia menggunakan logam untuk banyak hal seperti membuat pedang dan perisai, baju besi, dan peralatan yang memiliki nilai guna. Logam secara inheren berharga karena memiliki nilai guna, sangat tahan lama, dan mudah untuk memverifikasi kemurniannya dengan melelehkannya.

Iklan Astra Honda Motor Sultratop

Akhirnya, orang mulai menggunakan logam sebagai uang. Sebagai catatan, pada masa ini uang logam hanyalah salah satu bentuk uang komoditas. Logam langka di seluruh dunia dan tidak terlalu bergantung pada iklim, sehingga dapat berterima secara universal.

Logam mulia seperti emas sangat berharga dan harus terjaga keamanannya dari pencuri. Untuk mencegah pencurian, orang menitipkan emasnya pada tukang emas. Tukang emas menerima simpanan emas dengan bayaran dan mengeluarkan I.O.U.s (singkatan dari I berutang padamu) untuk setiap berat emas.

Siapa pun yang membawa catatan IOU ke tukang emas akan mendapatkan kembali emasnya kapan pun mereka mau. Saat kepercayaan pada tukang emas tumbuh, orang akan menerima IOU sebagai pembayaran seolah-olah itu benar-benar emas (bukan kewajiban untuk memberikan emas).

IOU mendapatkan nilainya dari emas yang ada di tukang emas. Ini adalah bentuk mata uang kertas dan memiliki beberapa masalah yang sama dengan mata uang kertas saat ini yakni penurunan nilai.

Namun masalah muncul ketika ada yang mulai membuat I.O.U.s palsu tanpa dukungan simpanan emas di lemari besi tukang emas. Kadang juga tukang emas menghilang dalam semalam bersama dengan semua emas di lemari besi mereka. Akibatnya pemegang IOU hanya memegang kertas-kertas yang tidak berharga lagi.

Sementara masalah dengan uang logam adalah penipu akan menipu publik baik dalam kemurnian maupun berat. Penipu akan mencampur logam mulia dengan logam yang kurang mulia dan menganggapnya murni.

Pemerintah pada masa itu (raja atau kaisar) memutuskan sendiri untuk menyelesaikan masalah ini dengan mengambil alih pencetakan uang logam. Sang raja membuat koin dan mencapnya dengan lambang raja atau simbol lain.

Lambang tersebut menjamin berat dan kemurnian logam koin itu, serta jadi penentu nilai mata uang. Pada masa peredaran uang dari sang raja inilah manusia mulai mengenal konsep uang sebagai alat tukar resmi.

Hal ini meningkatkan kepercayaan dan membantu meningkatkan perdagangan di masyarakat. Satu-satunya masalah adalah itu terlalu terpusat kepada raja. Otoritas pusat atau sang raja tidak adil dan akan menurunkan nilai mata uang kapan pun mereka membutuhkan uang (ini adalah masalah universal dengan uang terpusat).

Misalnya raja berperang dan kalah. Perang itu mahal dan tidak memiliki harta rampasan. Raja masih perlu membayar prajurit 1.000 koin emas.

Namun ketika dia memeriksa perbendaharaannya dan menemukan bahwa hanya memiliki 800 koin emas. Jadi apa yang dia lakukan? Dia mencairkan 800 koin emas, menambahkan 200 koin tembaga leleh, dan menggunakannya untuk mencetak 1.000 koin “emas” untuk membayar tentaranya. Dengan cara ini, jumlah uang beredar terus meningkat, dan nilai logam mulia dalam koin terus turun.

Manusia Mengenal Uang Kertas

Bangsa Cina menjadi bangsa pertama di dunia yang menemukan uang kertas. Saat itu di Cina, mata uang resmi pemerintah memiliki koin tembaga yang berlubang persegi. Bentuk uang logam ini membuat orang dapat merangkainya dengan tali.

Uang koin Cina yang di tengahnya berlubang. (Foto: Pixabay)

Namun, pedagang kaya merasa sulit untuk menggunakan untaian koin yang berat ini, terutama untuk transaksi besar sehingga mereka akan menitipkan koin mereka pada agen tepercaya. Sang agen akan mencatat saldo mereka di buku besar dan menerbitkan surat promes kertas sebagai pengganti mata uang.

Ketika pemegang terakhir surat promes mengembalikannya ke agen maka sang agen tersebut akan mengembalikan koin kepada orang tersebut. Dalam konsep ini, uang kertas memberikan banyak kemudahan, di antaranya dalam penyimpanan, distribusi, pembagian menjadi unit-unit kecil, dan tidak mudah rusak.

Akhirnya, kaisar Cina pada masa itu menyadari keuntungan ekonomi dari memiliki mata uang kertas. Sang kaisar pun mengeluarkan standar mata uang kertas nasional yang didukung oleh emas atau perak. Uang kertas itu memiliki prasasti yang menyatakan nilainya dan peringatan bahwa pemalsuan bisa mendapat hukuman mati.

Mata uang ini adalah alat pembayaran yang sah. Maksudnya adalah segala sesuatu yang diakui oleh undang-undang sebagai sarana untuk menyelesaikan utang publik atau swasta atau memenuhi kewajiban keuangan, termasuk pembayaran pajak, kontrak, dan denda atau ganti rugi yang sah.

Sekali lagi, masalah berulang dari mata uang terpusat mulai ketika mereka mencetaknya terlalu banyak. Setiap kali negara membutuhkan uang, mereka akan mencetak lebih banyak mata uang. Akhirnya, ini menyebabkan kelebihan pasokan dan hiperinflasi. Mata uang menjadi tidak berharga.

Akibatnya, Cina menghentikan penggunaan mata uang kertas pada tahun 1455 Masehi. Orang Cina tidak akan mengadopsi mata uang kertas lagi selama ratusan tahun kemudian. (===)

 

Sumber: Lifemathmoney.com

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL KAMI

  • Bagikan