23 October 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Kisah Ibnu Hajar, Petani Konawe Utara yang Panen 110 Kg Cabai Berkat Program ANTAM

  • Bagikan
Kisah Ibnu Hajar, Petani Konawe Utara yang Panen 110 Kg Cabai Berkat Program ANTAM
Budi daya cabai merah di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kebun ini didukung Program Mandiri Pangan PT ANTAM (Persero) Tbk UBPN Konawe Utara (Konut).

SULTRATOP.COM, KONAWE UTARA – Berawal dari kebun sayur di pekarangan rumah, Ibnu Hajar kini berhasil mengembangkan budi daya cabai merah di lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Melalui ketekunan belajar dan pendampingan Program Mandiri Pangan PT ANTAM (Persero) Tbk UBPN Konawe Utara (Konut), ia berhasil memanen sekitar 110 kilogram cabai dari empat kali panen hingga 20 Oktober 2026, sekaligus membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan membangun usaha pertanian yang mandiri.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Oktober 2026

Perkembangan ini menjadi gambaran bagaimana pendampingan pertanian dan dukungan sarana produksi dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi usaha tani secara mandiri.

Sebelum mengembangkan lahan yang lebih luas, Ibnu telah memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam berbagai komoditas sayuran. Hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat sekitar.

Sebuah bale-bale bambu di bawah rindangnya pepohonan dekat rumahnya menjadi tempat warga, termasuk ibu rumah tangga dan pengelola katering, membeli sayuran segar hasil budi dayanya.

Pengalaman tersebut mendorong Ibnu mengembangkan usahanya. Ia membuka lahan dengan kontur cukup curam, sekitar 45 derajat, untuk ditanami cabai merah keriting varietas Laba F1 dan cabai merah besar.

Di lahan itu, ia menyiapkan sekitar 1.700 lubang tanam. Dalam prosesnya, sekitar 20 tanaman mati akibat cuaca panas dan kemarau.

Bagi Ibnu, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Sebelum mengikuti Program Mandiri Pangan, ia pernah menanam cabai di lahan yang lebih luas, tetapi hasilnya belum optimal.

Keterbatasan pengetahuan tentang penanganan hama dan penyakit serta pemenuhan nutrisi tanaman menjadi kendalanya.

Melalui pendampingan Program Mandiri Pangan, ia mempelajari teknik budi daya yang lebih baik, bertukar pengalaman dengan sesama peserta, dan menerapkannya langsung. Pengalaman sebelumnya menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki penanaman berikutnya.

“Jangan langsung melihat dari hasil, jangan tanya hasil panennya, coba tanya prosesnya, mulai dari cabai yang gagal terkena hama dan lain-lain. Kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya, padahal ada proses yang dilalui. Menurut saya, yang dibutuhkan itu ketekunan dan kesabaran, mba..,” ungkap Ibnu pada pendamping program.

Selain peningkatan kapasitas, kultivator yang diberikan ANTAM kepada Ibnu bersama kelompok taninya turut membantu pengolahan lahan. Pada lahan yang curam, pengolahan tanah secara manual membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Ibnu menjelaskan, pengolahan lahan seluas 50 x 30 meter yang sebelumnya memerlukan sekitar 7–10 hari dengan tenaga manual, kini dapat diselesaikan dalam sekitar dua hari dengan kultivator, dilanjutkan pembuatan bedengan.

“Kalau menggunakan tenaga manual, kami harus mencangkul dalam dan membutuhkan beberapa orang. Biayanya juga cukup besar karena harus membayar tenaga kerja harian. Setelah ada kultivator, pekerjaan menjadi lebih cepat dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanyak sebelumnya. Saya bisa mengerjakannya sendiri dengan bantuan mesin, sehingga biaya pengolahan lahan juga lebih ringan,” jelasnya.

Setelah lahan dibuka, budi daya dilanjutkan dengan penggemburan tanah, pembuatan bedengan dan saluran drainase, pemupukan awal, serta pemasangan mulsa.

Kondisi lahan yang curam menjadi tantangan tersendiri dalam menyiapkan bedengan dan mengatur kebutuhan air. Untuk mengatasi keterbatasan akses air di bagian atas lahan, Ibnu memanfaatkan air sungai di dekat lahan dengan bantuan selang.

Perjalanan tersebut kini menunjukkan hasil yang terukur. Hingga panen keempat pada 20 Oktober 2026, budi daya cabai Ibnu telah menghasilkan total sekitar 110 kilogram dari empat kali panen.

Rinciannya, 6 kilogram pada panen pertama, 25 kilogram pada panen kedua, 40 kilogram pada panen ketiga, dan 39 kilogram pada panen keempat. Sejak pembukaan lahan hingga panen pertama, prosesnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.

Dari sisi pemasaran, hasil panen telah memiliki pembeli. Sebagian dipesan oleh katering perusahaan sekitar, sedangkan sisanya dipasarkan melalui pedagang dan pembeli langsung.

Cabai Ibnu juga menarik pembeli dari luar Desa Mowundo, termasuk wilayah Asera dan Lasolo.

Menurut Ibnu, peluang pasar terlihat dari tingginya permintaan cabai dan sayuran yang belum seluruhnya dapat dipenuhi produsen lokal. Ia mengamati kebutuhan konsumen, termasuk rumah makan di wilayah sekitar, masih terbuka lebar.

Informasi hasil panen yang dibagikan keluarganya melalui WhatsApp turut memperluas jangkauan pemasaran dan mendatangkan pembeli baru.

“Selama saya mengamati, kebutuhan konsumen masih lebih besar dibandingkan kemampuan produsen untuk memenuhinya. Saya optimistis, selama masyarakat mendapatkan edukasi pertanian dan mau belajar, peluang ini bisa dikembangkan,” tuturnya.

Ke depan, Ibnu berharap pendampingan Program Mandiri Pangan dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan belajar dan mengembangkan usaha pertanian.

Ia bercita-cita menjadikan Desa Mowundo sebagai salah satu sentra produksi pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe. Ia juga bersedia berbagi pengetahuan dengan masyarakat lain yang ingin belajar bertani, termasuk mereka yang belum tergabung dalam program.

Bagi Ibnu, hasil panen saat ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses panjang untuk terus belajar, memperbaiki cara budi daya, dan memperluas manfaat pertanian bagi lingkungan sekitarnya.

Melalui Program Mandiri Pangan, ANTAM mendukung upaya masyarakat memanfaatkan potensi pertanian secara produktif, mulai dari pekarangan rumah hingga lahan yang lebih luas.

Pengalaman Ibnu memperlihatkan bahwa dukungan sarana dapat membantu mengatasi kendala teknis, sementara pengetahuan dan ketekunan petani menjadi kunci pengembangan usaha secara mandiri.

Southeast Sulawesi Region, CSR ER Sub Division Head PT ANTAM Tbk, Muhammad Rusdan, menyampaikan apresiasi atas upaya Ibnu Hajar bersama kelompok taninya dalam mengembangkan usaha pertanian melalui ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.

Kisah Ibnu Hajar, Petani Konawe Utara yang Panen 110 Kg Cabai Berkat Program ANTAM

Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh dukungan sarana, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengembangkan pengetahuan dan mengelola potensi lokal secara mandiri.

“ANTAM hadir sebagai pendukung melalui penyediaan sarana dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan usahanya. Kami berharap semangat Pak Ibnu dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk terus belajar, mengembangkan potensi pertanian, dan membangun kemandirian,” ujar Muhammad Rusdan.

Ia menambahkan bahwa ANTAM berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas petani dan kelompok tani melalui pendampingan berkelanjutan, sehingga manfaat Program Mandiri Pangan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Kami berharap Desa Mowundo dapat berkembang menjadi salah satu sentra pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe. Lebih dari itu, kami ingin masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan serta mampu mengembangkan potensi pertanian lokal secara produktif dan berkelanjutan,” tutupnya. (Adv)

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan