25 September 2026
Indeks
Banner AMSI Sultratop.com

Hilirisasi Nikel Menguat, BPS Soroti Dampaknya bagi Kesejahteraan Masyarakat Sultra

  • Bagikan
Hilirisasi Nikel Menguat, BPS Soroti Dampaknya bagi Kesejahteraan Masyarakat Sultra
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Hadi Susanto, saat membuka kegiatan peringatan Hari Statistik Nasional 2026 dengan tema "Membangun Literasi Statistik untuk Memahami Kondisi Sosial Ekonomi Sulawesi Tenggara" di Kantor BPS Sultra, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kendari, Jumat (25/9/2026).

SULTRATOP.COM, KENDARI — Hilirisasi nikel dan pengembangan industri logam menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun, besarnya investasi dan aktivitas industri belum cukup untuk mengukur keberhasilan pembangunan jika manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Hadi Susanto, mengatakan Sultra memiliki potensi ekonomi besar yang ditopang berbagai aktivitas ekonomi, investasi, pengembangan industri, hingga hilirisasi.

Iklan Sultratop Astra Honda Motor Agustus 2026

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup dilihat dari tingginya pertumbuhan, besarnya investasi, atau berkembangnya aktivitas industri. Dampak terhadap masyarakat, terutama dari sisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan, juga perlu diperhatikan.

“Ketika investasi dan hilirisasi berkembang, sejauh mana masyarakat Sulawesi Tenggara akan memperoleh manfaatnya?” kata Hadi saat membuka kegiatan peringatan Hari Statistik Nasional 2026 dengan tema “Membangun Literasi Statistik untuk Memahami Kondisi Sosial Ekonomi Sulawesi Tenggara” di Kantor BPS Sultra, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kendari, Jumat (25/9/2026).

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat dampak tersebut adalah ketenagakerjaan. Data BPS menunjukkan sekitar 1,4 juta penduduk Sultra bekerja pada Mei 2026.

Dalam periode Februari hingga Mei 2026, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi termasuk lapangan usaha yang mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja terbesar.

Di sisi lain, jumlah pekerja formal meningkat dari sekitar 534 ribu orang pada Februari menjadi 567 ribu orang pada Mei 2026.

Namun, peningkatan jumlah pekerja belum otomatis menunjukkan bahwa seluruh masyarakat memperoleh pekerjaan yang berkualitas.

Ukuran lain untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat lebih luas adalah kemiskinan. BPS mencatat persentase penduduk miskin Sultra pada Maret 2026 sebesar 10,02 persen, atau sekitar 293,4 ribu orang. Angka tersebut turun dibandingkan September 2025.

Namun, kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih terlihat. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 12,83 persen, sedangkan di perkotaan 6,17 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi, investasi, hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan merupakan indikator yang perlu dibaca secara bersamaan.

Karena itu, Hadi menekankan pentingnya membaca berbagai indikator secara utuh agar pembangunan ekonomi Sultra tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menciptakan pekerjaan yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan literasi statistik yang baik, kita dapat memahami informasi secara lebih tepat, melihat data dalam konteks yang benar, serta menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan angka dan indikator statistik,” ujarnya.

Data ketenagakerjaan dan kemiskinan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca dampak pembangunan Sultra di tengah ekspansi investasi, pertambangan, dan hilirisasi nikel.

Statistisi Ahli Muda BPS Sultra, Mulyadi, mengatakan kualitas ketenagakerjaan perlu dilihat melalui sejumlah indikator, mulai dari status pekerjaan, pendidikan, jam kerja hingga karakteristik formal dan informal.

Berdasarkan Sakernas Mei 2026, sekitar 36,50 persen pekerja di Sultra berstatus buruh, karyawan, atau pegawai, sedangkan 26,85 persen berusaha sendiri.

Jika diklasifikasikan berdasarkan status pekerjaan, pekerja formal mencapai sekitar 40,48 persen.

“Jadi, kita tidak hanya melihat berapa banyak tenaga kerja yang terserap, tetapi juga bagaimana kualitas pekerjaan tersebut,” ujar Mulyadi.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 34,32 persen, disusul perdagangan dan administrasi pemerintahan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertambangan dan hilirisasi belum dapat dibaca hanya dari besarnya aktivitas industri. Struktur pekerjaan masyarakat Sultra masih didominasi sektor-sektor lain.

Tantangan lainnya terlihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja. Pada Mei 2026, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Sultra tercatat 69,23 persen, dengan TPAK laki-laki mencapai 84,41 persen dan perempuan 53,66 persen.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sultra meningkat dari 3,25 persen pada Februari menjadi 3,47 persen pada Mei 2026. Artinya, sekitar tiga hingga empat dari setiap 100 orang angkatan kerja di Sultra masuk kategori pengangguran terbuka.

TPT perempuan tercatat lebih tinggi dibandingkan laki-laki, masing-masing 4,31 persen dan 2,95 persen. Berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran di perkotaan juga lebih tinggi dibandingkan perdesaan. BPS mencatat kelompok dengan TPT tertinggi berasal dari lulusan SMK. (A/ST)

Laporan: M11
Editor: Jumriati

Follow WhatsApp Channel Sultratop untuk update berita pilihan
Jadikan Sultratop.com sumber preferensi berita Anda.
Sumber Terverifikasi Kelola Preferensi →
  • Bagikan