SULTRATOP.COM, KENDARI – Sejumlah kasus dengan gejala campak ditemukan di Kota Kendari. Campak adalah infeksi virus sangat menular pada saluran pernapasan yang disebabkan virus dari keluarga Paramyxovirus.
Pada fase awal, gejalanya mirip flu seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah atau berair. Tanda khasnya adalah munculnya bintik putih kecil di bagian dalam mulut atau pipi sebelum ruam menyebar ke tubuh.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit yang mudah menyebar tersebut, terutama pada anak-anak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Ellfi, mengatakan pihaknya telah mengingatkan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) untuk memperkuat deteksi dini serta pelaporan kasus secara cepat guna memutus mata rantai penularan campak.
Menurutnya, kewaspadaan yang dibangun saat ini difokuskan pada sistem pelaporan yang memungkinkan pembaruan data secara real time dari fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kewaspadaan yang kami bangun itu ada pada sistem pelaporan yang memang memungkinkan untuk kita mengupdate datanya secara real time,” kata Ellfi kepada Sultratop, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, seluruh rumah sakit dan puskesmas di Kota Kendari telah melaporkan temuan kasus melalui sistem yang ada. Hanya saja, Rumah Sakit PMI dan Rumah Sakit Tiara belum melaporkan secara rutin karena keduanya baru dijadwalkan dapat melakukan pelaporan mingguan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons pada 2027.
Ellfi menuturkan, jika ditemukan anak dengan gejala yang mengarah pada campak namun belum terkonfirmasi secara medis, pihaknya akan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memutus potensi penularan sejak dini.
“Kalau ada anak-anak yang dicurigai menderita campak meskipun secara diagnosis belum positif, kami akan melakukan penyelidikan epidemiologi agar penularannya bisa segera diputus,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemeriksaan akan dilakukan terhadap pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan demam, khususnya pada anak usia nol hingga 12 tahun. Meski demikian, kasus serupa juga masih ditemukan pada orang dewasa.
“Jika ada pasien dengan keluhan demam yang mengarah ke campak, kami akan mengambil sampel untuk menelusuri status imunisasinya,” jelasnya.
Ellfi juga mengingatkan masyarakat agar segera melakukan isolasi mandiri jika mengalami gejala yang menyerupai campak. Hal ini penting karena penyakit tersebut dapat menular dengan sangat cepat, baik melalui percikan air liur saat batuk atau bersin, percakapan, maupun melalui benda yang telah terkontaminasi.
Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi menjadi kunci utama dalam mencegah penularan campak. Imunisasi perlu dilakukan sejak bayi hingga anak memasuki usia balita dan masa sekolah dasar.
“Kalau sudah ada indikasi yang mengarah ke campak, kami menyarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan apakah benar positif atau tidak,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pasien yang diduga terinfeksi campak disarankan untuk sementara waktu tidak melakukan kontak dengan orang lain, serta tidak menggunakan bersama pakaian, handuk, atau barang pribadi lainnya.
Ellfi mengungkapkan, pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kasus campak di Kota Kendari masih terbatas. Saat ini, Dinkes masih mengandalkan Laboratorium Surabaya untuk membantu proses identifikasi diagnosis pasien.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah temuan kasus dengan gejala campak di Kota Kendari dari tahun ke tahun bervariasi.
- Pada 2024 tercatat 98 orang mengalami gejala campak, dengan 46 di antaranya terkonfirmasi positif.
- Pada 2025, jumlah kasus gejala campak menurun menjadi 63 orang, dengan 12 kasus dinyatakan positif.
- Sementara pada 2026, sejauh ini ditemukan 22 orang dengan gejala campak, namun masih menunggu hasil konfirmasi dari Laboratorium Surabaya.
“Alhamdulillah masih bisa tertangani karena sistem kekebalan tubuh yang baik. Tapi sampai hari ini kami masih menemukan persoalan campak karena sebagian orang tua belum menyambut baik program imunisasi,” ujarnya.
Ia pun mengimbau warga Kendari untuk lebih aktif mencari informasi terkait kesehatan, khususnya mengenai jadwal imunisasi anak sesuai usia. Ellfi menegaskan bahwa layanan imunisasi tersedia secara gratis melalui posyandu yang tersebar di setiap kelurahan hingga tingkat RW.
“Semua posyandu sudah tersedia dan pelayanannya gratis, jadi masyarakat tidak perlu khawatir dengan biaya imunisasi,” pungkasnya. (A/ST)
Laporan: Bambang Sutrisno













